Merasakan Ketenangan Hati di Masjid
Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera)
Kunci ketenangan hati sejatinya hanya dengan mengingat Allah. Terlebih bertepatan dengan waktu dan tempat serta kondisi akan memaksimalkannya. Faktor-faktor tertentu di antaranya berdasar pertimbangan di atas cukup mempengaruhi.
Seperti Bulan Ramadhan, kondisi yang istimewa sedemikian rupa, akan mempengaruhi ketenangan hati dalam mengingat Allah. Terlebih dalam contoh tersebut dilakukan di dalam masjid dan pada waktu-waktu yang memiliki keutamaan besar seperti sepuluh terakhir.
Selain contoh di atas, sebenarnya masjid sebagai tempat yang di dalamnya banyak disebut nama-nama Allah, menjadikannya istimewa dalam rangka mengingat Allah. Kemudian, kesesuaian dengan kecenderungan semisal mencari titik tertentu untuk mengkonsentrasikan diri secara penuh kepada Sang Pembolak-balik hati. Maka rasional bahwa masjid adalah di antara tempat yang paling menenangkan di banding tempat lain yang kemungkinan banyak diisi dengan suara atau perilaku tidak semulia di masjid seperti shalat, membaca al-Qu'an dan lain-lain.
Maka masjid disebut Rumah Allah, sebagai disebutkan Allah sendiri terhadap Masjid Harom yang dipergunakan untuk orang-orang i'tikaf, ruku' dan sujud. Namun demikian, yang penting diingat adalah adab di masjid. Meski makan dan minum diperbolehkan, namun terdapat larangan larangan-larangan seperti untuk tidak berlebih-lebihan serta untuk tidak melakukan transaksi perdagangan yang dido'alan dalam sabda Rasul sendiri agar meraih kerugian, "Allahua'lam!"