AMJ: Bukan Sekadar Organisasi, Tapi Ruang Bersama Pelaku Informasi Bengkulu
JurnalBengkulu.com, Bengkulu – Asosiasi Media dan Jurnalis (AMJ) menegaskan diri sebagai rumah bersama bagi pelaku media siber, jurnalis profesional, hingga konten kreator dan influencer di Provinsi Bengkulu. Organisasi ini dibentuk bukan untuk satu kelompok tertentu, melainkan untuk merangkul seluruh elemen yang bergerak di bidang informasi dan komunikasi publik.
Sejak dideklarasikan, AMJ tercatat telah menghimpun lebih dari 105 media online, ratusan jurnalis, serta puluhan konten kreator yang tersebar di seluruh kabupaten/kota se-Provinsi Bengkulu. Komposisi tersebut mencerminkan luasnya spektrum yang diwadahi, mulai dari pemilik media, redaktur, reporter, hingga pegiat konten digital lintas platform.
Dalam dokumen kegiatan, AMJ disebut sebagai wadah berhimpun bagi penggiat media sosial berbagai platform, media siber, serta para jurnalis. Ketiga elemen ini diposisikan setara dalam satu ruang kolaborasi, dengan tetap menghormati peran dan karakter masing-masing.
Ketua AMJ periode pertama, Wibowo Susilo, SE, menegaskan bahwa pintu organisasi ini terbuka bagi siapa saja yang bergerak di bidang informasi dan memiliki komitmen terhadap etika serta tanggung jawab publik.
“Kami sadar ekosistem informasi hari ini tidak hanya diisi oleh media konvensional. Ada jurnalis, ada pengelola media online, ada juga konten kreator yang punya pengaruh besar di masyarakat. Semua punya peran. AMJ ingin menjadi ruang bersama, bukan sekat,” ujar Wibowo.
Menurutnya, keberagaman latar belakang justru menjadi kekuatan utama AMJ. Ia menilai media membutuhkan distribusi yang luas, sementara kreator digital membutuhkan pemahaman lebih dalam terkait akurasi, verifikasi, dan tanggung jawab informasi.
“Kalau berjalan sendiri-sendiri, seringkali ada jarak. Di AMJ, kita ingin membangun jembatan. Yang kuat di konten belajar soal etika jurnalistik, yang kuat di redaksi belajar soal dinamika digital. Ini soal saling melengkapi,” lanjut Wibowo Susilo.
AMJ juga membuka ruang bagi pimpinan organisasi pers, pengelola platform berita daring, hingga komunitas kreatif yang aktif memproduksi informasi publik. Pendekatan inklusif ini dipilih agar organisasi tidak bersifat eksklusif, tetapi adaptif terhadap perkembangan zaman dan perubahan lanskap media.
Meski terbuka, AMJ tetap menekankan pentingnya profesionalisme dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Setiap anggota diharapkan memahami batas antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab publik, terutama di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap memicu disinformasi.
Dengan komposisi lintas profesi tersebut, AMJ menempatkan diri sebagai simpul kolaborasi dengan Bengkulu sebagai pijakan awal. Organisasi ini ingin memastikan bahwa siapa pun yang bergerak di bidang media dan informasi memiliki ruang untuk berhimpun, berdiskusi, serta tumbuh bersama dalam ekosistem yang sehat, inklusif, dan beretika.