Menghindari Nilai Sumbang dalam Arus Modernisasi: Refleksi Orang Minangkabau terhadap Perilaku Generasi Muda
Nama : Khairunnisa Nabila
Prodi : Sastra Minangkabau
Universitas Andalas
Masyarakat Minangkabau dikenal dengan budaya dan adat yang kuat, yang diwariskan turun-temurun. Salah satu nilai penting yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Minang adalah sopan santun serta baik budi terutama menghindari diri dari perilaku sumbang nan duobaleh.
Salah satu contohnya sumbang mangecek melarang seseorang untuk berbicara sembarangan kepada orang yang lebih tua atau orang yang dihormati. Sumbang kurenak adalah sumbang yang mengatur bagaimana seseorang seharusnya berlaku di tengah masyarakat, termasuk dalam memilih tempat duduk, bertamu, dan bergaul. Nilai ini mengatur perilaku, etika, dan sopan santun seseorang dalam berkehidupan di masyarakat. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan pesatnya pengaruh modernisasi, terjadi banyak perilaku menyimpang generasi muda saat ini dari norma tersebut. Masyarakat Minangkabau bukan hanya menjadikan adat dan budaya hanya menjadikan hiasan tradisi, melainkan sebagai pedoman nyata yang mengatur tingkah laku serta membentuk karakter seseorang dalam kehidupan sehari- hari. Salah satu nilai penting yang menjadi landasan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau adalah sopan santun dan budi pekerti.
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Minang, memiliki prinsip ”adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” pepatah ini telah lama menjadi pegangan utama. Prinsip ini menunjukkan bahwa adat dan agama Islam berjalan beriringan dan saling memperkuat. Namun, modernisasi yang membawa arus globalisasi dan budaya luar yang terkadang tidak selaras dengan nilai-nilai adat di minang. Arus ini masuk melalui berbagai media seperti televisi, internet, media sosial, dan gaya hidup yang cepat berubah, sehingga menjadikan besarnya kemungkinan generasi muda kehilangan akar budaya.
Perubahan gaya hidup, serta perkembangan teknologi, dan masuknya budaya luar telah mempengaruhi cara berpikir dan bertindak generasi muda sekarang. Tak bisa dipungkiri, banyak dari mereka yang mulai meninggalkan norma- norma adat yang dahulu dijunjung tinggi. Generasi muda zaman sekarang lebih senang menghabiskan waktu di luar rumah, seperti nongkrong di kafe bermain game online bersama teman- teman, dari pada duduk bercengkrama dengan orang tua dan keluarga di rumah. Mereka lebih nyaman berkumpul dengan teman sebaya. Padahal dengan terjadinya ini dapat terjalinnya komunikasi yang baik antara orang tua dan anak Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar di tengah masyarakat Minangkabau, karena terlihat jelas bahwa nilai raso pareso mulai pudar dalam jiwa generasi muda. Raso pareso merupakan konsep budaya Minangkabau yang mengajarkan seseorang untuk memiliki kepekaan rasa, kemampuan untuk menimbang perasaan orang lain, serta menempatkan diri secara tepat sebagai makhluk sosial. Konsep raso pareso mencerminkan sebuah sikap empati yang khas dalam masyarakat Minangkabau. Dalam praktiknya, seseorang yang memiliki raso pareso tahu kapan harus bicara, dan bagaimana bersikap sesuai tempat dan keadaan. Nilai ini bukan hanya tentang etika, tapi juga kebijaksanaan dalam bersikap, yang jika terus diabaikan akan menciptakan kekosongan moral dan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Ketika sumbang tidak lagi menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari, maka batas antara yang pantas dan tidak pantas menjadi tidak dihiraukan. Hal ini dapat berdampak pada lahirnya generasi yang tidak lagi menghargai nilai kesopanan, tanggung jawab sosial, dan prinsip-prinsip kekerabatan yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Minangkabau. Kini, banyak anak muda yang bertindak semaunya tanpa mempertimbangkan pandangan orang tua, serta saudara. Mereka lebih memilih gaya hidup individualis yang justru akan membuat mereka menjauhkan mereka dari akar budaya. Jika sifat ini terus dibiarkan terjadi pada generasi sekarang, maka generasi muda akan kehilangan jati diri, tercerabut dari akar budayanya minangkabau sendiri, serta tidak lagi mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Masyarakat Minangkabau bisa saja kehilangan generasi yang semestinya memiliki karakter dasar sebagai masyarakat yang santun, beradab, budi pekerti.
Orang Minang percaya bahwa anak dipandang sebagai aset keluarga dan harapan kampung halaman. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk mengembalikan serta menumbuhkan kembali nilai raso pareso dalam kehidupan generasi muda. Salah satu kuncinya terletak pada lingkungan terdekat mereka yaitu peran keluarga. Keluarga adalah tempat pertama dalam proses pembentukan karakter anak. Menumbuhkan raso pareso pada anak sejak dini sangat penting untuk membentuk karakter yang peduli, penuh hormat, dan mampu menjalin komunikasi yang sehat. Seperti melakukan kebiasaan sederhana seperti duduk bersama di meja makan, makan malam bersama, atau mengadakan waktu khusus untuk berbincang santai bersama, bisa menjadi sarana yang efektif dalam menumbuhkan rasa kedekatan komunikasi antara anak dan orang tua, agar tercipta ruang yang hangat untuk berbagi cerita, mendengar keluh kesah, dan tertawa bersama, dan anak akan menjadikan rumah adalah tempat yang aman untuk berbicara.
Untuk menjaga nilai raso pareso akan selalu tetap ada pada diri setiap generasi muda perlu adanya kesadaran serta tindakan nyata dan pembiasaan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Apabila nilai- nilai tersebut terus dijaga, maka masyarakat Minangkabau ke depan akan dapat tumbuh sebagai pribadi yang lebih baik lagi kedepannya, kita dapat berharap sikap generasi muda yang telah menanamkan raso pareso tidak akan lenyap dimakan zaman, tetapi justru dengan kita hidup pada zaman yang telah modern ini serta adaanya teknologi yang canggih akan membuat kita untuk dapat terus maju dan tumbuh dengan seiring perkembangan zaman, dapat juga sebagai fondasi karakter generasi muda yang kuat bagi untuk penerus masyarakat Minangkabau. Dengan begitu, generasi muda Minangkabau tidak hanya mewarisi budaya dari nenek moyangnya, tapi juga mampu menghidupkannya kembali dengan bentuk dan cara yang sesuai dengan tantangan zaman. Jangan sampai kita menjadi generasi yang memutus tali adat, tetapi jadilah generasi yang menjadi penghubung antara nilai lama dan dunia yang baru.