Kenali Gejala dan Pengobatan Skizofrenia
Disusun oleh : Hari Setiawan, Lubis, Mahasiswa Universitas Andalas, Departemen Hubungan Internasional
Kesehatan mental adalah bagian penting dari kesejahteraan individu, dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk kondisi psikologis dan sosial. Skizofrenia, sebagai salah satu gangguan mental yang paling menantang, menciptakan perbedaan yang kabur antara realitas dan ilusi bagi penderitanya. Abstrak ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara kesehatan mental dan skizofrenia, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Gejala-gejala seperti delusi, halusinasi, dan pemikiran yang terdistorsi menjadi ciri khas skizofrenia, yang mengubah cara individu berinteraksi dengan dunia di sekitarnya. Dengan memahami lebih baik penyebab dan mekanisme skizofrenia, dapat ditemukan pendekatan pengobatan yang lebih efektif dan memberikan dukungan yang lebih baik bagi penderitanya. Selain itu, upaya untuk meningkatkan kesadaran dan mengurangi stigma terhadap gangguan mental seperti skizofrenia juga sangat penting untuk memastikan bahwa mereka mendapatkan perawatan dan dukungan yang tepat. Oleh karena itu, menjembatani kesenjangan antara realitas dan ilusi dalam konteks skizofrenia membutuhkan pendekatan holistik yang mencakup aspek medis, sosial, dan dukungan masyarakat.
Pada tahun 1908, Eugen Bleuler, seorang psikiater, memperkenalkan istilah skizofrenia yang berasal dari bahasa Yunani "schizen" yang berarti membelah, dan "phren" yang berarti akal pikiran. Istilah ini menggambarkan karakteristik utama gangguan ini, yaitu adanya perpecahan atau disintegrasi antara pikiran, perasaan, dan perilaku.
Skizofrenia adalah gangguan mental yang kompleks dan serius yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan seseorang. Penderita skizofrenia sering mengalami delusi, yaitu keyakinan yang salah namun tetap dipertahankan meskipun ada bukti yang menunjukkan sebaliknya. Mereka juga mungkin mengalami halusinasi, seperti mendengar suara-suara yang tidak ada, melihat hal-hal yang tidak nyata, atau merasakan sensasi yang tidak berasal dari sumber nyata. (Gita Ayu Puspita, 2022)
Selain delusi dan halusinasi, penderita skizofrenia juga menunjukkan pola pikir yang kacau dan perilaku yang tidak teratur. Mereka mungkin berbicara dengan cara yang tidak terkoordinasi, melompat dari satu topik ke topik lain tanpa logika yang jelas, atau bertindak dengan cara yang tidak dapat diprediksi dan tidak sesuai dengan situasi. Emosi mereka juga bisa tidak stabil, dan sering kali mereka menarik diri dari interaksi sosial, mengisolasi diri dari orang lain dan kenyataan. Sebaliknya, mereka mungkin tenggelam dalam kehidupan fantasi yang penuh dengan ide-ide yang tidak realistis dan tidak berdasar.
Gangguan ini sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari penderitanya. Mereka mungkin kesulitan untuk bekerja, bersekolah, atau menjalin hubungan sosial yang normal. Skizofrenia juga sering disertai dengan gejala negatif seperti kurangnya motivasi, ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan, dan penurunan kemampuan berbicara dan berinteraksi dengan orang lain.
Simtom simtom skizofrenia mencakup gangguan pada beberapa bidang utama ,termasuk pikiran, presepsi, perhatian; perilaku motorik; afek; dan kerberlangsungan hidup.Simtom-simtom pada umumnya dibagi menjadi tipe positif,negative dan disorganisasi. Simtom positif mencakup hal hal yang berlebihan dan distorsi, seperti delusi dan halusinasi. Simtom-simtom negative merujuk kepada deficit behavioral, seperti afek datar,avolition,alogia, dan anhedonia,Sintom-sintom disorganisasi mencakup disorganisasi mencakup disorganisasi bicara dan perilaku aneh.Simtom-simtom lain mencakup katatonia dan efek yang tidak sesuai. (gerald c.davidson, 2006)
Analisis otak pada pasien skizofrenia menunjukkan berbagai perbedaan dibandingkan dengan otak orang sehat. Studi pencitraan seperti MRI dan CT scan menemukan ventrikel otak yang lebih besar, sementara volume otak di area seperti korteks prefrontal, korteks temporal, dan hippocampus lebih kecil. Amigdala dan korteks temporal juga menunjukkan perubahan fungsi. Konektivitas antara bagian-bagian otak sering terganggu, dan ada perubahan pada struktur materi putih yang mempengaruhi komunikasi antar neuron. (gerald c.davidson, 2006) Ini menunjukkan bahwa skizofrenia adalah gangguan kompleks yang mempengaruhi banyak bagian otak dan jalur komunikasinya, memberikan wawasan penting untuk pengembangan pengobatan yang lebih efektif.
