Hubungan Kerajaan Jambu Lipo dengan Kerjaan Lainnya di Minangkabau
Oleh : Viola Ramadhani, Mahasiswa Universitas Andalas
*A. Ranah Tiga Lareh Batanghari ( Malayu Kampung Dalam/Malayapura*
Raja pertama Jambu Lipo yang bergelar Tuanku Rajo Cati diangkat oleh Srimaharaja Tiga Lareh. Lokasi pusat Kerajaan Jambu Lipo saat itu berada di Kampung Jambak dan Jambu Lipo, masih di dalam alam Tigo Lareh. Tuanku Rajo Cati I dan saudara-saudaranya memiliki hubungan keluarga yang erat dengan Srimaharaja Tiga Lareh Tuanku Tiang Panjang karena keturunannya saling menikahi. Bahkan dalam tatanan Alam Tiga Lareh, Tuanku Rajo Cati I Jambu Lipo diangkat sebagai wakil Srimaharajo. Meskipun pusat kerajaan Jambu Lipo dan Melayu Kampung Dalam ( Tanah Datar/ Pagaruyuang) berjarak jauh, tapi keduanya terus menjalin hubungan yang erat.
*B. Rantau Cati nan Tigo*
Berdasarkan KSRM dan TBnP, para pemimpin Cati nan Batigo pada awalnya adalah murid-murid Niniak Cati di Kampung Jambak Jambu Lipo. Berdasarkan tutu lisan saat pusat Kerajaan telah pindah dari Batanghari ke Pagaruyuang, wilayah Cati nan Batigo mengumpulkan ameh mana ke Kerajaan Jambu Lipo lalu Raja Jambu Lipo mengantarkan sebagainya ke Daulat Raja Pagaruyuang, Ratusan tahun berlalu, pada saat generasi Raja Jambu Lipo terputus sekian tahun sebelumnya kedatangan Puti Reno Sari Janti atau Yamtuan Dungku Dangka, ameh mana dari Rantau Cati nan Tigo tidak lagi dikumpulkan ke Jambu Lipo tapi cukup ke Raja Pulau Punjug Tuanku Sati. Tuanku Sati kemudian yang mengantarkan ameh mana ke Daulat Raja Pagaruyuang.
*C. Alam Jaya Tanah Sanghyang dan Rantau XII Koto*
Alam Jaya Tanah Sanghyang awalnya adalah sebuah kerajaan federasi dan Dua Belas Koto yang tersebar mulai dari kaki Gunung Gadang ( Kerinci), Ranah Indrapura di hulu Batang Bombang ( Sungai Sangir), Lubuak Ameh, Koto Rani, Sumpu, Ranah Tanah Bidar, hingga Lubuk Ulang Aling. Berselang sekian ratus tahun, Alam Jaya Tanah Sanghyang dilanda konflik dan perang berkepanjangan sehingga hamper punah peradaban saat itu. Pada suatu masa pada episode selanjutnya, Alam Jaya Tanah Sanghyang lebih sering disebut Rantau XII Koto dan masuk dalam wilayah rantau Kerajaan Jambu Lipo. Berdasarkan tutur lisan, Rajo Ibadat Jambu Lipo yang dulu bergelar Tuang Gadang juga merupakan salah satu pembesar di Alam Jaya Tanah Sanghyang . Oleh karena itu ia menjadi perpanjangan tangan Daulat Raja Alam Pagaruyuanguntuk memungut ameh manah ke Rantau XII Koto. Hingga kini Raja Ibadat, yang di dampingi Dt Bandaro Sati dan Panglimo Rajo sebagai perwakilan Kerajaan Jambu Lipo masih mewarisi tradisi Manjalani Rantau ke Wilayah Rantau XII Koto.
*D. IX Koto Dharmasraya*
Wilayah IX Koto Dharnasraya secara adat dipimpin oleh Tiang Panjang nan Tigo: Datuak Bagindo Tan Tuah di Lubuk Karak, Datuak Bagindo Rajo Lelo di Durian Simpai dan Datuak Sampono Bumi di Silago. Wilayah ini berada antara daerah pusat kerajaan Jambu Lipo dengan daerah rantau XII Koto, karena itu Lubuk Karak disebut sebagai Kapolo Lobuah dan Ujuang Lobuah dalam menjalani rantau dari dulu hingga sekarang. Seperti halnya Wilayah Rantau XII Koto, dalam menyelesaikan masalah adat dan menobatkan pemimpin pemangku adat dan menobatkan pemimpin pemangku adat di wilayah XI Koto hingga saat ini masih dilakukan oleh Kerajaan Jambu Lipo. Hal itu dilakukan sesuai dengan aturan adat yang telah disepatkati oleh leluhur.
