Dokumentasi Gendhing Gati Oleh Keraton Yogyakarta, Menjaga Warisan Budaya dengan Teknologj Modern
Oleh : Nadia ef, Mahasiswa FIB universitas Andalas
Keraton Yogyakarta, sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa, terus berupaya menjaga dan melestarikan kekayaan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu bentuk upaya tersebut adalah melalui dokumentasi gendhing gati, sebuah komposisi musik yang memainkan peran penting dalam tradisi keraton. Gendhing gati bukan hanya sebuah karya seni, tetapi juga sebuah simbol dari akulturasi budaya yang terjadi di Keraton Yogyakarta, menggabungkan musik gamelan Jawa dengan unsur-unsur musik Barat.
Proses dokumentasi gendhing gati yang dilakukan oleh pihak Keraton Yogyakarta melibatkan serangkaian tahapan yang dimulai dari rekaman hingga pengelolaan konten. Sebagaimana dinyatakan oleh Sudarsono dan Yudhawasthi (2016), dokumentasi terdiri dari dua kegiatan utama, yakni merekam dan mengelola. Perekaman gendhing gati dimulai dengan aransemen ulang yang mengadaptasi musik barat dan gamelan, kemudian dilanjutkan dengan mixing dan pengeditan audio. Hasil rekaman ini kemudian diunggah ke platform YouTube sebagai bagian dari upaya untuk memperkenalkan gendhing gati kepada masyarakat luas.
Sejak awal, gendhing gati hanya digunakan dalam keraton untuk mengiringi tari Bedoyo dan Srimpi. Namun, seiring berjalannya waktu, keberadaannya mulai diperkenalkan dalam acara-acara khusus seperti konser mandiri. Inisiatif ini berasal dari Kawedanan Kridhomardowo yang dipimpin oleh KPH Notonegoro, yang bertanggung jawab dalam bidang seni dan budaya di Keraton Yogyakarta. Salah satu langkah besar dalam upaya melestarikan gendhing gati adalah dengan melakukan dokumentasi secara lebih sistematis, sehingga masyarakat bisa mengakses dan memahami keindahan karya ini melalui media digital.
Gendhing gati sendiri, yang memiliki akar sejarah sejak pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, merupakan contoh nyata dari akulturasi budaya. Sebagai komposisi musik yang melibatkan gamelan dan musik Barat, gendhing gati menjadi simbol perpaduan yang memukau antara dua tradisi musik. Meskipun notasi gendhing gati tidak ditemukan secara rinci dalam literatur kuno, namun proses transkripsi dan pengembangan notasi ini telah dilakukan dengan cermat oleh para ahli musik keraton.
Proses dokumentasi dimulai dengan rekaman musik yang dilakukan oleh para abdi dalem. Sebelum rekaman, aransemen musik dilakukan untuk mengubah komposisi yang sebelumnya hanya berfokus pada gamelan, menjadi sebuah karya yang menggabungkan musik Barat. Para abdi dalem wiyaga dan musikan bekerja sama untuk mengolah dan menyinkronkan notasi, meskipun awalnya ada tantangan dalam penyesuaian antara notasi gamelan yang menggunakan sistem pentatonis dan notasi musik Barat yang menggunakan sistem diatonis.
Setelah proses aransemen dan perekaman, hasilnya kemudian disortir dan diedit untuk menghasilkan kualitas yang terbaik. Rekaman yang telah diselesaikan kemudian dipublikasikan ke platform seperti YouTube untuk meningkatkan visibilitas gendhing gati. Di samping itu, Keraton Yogyakarta juga mengelola dokumentasi ini dalam bentuk dokumen fisik dan digital, yang disimpan dan digunakan untuk pertunjukan di masa mendatang.
Selain tantangan teknis dalam menyinkronkan dua jenis notasi musik, ada juga tantangan dalam hal koordinasi antar abdi dalem. Sebagai contoh, abdi dalem musikan, yang lebih berpengalaman dalam membaca notasi gamelan, kesulitan menyesuaikan diri dengan notasi musik Barat yang diterjemahkan menjadi notasi balok. Meskipun demikian, dengan latihan yang konsisten dan dukungan dari para ahli, para abdi dalem akhirnya mampu menguasai teknik ini dan mempersembahkan gendhing gati dalam berbagai acara.
Keberhasilan dokumentasi gendhing gati tidak terlepas dari dukungan Keraton Yogyakarta yang telah menyediakan fasilitas dan dana untuk mendukung keberlanjutan seni dan budaya. Keraton juga terus berinovasi dengan memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan kekayaan budaya ini, termasuk melalui platform musik digital seperti Spotify dan iTunes. Hal ini memungkinkan karya-karya seni dari keraton untuk diakses lebih luas, tidak hanya oleh masyarakat lokal, tetapi juga oleh audiens internasional.
Namun, meskipun gendhing gati telah lebih dikenal melalui platform digital, tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana agar seni tradisional ini tetap relevan dengan perkembangan zaman. Banyak masyarakat yang belum mengenal gendhing gati, terlebih dengan pesatnya perkembangan musik modern yang lebih dikenal oleh generasi muda. Oleh karena itu, perlu ada inovasi dalam pengemasan gendhing gati agar tetap menarik bagi berbagai kalangan, tanpa mengurangi esensi dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Sebagai bagian dari upaya lebih lanjut, Keraton Yogyakarta telah merencanakan berbagai program budaya, seperti konser orkestra, pertunjukan wayang, dan program tutorial yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang seni dan budaya Jawa. Selain itu, Keraton juga mengadakan kegiatan muhibah budaya ke berbagai daerah yang dulunya merupakan wilayah teritorial Keraton Yogyakarta. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan budaya Jawa kepada masyarakat luas, serta memperkuat identitas budaya yang menjadi warisan bangsa.
Dengan terus melakukan dokumentasi dan pemeliharaan gendhing gati, Keraton Yogyakarta tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga berkontribusi dalam memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia. Ke depannya, semoga upaya ini dapat terus berkembang dan semakin banyak orang yang mengenal dan mengapresiasi keindahan musik tradisional ini. Inovasi dan kolaborasi antara tradisi dan teknologi adalah kunci dalam menjaga relevansi seni dan budaya di tengah pesatnya perkembangan zaman.