Saat ini, belum ada pengobatan yang bisa sepenuhnya menyembuhkan skizofrenia. Penanganan yang ada hanya bertujuan untuk mengendalikan dan meredakan gejala. Pasien harus rutin menjalani kontrol agar dokter dapat menilai efektivitas obat, menyesuaikan dosis yang tepat, dan mengantisipasi efek samping. Metode penanganan skizofrenia meliputi obat-obatan dan psikoterapi. Untuk mengatasi halusinasi dan delusi, dokter meresepkan obat antipsikotik seperti chlorpromazine, haloperidol, fluphenazine, aripiprazole, clozapine, paliperidone, olanzapine, dan risperidone. (Pittara, 2023) Obat-obatan ini dapat mengurangi gejala seperti delusi, halusinasi, kesulitan berkonsentrasi, serta rasa cemas dan bersalah, sehingga meningkatkan kualitas hidup dan kemampuan berinteraksi pasien. Penting untuk diingat bahwa obat antipsikotik harus dikonsumsi seumur hidup, bahkan jika gejala sudah membaik.
Tingginya minat masyarakat terhadap pengobatan non-medis telah melahirkan berbagai jenis pengobatan alternatif. Beberapa di antaranya memasarkan diri sebagai ahli pengobatan tradisional, herbal, spiritual, serta pengobatan ala Nabi, dan ada pula yang menggunakan istilah sufi healing. Pengobatan sufi healing, atau yang juga dikenal sebagai terapi sufistik, menjadi fenomena tersendiri karena terbukti efektif dalam menyembuhkan berbagai penyakit, baik fisik maupun mental. (Andari, 2017)
Sufi healing (pengobatan sufi) adalah metode yang digunakan oleh kaum sufi untuk pengobatan dan penyembuhan. Metode ini didasarkan pada ajaran agama dengan cara membangkitkan potensi keimanan kepada Tuhan, lalu mengarahkannya menuju pencerahan batin atau rohani. Hal ini pada dasarnya menumbuhkan keyakinan diri bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah satu-satunya kekuatan penyembuh dari penyakit yang diderita.
Penderita skizofrenia berat atau gangguan jiwa berat seringkali kesulitan membedakan antara realitas dan dunia khayalannya. Mereka mungkin meyakini bahwa mereka adalah utusan Tuhan atau jenderal, meskipun kenyataannya tidak demikian. Gejala juga dapat meliputi perilaku yang tidak terkendali, seperti amukan, teriakan, atau reaksi marah tanpa alasan yang jelas.
1. Terapi pijat, untuk mengatasi penderita yang seringkali mengamuk biasanya diberikan pijatan pada bagian syaraf tertentu yang dapat memberi ketenangan pada penderita. Hal tersebut dilakukan setiap hari pada minggu pertama dan apabila sudah tenang terapi dilakukan tiga kali dalam seminggu paraphrase (Andari, 2017)
2. Terapi zikir, setelah dilakukan terapi di atas diberikan terapi mujahadah atau terapi zikir
selama dua minggu pertama, setelah berubah lebih baik akan dikurangi jumlah mandi
malamnya menjadi dua kali seminggu (Andari, 2017)
3. Terapi herbal dilakukan dengan meminum ramuan dari daun-daun herbal yang sudah
di sediakan ketika terapis selesai membaaca zikir dan doa, penderita diberi ramuan hingga
memiliki kesadaran dalam diri untuk mencapai kesembuhan, dan setelah semua selesai
minum ramuan mereka menyalami terapis. (Andari, 2017)
Skizofrenia merupakan gangguan mental yang kompleks yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan seseorang. Gangguan ini dicirikan oleh tiga simtom klinis utama, yakni simtom positif, simtom negatif, dan simtom disorganisasi. Terkadang, kondisi ini disebabkan oleh ketidakminatan pasien untuk mengonsumsi obat-obatan dan kurangnya dukungan psikologis. Faktor-faktor pemicu skizofrenia meliputi tekanan lingkungan yang menghasilkan stres dan kesulitan dalam menyelesaikan masalah secara internal. Walaupun belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan skizofrenia sepenuhnya, penanganan melalui obat-obatan dan psikoterapi dapat membantu mengendalikan gejala dan meningkatkan kualitas hidup. Dukungan sosial dan kesadaran masyarakat mengenai skizofrenia juga memainkan peran penting dalam mendukung proses penyembuhan dan mengurangi stigma terhadap kondisi tersebut.
Bibliography
Andari, S. (2017). Pelayanan Sosial Panti Berbasis Agama dalam Merehabilitasi Penderita Skizofrenia. jurnal PKS kemensos.
gerald c.davidson, j. m. (2006). psikologi abnormal. In j. m. gerald c.davidson, psikologi abnormal. PT RajaGrafindo persada.
Gita Ayu Puspita, M. P. (2022, desember 12). qubisa. Retrieved mei 18, 2024, from qubisa web site: https://www.qubisa.com/microlearning/sejarah-konsep-skizofrenia
Pittara, d. (2023, JANUARI 17). ALODOKTER. Retrieved MEI 18, 2024, from ALODOKTER WEB SITE: https://www.alodokter.com/skizofrenia/pengobatan