Menyikapi Perilaku Seksual Menyimpang Terhadap Pergaulan Mahasiswa di Lingkungan Kampus
Oleh : Kelompok 4 bahasa Indonesia kelas 22, Departemen Ilmu Politik Universitas Andalas
Perilaku seksual menyimpang, atau juga dikenal sebagai parafilia, adalah aktivitas atau fantasi seksual yang tidak biasa yang digunakan untuk mencapai gairah seksual. Perilaku ini berbeda dari norma sosial dan budaya yang umumnya diterima mengenai seksualitas, tentunya perilaku seperti ini sangat meresahkan. Perilaku Seksual Menyimpang ini contohnya LGBT, pedofilia, dan berbagai macam bentuk pelecehan seksual. Banyak sekali perilaku-perilaku tersebut terjadi di lingkungan kampus. Lingkungan kampus yang mungkin kurang terkontrol dan diawasi dibandingkan dengan lingkungan lain, seperti rumah atau sekolah bisa menjadi tempat terjadinya perilaku seksual menyimpang tersebut.
Lingkungan kampus tidak lagi sama dengan lingkungan semasa sekolah yang memiliki banyak aturan dan tata tertib. Lingkungan kampus sudah terbilang bebas karena di masa ini kita sudah memasuki tahap usia dewasa, oleh karena itu peraturan kampus tidak seketat peraturan di sekolah dahulu. Mahasiswa bisa bebas melakukan hal apapun selagi tidak mengganggu orang lain, mahasiswa juga bebas mengekspresikan diri dalam bentuk apapun selagi tidak melanggar norma yang ada. Kebebasan inilah yang membuat perilaku mereka kadang menjadi kurang terkontrol, sehingga bisa berperilaku menyimpang.
Ada dua faktor yang menjadi penyebab mahasiswa bisa berperilaku seksual menyimpang yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal tentunya tergantung pribadi masing-masing. Biasanya yang melakukan hal semacam ini memiliki gangguan mental, pemahaman agama dan norma yang kurang, serta gangguan psikis lainnya. Faktor internal ini menjadi penentu bagaimana perilaku seseorang apakah baik atau buruk. Kedua, ada faktor eksternal yaitu bagaimana keadaan lingkungan sekitar mahasiswa.Lingkungan pergaulan mahasiswa juga bisa menentukan bagaimana perilaku mereka. Tidak lupa juga pengaruh dari internet dan media sosial dapat membuat mahasiswa terpapar konten pornografi, kekerasan seksual, dan perilaku seksual menyimpang tersebut. Teknologi canggih pada zaman sekarang ini ibarat pisau bermata dua, ada sisi positif dan ada sisi negatif nya. Akan tetapi, kembali lagi tergantung pribadi masing-masing. Jika mahasiswa bisa mengontrol perilakunya maka ia tidak akan terjerumus kepada perilaku-perilaku negatif yang ada.
Menyikapi perilaku seksual menyimpang yang mungkin terjadi di lingkungan kampus, hendaknya sebagai mahasiswa kita harus bijak terhadap segala tindakan yang akan dilakukan. Kita harus bisa mengontrol diri dari perilaku yang tidak sesuai dengan norma yang ada, kita harus bisa mengontrol pergaulan yang bisa dibilang sudah bebas di bangku perkuliahan ini. Tindakan preventif juga harus dilakukan supaya kita tidak berperilaku seksual menyimpang, seperti menyibukkan diri dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat sehingga kita bisa jauh dari perilaku-perilaku menyimpang. Tidak lupa juga dengan mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperkuat keimanan kita. Lingkungan sekitar menjadi salah satu penentu bagaimana perilaku seseorang, akan tetapi itu semua kembali lagi ke pribadi masing-masing. Jika kita bisa membentengi diri maka kita akan terhindar dari perilaku negatif seperti perilaku seksual menyimpang ini.