Mendidik dengan Disiplin; Apakah Barak Militer Layak Diterapkan
Oleh : M. Frengki Frimadani, Mahasiswa Universitas Bengkuli
Kondisi anak – anak Indonesia dengan tingkat kenakalan yang ada semakin hari terus bertambah. Mulai dari anak sd yang sudah merokok, pulang dengan jam malam, kurangnya kedisiplinan, dan masih banyak lainnya. Hal tersebut menjadi salah satu yang perlu diperhatikan oleh pemerintah. Bagi mereka saat ini hal tersebut merupakan hal yang biasa saja untuk mereka lakukan, namun hal tersebut sangat memberikan dampak yang besar bagi mereka kedepannya.
Dengan kesadaran akan tingginya tingkat kenakalan di Indonesia, gubernur Jawa Barat yaitu Pak Dedi Mulyadi membuat program Barak Militer. Program ini dilaksanakan untuk membangun kedisiplinan, tanggung jawab, dan pembentukan karakter bagi anak – anak. Namun dengan adanya program ini masyarakat berpendapat terhadap pro dan kontra dengan adanya program ini.
Dedi Mulyadi atau yang sering disebut Kang Dedi Mulyadi atau KDM oleh masyarakat Jawa Barat, merupakan Gubernur Jawa Barat yang baru. Setelah dilantik pada tanggal 06/02/2025, ia sering disapa sebagai salah satu gubernur yang sering turun ke jalan dan mendengar keresahan masyarakat. Salah satu programnya yang membuat kontroversi yaitu Barak Militer atau yang ia sebut yaitu pembinaan bagi anak – anak. Menurut sumber website Kompas program Barak Militer ini dimulai pada tanggal 02/05/2025. Beberapa alasan KDM melaksanakan kegiatan ini yaitu sebagai pembinaan bagi anak – anak nakal, kategori nakalnya seperti mabuk – mabukan, merokok, begadang, bermain game, dan masih banyak lainnya.
Pada Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 tercatat bahwa terdapat 30,2 juta anak di Indonesia. Pada laman berita TribunJambi Laksamana Muda TNI (Purnawirawan) Iskandar Sitompul mengatakan 50% dari remaja di Indonesia dapat disebut sebagai anak nakal. Namun di Indonesia sendiri belum ada kategori nakal bagi anak – anak. Hanya saja perilaku seperti tawuran, narkotika, kekerasan dan lainnya tercatat dalam undang – undang.
Dengan melihat data tersebut dapat membuktikan bahwa anak – anak di Indonesia membutuhkan pembinaan. Dalam wawancara di tvOne dengan tema “Berkaca dari Jabar, Perlu Tidak Wajib Militer?” mengundang salah satu orang tua yang anaknya mengikuti pembinaan tersebut. Ia mengatakan bahwa hal ini tidak perlu dilaksanakan karena setiap anak harusnya dapat ditangani masing – masing oleh orang tuanya. Namun disisi lain dalam acara tersebut juga ada orang tua yang mendukung bahwa hal ini perlu dilakukan mengingat anaknya yang suka begadang dengan alasan bermain game online. Anak dari orang tua tersebut pun setuju bahwa ia mengikuti pembinaan tersebut untuk melatih kedisiplinannya.
Namun dengan pro kontra yang ada, sebenarnya program ini juga belum dapat terjalankan dengan baik. Karena dari gubernur Jabar sendiri belum melakukan rapat bersama anggota DPR Jabar untuk bagaimana kegiatan ini berlangsung atau anggaran biaya selama kegiatan dan masih banyak kekurangan dalam kegiatan ini. Pada acara tersebut juga mengundang salah satu anggota DPR Jabar dan ia mengatakan bahwa perlunya pembahasan lebih terhadap program ini sebelum dimulai, selain itu ia juga mengatakan perlunya evaluasi untuk program dan anak – anak yang mengikuti program tersebut.
Kenakalan remaja merupakan suatu hal yang terus menjadi keresahan bagi masyarakat. Mulai dari tawuran yang sering terjadi, anak – anak sd yang sudah mulai merokok dan narkoba, kurangnya kedisiplinan bagi anak – anak, dan masih banyak lainnya. Program pembinaan ini sebenarnya cukup bagus untuk melatih anak – anak. Namun terdapat beberapa hal yang perlu dikaji ulang oleh pemerintah untuk kedepannya agar kegiatan ini dapat berlangsung dengan baik dan tujuan yang diinginkan dapat tercapai.