Bakaua Adat Nagari Sijunjuang
Oleh :
Nama: Avina Amanda, Mahasiswa Universitas Andalas
Nim :2310742030
Tradisi Bakaua Adat di Nagari Sijunjung merupakan ungkapan rasa syukur yang mendalam dari masyarakat atas berkat dan karunia yang diberikan Allah SWT atas hasil panen yang melimpah. Tradisi ini mencerminkan rasa syukur dan penghormatan kepada Sang Pencipta, sekaligus mempererat ikatan sosial di antara warga nagari.Bakaua di Nagari Sijunjung dilaksanakan setelah panen, tepatnya setiap hari Senin setelah sholat dzuhur dan sebelum waktu Maghrib tiba. Tradisi ini tidak hanya sebagai bentuk syukur, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat ikatan sosial dan mempererat hubungan antar warga.Tradisi Bakaua juga menunjukkan betapa kuatnya ikatan antara masyarakat Minangkabau dengan alam. Mereka sangat menghargai hasil bumi yang mereka peroleh dan selalu mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas berkah tersebut. Dalam tradisi Bakaua, terlihat jelas bahwa hasil panen bukan hanya dipandang sebagai hasil kerja keras manusia.
Bakaua adat di nagari sijunjung tepatnya di perkampungan adat nagari sijunjung,dilakukan setiap tahun,sesudah panen padi,yang di laksanakan di”Tobek Gadang”.Bakaua di nagari sijunjung sangat unik sekali,Dimana para ibuk-ibuk membuat “Jamba”yang di letakkan di dalam “Dulang”yang nantinya para ibuk-ibuk itu menjunjung dulang tersebut ke tobek gadang tersebut.Isi dari jamba tersebut adalah adalah makanan untuk dimakan ketika acara bakaua tersebut dilaksanakan,nah makanan tersebut adalah”daging kerbau”yang sehari sebelum bakaua tersebut para masyarakat di sana menyembelih kerbau,menyembelih kerbau adalah salah satu syarat bakau adat,Setelah daging kerbau ada juga nasi putih,lemang,yang di masak sehari sebelum bakaua dan ada juga di beri pencucian mulut seprti pisang,papaya,semangka,jeruk dan buah buahan lainnya.Disetiap daerah membawa dulang persuku masing masing lalu,di arak sampai ke tobek.Akhir dari prosesi Bakaua Adat akan dilaksanan tradisi yang tidak kalah serunya dan yang paling ditunggu oleh seluruh lapisan masyarakat yaitu ‘’Makan Bajamba’’ ( Makan Bersama ).Selain itu, juga ada acara berdoa bersama masyarakat agar selama proses bersawah berjalan lancar. Doa ini menjadi puncak dari acara. Adapun acara arak-arakan itu di ikuti oleh sembilan jorong yang rata-rata mengirimkan 60 orang per jorong. Bakaua Adat di Padang Laweh kali ini tak hanya diikuti masyarakat dan tokoh adat setempat, namun juga sejumlah pejabat daerah.
Nagari Sijunjuang Didirikan pada abad ke 15 M. Sesuai dengan ketentuan adat ada 4 tingkatan , ada yang disebut Nagari nan Can ompek.
● Taratak
● badusun
● bakoto
● banogari
Maka nagari sijunjuang ada empat kotonya:
1. Koto bukak sosoik, Datuak nyo Bandaro Sati
2. Koto Gunuang Medan, Datuak nyo Daman Tari
3. Koto Danang , Datuaknyo lubuak kayo.
4. Koto Bukik Kunik, Datuak pabating Sati
Bakaua Adat adalah warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan agar nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Tradisi ini mengingatkan kita akan pentingnya rasa syukur dan kebersamaan dalam menjaga keberlanjutan kehidupan dan kesejahteraan bersama.
Bakaua adat memiliki makna yang dalam dan kaya akan nilai-nilai filosofis. Salah satu nilai penting yang tercermin dalam tradisi ini adalah kebersamaan dan gotong royong. Melalui bakaua adat, masyarakat Sijunjung diajarkan untuk selalu bekerja sama dan saling membantu dalam segala aspek kehidupan.
Selain itu, bakaua adat juga mengajarkan tentang rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur. Masyarakat percaya bahwa leluhur memiliki peran penting dalam kehidupan mereka, sehingga perlu untuk selalu dihormati dan dijaga hubungannya melalui upacara-upacara adat.
Bakaua adat di Negeri Sijunjung merupakan warisan budaya yang sangat berharga. Tradisi ini tidak hanya memiliki nilai historis dan sosial, tetapi juga mengandung kearifan lokal yang bisa menjadi inspirasi bagi generasi masa kini. Melalui pelestarian dan promosi yang tepat, bakaua adat dapat terus hidup dan memberikan kontribusi positif bagi perkembangan budaya Indonesia.