*E. Kubuang XIII ( Solok-Selayo)*
Berdasarkan KSRM leluhur Rajo Adat Bagindo Tan Putiah berasal dari Lantak Kubuang, Solok dan Selayo. Pada awal KSRM disebutkan Jambu Lipo tempat bertemu tiga ranah. Daulat dating dari pagaruyuang. Adat disauk dari Kubuang Tigo Bale. Syarak dibao dari Sumpur Kudus.
Saat nenek moyang Raja Adat menikah dengan DYP Jambu Lipo Puti Sari Janti ( pertengahan abad 16 Masehi ), gelar pusaka yang digunukan masih Datuak Tan Putih. Dalam tutur lisan Rajo Adat Jambu Lipo dulu juga Manjalani Rantau sepertihalnya Rajo Ibadat yang ditemani Datuak Bandaro Sati dikawal Panglimo Rajo ke Rantau XII Koto. Rajo Adat Manjalani rantau bersama Datuak Rajo Lelo dikawal Rajo Lelo dikawal Rajo Kuaso ke wilayah setelan Kubuang XIII atau dari Supayang hingga ke Lubuk Tarab sekarang.
*F. Sungai Pagu, Solok Selatan*
Kerajaan Sungai Pagu sabalun banamo Sungai Pagu dahulunyo banamo Kualo Banda Lakan. Dalam adat disabuik sebagai ikuak darek kapalo rantau, kapak radai luhak nan tigo barambun ka batang hari, batangkai ka bukit Gombak, batamouak ka jambu lipo, bakapak ka indogiri, barambai ka indopuro. Ada kata-kata Jambu Lipo yang diucapkan oleh Tuanku Rajo Disambah dalam menjelaskan Sejarah Sungai Pagu dan Kualo Banda Lakun. Hal itu menandakan ada keterkaitan antara dua kerajaan tersebut.
*G. Pulau Punjung*
Informasi tentang Kerajaan Jambu Lipo juga tercatat di dalam tambo yang di tulis oleh Alm. Bagindo Alimuddun Tuanku Sati IV sekitar tahun 1990an dengan judulnya adalah Tambo/Sejarah dan Selisih Keturunan Rajo Pulau Punjung.
*H. Sungai Kambuik dan Muaro Takung*
Berdasarkan penjelasan ahli waris Puti Bulian (Puti Nagari) dan Bagindo Malano, Sungai Kambuik memiliki Raja Perempuan. Raja pertamanya bernama Puti Ibadat yang berasal dari Kerajaan Jambu Lipo (Lubuk Tarab). Ia disebutkan anak Rajo Ibadat Jambu Lipo dan Kemenakan dari Rajo Alam Jambu Lipo.
*I. Koto Basau*
Dalam artikel yang di tulis oleh Arif dkk, 2020 di ketahui bahwa Tambo Kerajaan Koto Bosau juga mencatat tentang keberadaan Kerajaan Jambu Lipo. Dikisahkan bahwa Nenek Moyang Kerajaan Koto Bosau yang bernama Puti Langguak berjalan dari Pagaruyung Bersama rombongannya kearah selatan mencari daerah baru untuk ditinggali. Dalam perjalanan tersebut Puti Langguak dan rombongannya singgah di Jambu Lipo lalu kemudian melanjutkan perjalanan kea rah Dharmasraya.
*J. Pulau Sangkar Kerinci*
Kerajaan Jambu Lipo juga memiliki hubungan yang erat dengan Raja di Pulau Sangkar. Meskipun setelah generasi raja-raja di atas Pulau Sangkar dan Jambu Lipo mengalami dinamika yang berbeda dalam perjalanan sejarahnya namun bukti hubungan yang kuat antara kedua kerajaan ini masih dapat diliat hingga kini. Raja Alam Jambu Lipo dan Raja di Pulau Sangkar sama-sama menggunakan gelar Bagindo Tan Ameh.