Merawat Tradisi "Pantauan" Wariasan Sosial Idul Fitri dari Pasemah Air Keruh
Oleh : Tiara Cassandra, Mahasiswi Universitas Bengkulu
Hari Raya Idul Fitri adalah momen yang selalu dinanti-nantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Selain menjadi waktu untuk kembali ke fitrah dan memperkuat keimanan setelah sebulan penuh berpuasa, Idul Fitri juga merupakan ajang silaturahmi yang kaya akan nilai-nilai kemanusiaan. Di Indonesia, keanekaragaman budaya dan adat istiadat menjadikan perayaan ini tampil dengan warna yang berbeda di setiap daerah. Salah satu tradisi unik yang hidup dan terus dijaga hingga kini adalah tradisi “Pantauan” yang berlangsung di wilayah Pasemah Air Keruh, Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan.
“Pantauan” bukan sekadar ritual kunjung-mengunjungi atau tradisi basa-basi yang sekilas mirip dengan open house di kota-kota besar. Lebih dari itu, “Pantauan” adalah jalinan erat yang membentuk jaringan sosial di tengah masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai gotong royong dan kekeluargaan. Pada hari-hari Lebaran, masyarakat Pasemah Air Keruh tidak hanya saling bersalaman dan bermaaf-maafan, tetapi juga menyuguhkan hidangan khas, membuka pintu rumah lebar-lebar untuk tetangga, kerabat jauh, bahkan warga desa lain yang ikut berpartisipasi dalam tradisi ini.
Sebagai bagian dari budaya lokal, “Pantauan” bukan hanya menjadi pelengkap suasana Idul Fitri, tetapi juga merupakan bagian dari identitas masyarakat Pasemah Air Keruh. Namun, di tengah arus modernisasi yang semakin kuat, muncul kekhawatiran bahwa tradisi ini perlahan bisa luntur. Oleh karena itu, perlu ada upaya sadar dari semua pihak untuk mendokumentasikan, merayakan, dan mewariskan tradisi “Pantauan” sebagai bagian dari warisan budaya yang tak ternilai harganya.
Menilik Nilai Sosial dalam Tradisi "Pantauan"
Tradisi “Pantauan” memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar bersilaturahmi. Ia merupakan cerminan dari budaya masyarakat Pasemah yang mengutamakan keterbukaan, penghargaan terhadap relasi sosial, dan penerimaan terhadap keberagaman. Dalam kegiatan ini, masyarakat dari berbagai latar belakang berkumpul dan saling menyambangi rumah satu sama lain, menjadikan momen Idul Fitri sebagai ajang silaturahmi.
Anak-anak, remaja, hingga orang tua memiliki peran masing-masing dalam menjaga semaraknya tradisi ini. Anak-anak biasanya ikut bersama rombongan untuk berkeliling dari rumah ke rumah, belajar mengenal lingkungan sosialnya secara lebih dekat. Orang tua dan tokoh masyarakat turut menjaga kesopanan serta adat dalam interaksi. Di sinilah proses pendidikan sosial berlangsung secara alami, dan tradisi menjadi pembelajaran lintas generasi.