Mobilitas Perantau Minangkabau dari Generasi ke Generasi
Nama : Rahmina Putri
Nim : 2310741002Program Studi : Sastra Minangkabau
Fakultas: Ilmu Budaya
Universitas AndalasA. Asal usul dan Makna Perantauan di Minangkabau
Minangkabau merupakan salah satu suku bangsa Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat. Minangkabau itu terkenal dengan budaya merantau bagi para pemuda yang berada di negeri tersebut. Merantau itu sendiri sudah menjadi tradisi budaya dalam kehidupan sosial Minangkabau. Penduduk Minangkabau yang berada di rantau hampir sama banyaknya dengan jumlah penduduk Minangkabau yang berada dikampung halaman. Sehingga hampir disetiap daerah Indonesia terdapat perantau Minangkabau,tidak hanya didalam negeri saja,bahkan sampai keluar negeri.
Merantau juga menunjukkan bahwa suku Minangkabau itu merupakan suku yang mandiri dan mudah menyesuaikan diri dalam sekelompok Masyarakat. Kebanyakan dari orang Minangkabau yang merantau itu adalah kaum laki-lakinya,karena pada umumnya di Minangkabau kaum laki-laki yang sudah dewasa itu di disuruh pergi merantau. Masyarakat Minangkabau percaya bahwa seorang pemuda yang telah dewasa itu harus merantau agar menjadi seorang yang paham akan sosial, ekonomi serta spiritualnya.
Prinsip merantau orang Minangkabau itu menjadikan kampung orang seperti kampungnya sendiri. “Di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung”. Sehingga kampung dan rantau menjadi tempat yang baik untuk mencari rezeki, walaupun situasi di dua tempat itu sangat berbeda disegala aspek kehidupan yang mereka lalui. Tujuan merantau pada masa lalu adalah untuk mencari rezeki yang dan lebih dan mendapatkan pengalaman yang baru, yang mana nantinya bisa digunakan dalam memperkuat posisi atau keadaan keluarga yang berada di kampung halaman.
Orang Minangkabau dikampung telah kehilangan identitasnya, begitupun orang Minang yang berada di rantau. Kampung tidak lagi sehat sebagai mobilitas ekonomi. Generasi Minang yang lahir dan dibesarkan di rantau kebanyakan tidak lagi tahu dengan adat istiadat ditanah leluhurnya.
B. Perantau Generasi Pertama
Pada generasi pertama, perantauan di Minangkabau terjadi pada masa yang sangat sederhana. Pada awalnya generasi Minangkabau pergi merantau itu sebagai kewajiban budayanya dan kehendaknya untuk mengubah asib yang dibekali persiapan yang matang. Persiapan tentang prinsip dalam hidup, manajemen waktu, ilmu adat, sopan santun, budi perkerti, pertahanan diri dan lainnya. Semuanya diajarkan di negeri dan di surau dengan bimbingan guru ataupun mamaknya.
Sebelum pergi merantau harus terlebih dahulu menjalani kehidupan yang disiplin di surau. Para pemuda tersebut diajarkan ilmu agama, ilmu bela diri, kerjasama, dan lainnya. Semuanya itu menjadi bekal dan akan sangat berguna untuk kehidupan mereka di rantau nantinya.
Demikianlah bekal bagi para pemuda yang akan pergi merantau,sehinnga pada generasi pertama itu Minang memuai hasil yang baik. Mereka menjadi perantau Minangkabau yang sukses tanpa melupakan asal mereka ( kampung halamannya, adat istiadat, anak kamanakan, dan leluhurnya).
Mereka biasanya akan pulang kampung sekali-kali saja, seperti pada hari raya dan hari penting lainnya. Mereka menjadikan rantau sebagai negeri kedua setelah kampung halamannya Minangkabau.
C. Perantau Generasi Kedua
Generasi ini merupakan anak dari generasi pertama yang lahir di Rantau. Sebagai anak yang lahir di Rantau dan dari ibu yang bukan berasal dari suku Minangkabau ( system kekerabatan matrilinear, dan anak yang bukan dari ibu Minang itu dianggap orang asing ) maka anaknya itu berstatus orang luar. Kalau pemuda yang menikah dengan gadis Minang dan anaknya lahir di Rantau maka baru dianggap sebagai orang Minang. Tapi sayangnya anak yang lahir di rantau itu tidak memiliki kedekatan dengan adat istiadat Minang sehinnga mereka hanya tau orang tua mereka orang Minang tetapi tidak dengan adatnya.
Meskipun bersuku Minang tetapi mereka dibesarkan oleh budaya luar atau Rantau, sehinnga mereka tidak lagi memiliki prinsip perantau yang dimiliki oleh ayah mereka . Selain itu, pada generasi ini perantauan membawa dampak besar pada perubahan sosial Minangkabau. Tingkat mobilitas mereka tidak seperti ayahnya dan pemikiran mereka tidak lagi sama dengan perantau Minang yang terdahulu.
Meskipun begitu perantau pada generasi ini mereka kembali ke kampung halaman dengan ide-ide baru yang dapat memperkaya pengetahuan kehidupan di Masyarakat setempat,dan mereka juga akan memperkenalkan cara berpikir yang baru,terutama dalam bidang ekonomi, Pendidikan dan pengalaman kerja yang telah mereka lalui.
D. Perantau Generasi Ketiga
Pada generasi ini, perantauan tidak hanya untuk sebatas mencari nafkah saja, tetapi juga membangun karier di dunia professional. Namun di sisi lain, perantau pada generasi ini menimbulkan tantangan yang berat. Mereka sangat dilema identitas budaya mereka yang mulai terlupakan, keterikatan mereka dengan tanah kelahiran yang sudah jauh.
Perantau pada generasi ini merupakan anak atau cucu dari generasi pertama dan kedua. Generasi ini semakin jauh dari adat Minangkabau. Semua proses kehidupan mereka itu dilakukan di Rantau. Kebanyakan dari mereka tidak lagi bisa berbahasa Minangkabau dan tidak paham lagi dengan adat istiadat yang ada diMinangkabau. Mengembalikan generasi ini kepada prinsip perantau Minangkabau yang dulu itu akan menjadi sangat sulit sekali.
E. Kesimpulan
Mobilitas perantau Minangkabau sudah melalui banyak perubahan dari setiap generasi ke generasi. Sebagaimana dimulai dari tradisi yang ada di Minangkabau, untuk mencari nafkah sehingga sekarang sudah menjadi fenomena yang melibatkan berbagai faktor kehidupan Masyarakat Minangkabau. Dalam setiap generasinya itu memiliki dampak yang besar, mulai dari generasi pertama, kedua, dan ketiga,seperti mempengaruhi nilai sosial badaya yang ada di Minangkabau. Tetapi para perantau minang selalu maju dan berkembang meskipun banyak halangan dan rintangan yang mereka temui.