Adat Basandi Syarak, Antara Nilai dan Realita
Oleh : Andika Putra Wardana, Mahasiswa Universitas Andalas
Minangkabau merupakan masyarakat yang sangat memegang teguh adat istiadat. Salah satu falsafah hidup yang utama adalah "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" yang artinya adat harus bertumpu pada agama, dan agama bertumpu pada kitab suci (Al-Quran). Filosofi ini merupakan pedoman hidup yang membentuk karakter masyarakat Minangkabau.
Namun dalam realitas modern, filosofi ini kerap diuji. Menurut Buya Hamka, seorang ulama dan budayawan ternama, “Adat Minangkabau tidak hanya mengatur hubungan antar manusia, tetapi juga membentuk sikap moral dan spiritual” (Adat Minangkabau dan Islam). Seiring dengan perkembangan zaman dan tantangan globalisasi, muncul pertanyaan, sejauh mana filosofi ini masih relevan? Dan bagaimana masyarakat Minangkabau menjaga keseimbangan antara nilai-nilai tradisional dengan realitas kehidupan saat ini?
Filosofi “Adat Basandi Syarak” mengandung nilai kerukunan yang mengutamakan keharmonisan hubungan antara adat dan agama sebagai pilar kehidupan. Selain itu, filosofi ini juga mendorong kehidupan bersama yang erat, dimana setiap individu mempunyai tanggung jawab terhadap keluarga dan masyarakatnya. Adat ini juga mengedepankan keadilan sosial dalam berbagai aspek, baik dalam pembagian peran, hak, maupun penyelesaian masalah, menjaga stabilitas sosial masyarakat Minangkabau khususnya di pedesaan.
Di tengah globalisasi, masyarakat Minangkabau menghadapi beberapa tantangan besar yang terkadang menyulitkan penerapan nilai-nilai tradisional. Perubahan sosial dan ekonomi membuat banyak masyarakat Minangkabau merantau dan meninggalkan kampung halamannya, sehingga menjauhkan generasi muda dari nilai-nilai tradisional yang mungkin kurang dikenal. Teknologi dan media sosial juga berperan dalam mengubah gaya hidup generasi muda, sehingga budaya global yang praktis dan modern seringkali dianggap lebih menarik dibandingkan nilai-nilai tradisional. Selain itu, struktur keluarga besar yang tadinya besar kini mulai tergantikan dengan keluarga inti yang lebih mandiri sehingga mengurangi peran ninik mamak dalam mendidik generasi muda.
Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, masyarakat Minangkabau tetap berusaha mempertahankan filosofi “ Adat Basandi Syarak”. Salah satu caranya adalah dengan memberikan pendidikan tradisional di sekolah atau melalui kegiatan di masjid, agar generasi muda lebih memahami dan menghayati nilai-nilai tradisional. Selain itu, ninik mamak berperan aktif dalam berbagai kegiatan adat, seperti pernikahan dan upacara lainnya, untuk memastikan nilai-nilai adat tetap hidup dan diwariskan. Masyarakat Minangkabau juga mulai mencari cara untuk menyesuaikan adat istiadatnya dengan kehidupan modern tanpa kehilangan makna filosofisnya, termasuk dengan menyederhanakan beberapa upacara adat.