Melestarikan Silek Tuo dalam Perguruan Empat Bandi Budi di Nagari Batu Payuang
Oleh : Miza Fitria, Mahasiswa Universitas Andalas
Silek minang berasal dari perpaduan seni belah diri / ilmu gerak bela diri dari dubalang pandeka bati sapuluah ( Batipuah ),mereka ini merupakan pengawal dari paduko Sri Maharajo Dirajo,yang kemudian disempurnakan oleh Dt.Katumanggungan menjadi silek pangka tuo atau silek rajo-rajo.Kemudian diperhalus dengan namanya gerak bungo ( silek seni ) oleh Dt.Suri dirajo yang berkembang menjadi silek tuo dengan berbagai bentuk perkembangan sampai saat ini.
Di daerah-daerah yang berada di Sumatera Barat ,masih ada perguruan silek yang aktif sampai saat ini untuk mengembangkan silek ,berikut ini penjelsan Salah satu perguruan silek yang ada di kampung saya di kabupaten Lima Puluh Kota.Pendiri perguruan silek ini bernama Makmur Hendrik,ia mendirikan perguruan silek dari tahun 1996 sampai sekarang. Beliau menamakan perguruan silek tersebut dengan Empat Banding Budi.lokasi perguruan silek ini berada di Nagari Batu Payuang,Kecamatan Lareh Sago Halaban,Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatra Barat.Nama guru gadang/pelatih dari perguruan ini bernama bapak Israma miral yang akrab di panggil pak AL ,beliau ini sudah menjadi wasit nasional dalam pertandingan silek di Sumbar,sudah belasan tahun pak AL mengabdikan diri sebagai pelatih silek di perguruan silek empat banding budi.menurut informasi yang saya dapat dari pak al silek ini sudah menjadi salah satu ekstrakulikuler Di SMA NEGERI 1 KEC.LAREH SAGO HALABAN.Jumlah murid di perguruan ini kurang lebih 100 orang yang masih aktif, sedangkan yang sudah ditamatkan dari tahun 1996-2024 kurang lebih 1000 orang.
Aliran silek yang digunakan bernama silek tuo. Jurus-jurus yang diajarkan di perguruan ini antara lain: Sikap pasang, Sabung, Kembang, Balabek, Kudo-kudoTunggal, Bando, Regu. Dan ada Teknik-teknik dalam silek meliputi: Serangan, Elakan, Kuncian, Belaan.Sebelum masuk perguruan silek ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh murid,sebagai berikut :pisau, kain sakabuang, bareh sacupak, pitih sapiak (50.000).
Hambatan dan tantangan yang dirasakan oleh pak al dalam mengembangkan perguruan silek empat banding budi ini :
Kondisi Lingkungan yang menjadi salah satu hambatan yang kurang mendukung dalam mengembangkan perguruan silek.Masyarakat di sekitar perguruan tidak semua mendukung atau menerima dengan adanya perkembangan silat, lebih tepatnya sikap acuh yang dierikan masyarakat.Perorangan kurang nya kesadaran dari diri sesorang dalam mempelajari ilmu beladiri. Peralatan di sini menjadi hambatannya dalam penyediaan peralatan dalam belajar silek baik sarana maupun prasarananya.Pembiayaan perguruan ini tidak memungut biaya perharinya, jadi biaya menjadi salah satu hambatan dalam mengembangkan perguruan.
Dari banyaknya hambatan dalam mengembangkan perguruan ada juga tantangan yang harus di hadapi, banyaknya orang yang tidak merespont adanya perguruan silek ini. Minim sekali peminat anak muda sekarang dalam mengikuti silek,untuk segi anggaran pembiayaan silek, jika perguruan meminta iyuran perhari maka akan menjadi pemberatan bagi pesilat ,sedangkan tidak dipungut biaya dalam Latihan peminat nya saja kurang apalagi di pungut biaya.banyak nya bela diri dari luar yang sekarang juga berkembang seperti tekondo,karate,dll. Para pendiri perguruan berusaha untuk supaya silek ini semakin banyak diminati dan terus berkembang dari generasi ke generasi.