Lain Padang Lain Balalang, Lain Lubuak Lain Ikannyo
Oleh: Annisa Putri (Mahasiswa Sastra Minangkabau, Universitas Andalas)
Di Sumatra Barat, sangat banyak terdapat peribahasa atau pun bahasa kiasan yang digunakan oleh masyarakat Minangkabau dalam kehidupan sehari-hari. Peribahasa itu sebenarnya adalah kumpulan dari kata-kata atau kalimat yang punya makna tertentu, biasanya berupa nasihat, sindiran, atau gambaran tentang suatu keadaan. Tapi maknanya tidak langsung ke inti, dia dibungkus pakai kiasan atau simbolik. Sedangkan, bahasa kiasan itu adalah cara menyatakan sesuatu atau menulis sesuatu itu tidak langsung to the point, tapi memakai perbandingan, lambang, atau imajinasi agar lebih indah atau punya efek tertentu. Biasanya dipakai di puisi, lagu, novel, atau untuk memperhalus omongan atau perkataan.
Peribahasa dan bahasa kiasan secara tidak langsung digunakan untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara halus, seperti ingin mengungkapkan suatu kata yang terbilang agak kasar namun jika diungkapkan dengan bahasa kiasan atau pun peribahasa maka buni tersebut akan menjadi terdengar agak halus dan tidak akan menyinggung perasaan orang lain. Di Minangkabau terkenal dengan rasa kepedulian atau rasa raso pareso masyarakatnya yang sangat tinggi hingga sangat memikirkan perkataan yang ingin dilontarkan apakah kata tersebut akan menyinggung perasaan orang lain atau lawan bicaranya.
Di Minangkabau sangat banyak terdapat kata kiasan dan peribahasa tersebut, salah satunya adalah “Lain Padang Lain Balalang, Lain Lubuak Lain Ikannyo”. Peribahasa ini memiliki arti yang berbeda-beda tergantung dari sudut pandang mana kita memaknai peribahasa ini. “lain padang lain balalang, lain lubuak lain ikannyo” peribahasa ini bisa diartikan bahwa setiap daerah itu terdapat adat, budaya, dan tradisi yang berbeda-beda. Di daerah yang satu ini terdapat adat atau budaya seperti di Minangkabau sendiri kita mengikuti garis keturunan dari ibu, namun di daerah lain mungkin saja mengikuti garis keturunan dari ayah, begitu salah satu contoh dari peribahasa di atas.
Namun, pada kali ini kita akan melihat arti dari “lain padang lain balalang, lain lubuak lain ikannyo” dari sudut dan arti yang berbeda dimana arti dari peribahasa diatas adalah seperti seseorang yang memiliki sifat bermuka dua. Peribahasa ini juga bisa diartikan sebagai orang yang memiliki pemikiran yang berbeda-beda setiap kepala, bak kata orang bahwa kepala sama hitam, tapi isi kepala berbeda-beda.
Pada kali ini kita akan berfokus ke makna peribahasa “lain padang lain balalang, lain lubuak lain ikannyo” diartikan sebagai seseorang yang memiliki muka dua dimana lain dimulut lain dihati, lain orang lain orang maka lain pula hal yang disampaikannya dimana hal tersebut yang sebenarnya sama namun dibuat bervariasi kepada setiap orang yang diberitahukannya. Ibaratnya, jika yang disampaikan kepada si A ubi, maka yang disampaikan kepada si B sudah menjadi kolak. Apa yang disampaikan ditempat ini, maka akan berubah lagi jika disampaikan ditempat lain. Apa yang dikatakannya di orang ini, maka akan berbeda pula disampaikan kepada orang lain.
Bak kata pepatah "Kapalo nan samo hitam", maksudnya hanya kepala kita saja yang sama hitam tapi belum tentu isi didalamnya juga sama. Orang yang mempunyai sifat seperti peribahasa diatas kebanyakan adalah mereka dari kalangan perempuan, dimana mereka lebih aktif dalam hal seperti itu, bukan tanpa alasan kita menobatkan kaum perempuan yang seperti itu, tapi sudah sangat jelas bukan jika dilihat dan di nilai dalam kehidupan sehari-hari kita siapa yang lebih banyak menilai anak tetangga yang tidak baik tapi kenyataannya anak mereka sendiri jauh dari kata baik.
Orang yang memiliki sifat seperti ini biasanya tidak disukai oleh orang lain dan akan dikucilkan dan diasingkan jika sifat aslinya ketahuan oleh orang-orang karena orang yang mempunyai sifat seperti peribahasa tersebut sangat tidak bersahabat dengan lingkungan sekitar, tidak disukai banyak orang bahkan orang-orang tidak akan percaya lagi dengan apa yang mereka katakan meskipun itu benar. Karena mereka yang terkenal suka menambah-nambahkan cerita dan memanipulasi hal yang sebenarnya sehingga hal yang sebenarnya benarpun yang mereka katakan orang-orang tidak akan pernah percaya lagi karena sudah tau bagaimana sifat aslinya bahkan jika yang dikatakannya kali itu benar.
Peribahasa “lain padang lain balalang, lain lubuak lain ikannyo” juga bisa diartikan kepada orang yang memiliki sifat adu domba ditengah masyarakat. Orang yang seperti ini seharusnya tidak perlu untuk dipercayai dalam berbagi rahasia ataupun hal yang serupa, karena orang yang memiliki sifat seperti ini sangat bisa meyakinkan targetnya bahwa dia pantas dan sangat bisa untuk diajak menyimpan rahasia ataupun untuk berkompromi bersama. Namun, orang yang seperti inilah yang sering membuat kita tertipu dan mudah diperdaya oleh mulut manisnya.
Seakan-akan kita terhipnotis oleh semua yang keluar dari mulutnya agar kita bisa mempercayai atau berbagi hal kepadanya. Manusia yang memiliki sifat seperti ini sangatlah banyak dan sering kita jumpai ditengah masyarakat ataupun dalam kehidupan kita sehari-hari. Banyak dari mereka yang berpura-pura menjadi tempat ternyaman dan terpercaya untuk kita menyimpan cerita dan rahasia namun, pada kenyataannya dia bercerita kita dengarkan, kita bercerita dia sebarkan.
Oleh karena itu, kita harus berpandai-pandai dalam memilih teman dalam hal apapun. Tentunya, sebelum kita menilai dan membicarakan orang lain, hendaklah terlebih dahulu kita introspeksi diri terlebih dahulu sebelum membaca keburukan orang disekita kita. Memang, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Tetapi alangkah baiknya kita jangan sampai seperti tupai dalam memilih sahabat ataupun tamen yang kita percaya namun akhirnya disebarkan juga. Mari kita sama-sama mengingatkan agar kita tidak terkena sifat seperti peribahasa "lain padang lain balalang, lain Lubuak lain ikannyo" tadi, karena orang yang memiliki sifat demikian pasti tidak akan disegani oleh orang sekitar.