Dapur Itu Pilihan, Bukan Menjadi Batasan
Oleh : Santia Andini, Mahasiswa Universitas Bengkulu
“Ngapain sekolah tinggi-tinggi, kalo ujung-ujungnya cuma di dapur” kalimat ini sudah sering terdengar ditelinga, yang dilontarkan oleh orang-orang yang mungkin merasa bahwa menjadi ibu rumah tangga adalah satu-satunya tujuan yang benar. Apalagi bagi mereka yang tinggal di pelosok desa, mereka yang saya maksud adalah “perempuan yang tinggal di Desa”. Mungkin kalimat ini terdengar biasa bagi sebagian orang, tetapi bagi seorang perempuan kalimat ini bisa menjadi pagar yang tak kasat mata yang mampu membatasi langkah mereka.
Apakah Indonesia masih memegang pola pikir patriarki tersebut. Rasanya hal semacam ini menjadi permasalahan yang personal karena budaya ini dibentuk dari karakter seseorang. Sebenarnya masalah itu bukan datang dari dapur itu sendiri, bukan juga tentang memasak atau mengurus sebuah rumah tangga yang dimana hal itu merupakan pekerjaan yang mulia. Tetapi yang menjadi persoalan adalah ketika hal itu dianggap sebagai satu-satunya tempat yang pantas bagi seorang perempuan. Seolah ketika perempuan tidak bisa memasak, atau tidak rajin beberes rumah maka dia dianggap gagal menjadi perempuan seutuhnya.
Padahal di zaman sekarang ini, dunia kerja, politik, pendidikan, itu tidak luput dari tangan-tangan perempuan. Kita juga bisa melihat banyak perempuan yang luar biasa di di indonesia, bisa kita lihat Najwa Shihab yang seharusnya bisa menjadi contoh nyata bahwa perempuan bisa berdiri sejajar dengan laki-laki. Bahkan ketika di ruang publik yang didominasi oleh laki-laki dia mampu untuk mempertanyakan kekuasaan, mengkritik sistem, dan membela isu-isu yang mungkin kurang di perhatikan, salah satunya adalah ketidakadilan gender.
Dapur itu ruang dimana sebuah resep tercipta. Tapi kalau dipakai untuk mengurung, ia bisa menjadi penjara sunyi. Menurut data dari badan pusat statistik tahun 2023, rata-rata waktu yang dihabiskan perempuan indonesia untuk kerja domestik seperti memasak, beres-bers rumah, dan mengurus anak adalah 4,21 jam per hari sedangkan laki-laki dikisaran 1,34 jam. Bisa kita lihat bagaimana perbandingan keduanya yang menunjukkan beban yang tidak seimbang, padahal rumah itu tanggung jawab bersama.
Ketidakseimbangan ini bukanlah hanya angka semata yang berarti bahwa ada waktu, energi dan kesempatan yang hilang. Ketika perempuan secara sosial “diwajibkan” hanya untuk mengurus rumah tanpa adanya dukungan yang setara, maka pilihanya untuk bisa mengembangkan dirinya menjadi lebih sempit. Apalagi jika dia terlahir di keluarga yang menengah kebawah, dimana perempuan juga sering di tuntut bekerja sambil mengurus rumah.
Lalu soal partisipasi kerja, menurut data World Bank 2022, perempuan indonesia aktif di angkatam kerja hanya sekitar 53%, sedangkan laki-laki 82%. Artinya, ada jarak yang besar antara jumlah perempuan dan laki-laki yang bekerja. Bukan berarti perempuan tidak mampu, tetaplah seringkali mereka tidak diberi peluang lebih sehingga mereka berfikir tidak punya pilihan lain selain mengikuti kehendak orang tuanya.
Perubahan besar itu bisa dimulai dengan sebuah perubahan kecil. Ketika sedang berkumpul, mengobrol santai dengan keluarga, dari cara kita menanggapi anak perempuan yang bilang ingin menjadi bos perusahaan, jadi dokter atau bahkan jadi pemimpin negara. Sebagai masyarakat, kita perlu sadar membatasi perempuan hanya karena dia seorang perempuan adalah bentuk ketidakadilan. Bukan hanya merugikan mereka, tetapi juga bisa merugikan negara. Banyakan jika yang hilang karena seorang perempuan dipaksa diam di rumah, padahal jika di luar siapa tau dia akan menjadi seorang yang sukses. Karena itulah, penting bagi kita untuk berhenti memaksakan satu definisi tunggal tentang perempuan. Tidak semua perempuan harus bisa masak dan juga tidak semua perempuan harus kerja di luar rumah. Yang harus dimiliki setiap perempuan hanyalah kebebasan untuk memilih.