Cepatnya Para Partai Dekatin Media Massa Saat Pemilu
Saat-saat pemilu tiba para partai yang mencalonkan diri berbondong-bondong mencari media massa sebagai salah satu jalan memperkenalkan partai mereka ke suluruh elemen masyarakat. Afiliasi partai poitik dan media massa sudah terjadi sejak dahulu, dimana saat orde lama Partai Masyumi, Partai Komunis Indonesia, dan Partai Katolik menciptakan media sebagai sarana sosialisasi poltik. Kegiatan tersebut berlaku hingga massa kini.
Afiliasi ini menyebabkan ketidaksinkronan dalam penyebaran berita, kadang juga mengaburkan kebenaran peristiwa yang diinformasikan seperti kasus lumpur Lapindo dimana salah satu televisi ternama TV One menamakan lumpur tersebut sebagai lumpur Sidoarjo dan menginformasikan bahwa masyarakat telah diberikan ganti rugi. Bertolak belakang dengan siaran yang ditayangkan oleh Metro Tv.
Media massa seperti televisi yang mempunyai audio visual sangat berpengaruh besar terhadap pemikiran masyarakat. Masyarakat kerap beropini cepat dengan apa yang mereka lihat ditayangan televisi tanpa mereka tau kebenaran dari cerita tersebut. Melihat diberbagai media massa berbeda-beda menjelaskan tentang partai yang berafiliasi dengan mereka, membuat bingung masyarakat mengenai siapa yang cocok untuk mereka pilih sebagai pemimpin mereka, sebagai penolong meraka, dan sebagai orang yang meyuarakan suara mereka.
Kebingungan masyarakat tentang siapa yang berhak menjadi pemimpin mereka, membuat beberapa masyarakat golput dan memilih secara acak. Bahkan mereka memilih partai politik yang lebih banyak disiarkan di Televisi. Memilih partai politik yang hanya melakukan pencitraan di televisi, tanpa masyarakat tau kebenarannya dan tanpa mereka pertimbangkan kedepannya. Dalam pemilu, seharusnya media massa tidak ambil andil dalam penyebaran iklan politik. Media massa yang seharusnya memberitakan fakta, kini menjadi media kampanye para partai politik.
Media massa yang menjadi media kampanye partai politik sangat bertolak belakang dengan kode etik jurnalistik pertama yang berbunyi “Wartawan Indonesia bersikap Independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.” Afiliasi ini juga dapat menurun citra seorang jurnalistik yang telah dibangun secara profesional.
Kita ketahui bahwa Jurnalistik harus bersikap independen dan bahkan jurnalistik juga harus menjadi suara masyarakat. Membantu masyarakat mengetahui suatu kebenaran, bukan malah menutup kebenaran suatu peristiwa.
Penulis : Febyolan Meysandi
Mahasiswa S1 Jurnalistik
Universitas Bengkulu