Mengenal Ungkapan “Sampik Lalu, LunggaBatokok”
Oleh : Loren Vinoltia
Kebudayaan Minangkabau, yang tertanam kuat di Sumatera Barat, Indonesia, telah lama dikenal akan kekayaan filosofi dan kearifan lokalnya. Salah satu yang menjadi kekeyaan budaya Minangkabau adalah ungkapan khas masyarakat Minangkabau dengan filosofi yang selaras dengan kehidupan.Dalam peribahasa ini memiliki arti yaitu seseorang yang harus mempunyai sifat dan sikap diplomasi yang tinggi, dan bisa untuk meyakinkan kebenaran kepada orang lain dan juga harus melakukan suatu tindakan yang sesuai dengan keadaan atau situasi yang dihadapi. Orang Minangkabau menggunakan peribahasa yang satu ini kepada orang lain di saat ia melakukan suatu pekerjaan dan menyelesaikannya dengan benar tanpa melakukan kesalahan saat mengerjakannya. Melakukan suatu pekerjaan yang mampu untuk ia kerjakan, mengatakan sesuatu yang memang benar adanya dan terbukti kebenarannya tanpa ada unsur karangan yang ia buat sendiri. Peribahasa Sampik Lalu LunggaBatokok ini dipakai untuk orang yang dapat dipercaya dan membuktikan apa yang sudah ia katakan tanpa menambah atau mengurangi sedikit pun tentang apa yang sudah ia terima atau apa fakta yang ai dapatkan dari orang lain. Orang yang memakai atau menerapkan peribahasa yang satu ini, biasanya memiliki pendirian yang sangat tinggi dan kokoh tanpa ada siapa pun yang bisa dengan mudah merobohkan nya. Salah satu ungkapan lainnya yang mencerminkan kedalaman pemikiran masyarakat Minangkabau adalah “sampik lalu, lunggabatokok”. Pepatah ini mengandung makna yang jauh lebih dalam dari sekadar deretan kata-kata. Ungkapan “sampik lalu, lunggabatokok” telah diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat Minangkabau. Seperti banyak pepatah adat lainnya, ungkapan ini lahir dari pengamatan mendalam terhadap alam dan kehidupan sosial.Masyarakat Minangkabau, yang terkenal dengan sistem matrilinealnya, memiliki hubungan erat dengan alam dan menjadikannya sebagai guru dalam filosofi kehidupan mereka, layaknya yang diungkapkan dalam ungkapan “alam takambang jadi guru”.