"Kurang Iman" atau "Kirang Didengar"?
Oleh : Wahyuning Puji Rahayu, Mahasiswa Universitas Bengkulu
“Ah, mental kamu lemah karena kamu kurang ibadah, jauh dari Tuhan”. Kalimat seperti ini kerap kali terdengar, seolah menjadi vonis yang mutlak untuk mereka yang tengah bergelut dengan depresi, kecemasan, dan tekanan mental lainnya. Ditengah upaya banyak pihak untuk meningkatkan literasi kesehatan mental, masih ada saja yang memaknai gangguan mental ini sebagai tanda seseorang kurang dekat dengan Tuhan. Padahal, nyatanya masalah Kesehatan mental tentunya tidak sesederhana itu.
Kesehatan mental adalah bagian tak terpisahkan dari Kesehatan manusia secara utuh. Ia tak hanya soal spiritualitas, tapi juga tentang beban hidup, tekanan sosial, dan kondisi psikologis seseorang yang sering kali tak terlihat dari luar. Menyederhanakan isu yang kompleks ini menjadi persoalan “kurang iman” bukan hanya keliru, tetapi juga berbahaya. Sebab, alih-alih memberi pertolongan, anggapan seperti ini justru memperparah rasa bersalah yang sudah menumpul dalam diri mereka yang sedang berjuang.
Banyak orang, terutama anak muda berada di tengah tekanan yang luar biasa. Di ranah akademik, misalnya tugas yang menumpuk, jadwal yang padat, dan tuntutan nilai sempurna bisa menjadi sumber stress harian. Di sisi lain, hubungan sosial yang tidak sehat, konflik dengan teman, ekspetasi keluarga, masalah keluarga, rasa kesepian juga dapat menambah beban mental yang tidak sedikit. Belum lagi keberadaan media sosial yang secara tidak sadar menjadi panggung perbandingan. Setiap hari kita disuguhi dengan kehidupan orang lain yang tampak ideal, seperti memiliki karir yang sukses, keluarga harmonis, hidup tanpa cela, ataupun fisik yang indah. Dan tanpa sada, kita mulai mempertanyakan hidup kita sendiri.
Dalam situasi seperti ini, tak sedikit yang mengalami gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, bahkan parahnya kehilangan semangat hidup. Nilai akademik bisa anjlok, hubungan sosial memburuk, dan fisik ikut melemah. Beberapa mulai menarik diri dari lingkungan, merasa tak layak, dan merasa sendirian. Yang lebih mengkhawatirkan adalah mencari pelarian dalam bentuk perilaku merusak, dari penggunaan zat berbahaya hingga melukai diri sendiri. Ini bukanlah hal sepele dan bisa terjadi pada siapa saja.
Namun kini yang sering kali terjadi justru sebaliknya, sangat miris. Alih-alih didengarkan, mereka justru dihakimi. Alih-alih mendapatkan pelukan, mereka dipaksa kuat. Kita lupa bahwa tidak semua luka bisa terlihat. Tidak semua tangis bisa terdengar. Dan tidak semua orang punya keberanian untuk berkata jujur bahawa mereka sedang tidak baik-baik saja.
Yang dibutuhkan sebenarnya bukanlah kalimat-kalimay motivasi kosong atau nasihat spiritual instan. Yang dibutuhkan adalah telinga yang mau mendengar, hati yang mau memahami, dan ruang yang aman untuk mengakui bahwa tidak apa-apa untuk merasa lemah. Bahwa nyatanta manusiawi jika kadang kita tidak sanggup dan meminta bantuan bukan tanda kekalahan, melainkan bentuk dari keberanian.
Terakhir, kita juga perlu memperbaiki cara pandang terhadap Kesehatan mental. Membangun kesadaran bahwa menjaga pikiran sama pentingnya dengan menjaga tubuh. Menyediakan dukungan sosial yang hangat, mebuka ruang diskusi yang jujur, serta menciptakan lingkungan yang tidak menstigma, tapi justru memberi harapan. Karena pada akhirnya, gangguan mental bukanlah aib. Bukan dosa. Bukan pula bukti seseorang jauh dari Tuhan. Semua orang bisa mengalami masa sulit dalam hidupnya, dan semua perjuangan itu valid. Maka sebelum kita buru-buru menyimpulkan, sebelum kita memberi label “kurang iman” kepada seseorang yang sedang terpuruk, cobalah bertanya: apakah dia sungguh kurang iman atau selama ini, dia hanya kurang didengar?