Bakau Adat
Oleh : Serly Oktavia, Mahasiswa Universitas Andalas
Bakaua Adat adalah tradisi tolak bala dan acara menentukan waktu turun ke sawah (masa tanam) secara serentak sekaligus wujud syukur masyarakat atas limpahan rezeki dari hasil panen. Bakaua Adat dilakukan oleh masyarakat Nagari Sijunjung, Sumatera Barat, sebagai ungkapan rasa syukur atas berkat dan karunia dari Allah SWT atas hasil panen yang melimpah. Acara ini melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk Ninik Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai, Bundo Kanduang, dan Bupati Sijunjung, serta OPD yang ada di Pemerintahan Kabupaten Sijunjung. Bakaua Adat juga berfungsi untuk menjalin silaturahmi dan kekompakan masyarakat dalam menngarap pertanian sawah khususnya.
Masyarakat Sijunjung mempersiapkan ritual Bakaua Adat dengan beberapa langkah berikut:
1. Penentuan Hari: Masyarakat berunding untuk menentukan hari yang tepat untuk melaksanakan ritual ini.
2. Persiapan: Mereka membuat undangan, melakukan gotong-royong, dan mempersiapkan acara malam jago-jago.
3. Malam Jago-Jago: Acara ini dilakukan pada malam sebelum ritual Bakaua Adat, di mana masyarakat menampilkan atraksi seni anak nagari.
4. Sembelih Kerbau: Mereka menyembelih kerbau sebagai bentuk jamuan dan untuk menandai dimulainya ritual Bakaua Adat.
5. Acara Hiburan: Masyarakat menampilkan berbagai atraksi seni dan budaya Minangkabau.
6. Penutup: Ritual ini ditutup dengan acara makan bersama, yang dikenal sebagai "Makan Bajamba".
Dengan demikian, ritual Bakaua Adat di Sijunjung menjadi acara yang penuh dengan syukuran, silaturahmi, dan kekompakan masyarakat dalam memulai kegiatan pertanian.