Pasambahan Minangkabau Sebagai Seni Berbicara yang Sopan dan Bijakasana
Oleh: Rika Bela sari (Mahasiswa Universitas Andalas)
Pasambahan adalah salah satu cara berbasa basi dan seni bertutur kata yang digunakan oleh masyarakat Minangkabau dalam acara-acara tertentu, minsalnya pada acara perkawinan, syukuran, khitanan, pengajian dan lain sebagainya. Cara berbasa basi ini yaitu dengan menggunakan kata-kata yang indah dan tersusun rapi sehingga menjadi satu kesatuan bentuk yang sudah ada polanya tersendiri.
Sebagai orang minang yang kaya akan warisan kebudayaan tersebut merupakan tugas kita untuk melestarikannya sehingga kebudayaan kita tetap lestari dan dipakai sejarah. Sebaliknya, kita tidak ingin kebudaaan kita tinggal kenangan saja dan tersimpan di museum-museum sejarah saja yang hanya bisa membuat kita bernostalgia.Tujuan pasambahan adalah untuk menyampaikan maksud kepada lawan bicara (antara si pangka dengan si alek) dalam mengemukakan suatu maksud. Minsalnya, untuk mempersilahkan makan dan minum, untuk mempersembahkan carano, menanyakan gelar marapulai, atau pengaten pria, mintak izin pulang atau pamit, dan berbagai maksud lainnya sesuai dengan konteks pembicaraan.
Pasambahan ini dilakukan oleh dua orang dalam suatu acara. Yang berperan sebagai si pangka (Tuan rumah) dan yang satu lagi posisi sebagai si alek (Tamu) dalam sebuah acara tertentu. Tetapi biasanya pasambahan ini dilakukan lebih dari dua orang. Bisa saja tiga, empat lima atau enam orang lebih.
Kata-kata yang dipakai dalam pasambahan adalah kata-kata yang ada dalam bahasa Minang dan banyak diantara kata itu sudah tidak dipakai lagi dalam bahasa minang sehari-hari, dikarenakan kata pasambahan itu sudah mulai luntur, dan hingga sekarang ini kata pasambahan hanya dilakukan diacara tertentu saja, kata-kata tersebut tidak digunakan lagi oleh masyarakat Minangkabau saat ini. Dan mungkin saja banyak diantara masyarakat Minangkabau saat ini yang tidak lagi mengerti sama sekali apa yang dimaksud dengan pasambahan.Jenis-jenis Pasambahan :
Pasambahan Biasa: yaitu gaya pasambahan yang hanya memakai kata-kata yang datar-datar saja. Maksud dan tujuannya adalah bisa dipahami oleh orang langsung melalui kata-kata yang diucapkan.
Pasambahan Babungo-bungo : yaitu gaya pasambahan yang kata-katanya banyak dihiasi dengan bunga-bunga , maksud dari kata berbunga-bunga ini adalah sebagai kata pemanis untuk memperindah bahasa, namun maksudnya masih bisa ditebak dengan cepat.
Pasambahan Kilek Bayang: pasambahan yang dianggap paling indah gaya bahasanya karena pasambahan ini memakai kata-kata kiasan atau kilek bayang. Sebsgisn besar kata-kata yang dipakai untuk menyampaikan maksud pasambahan ini adalah kata-kata kilek bayang atau kiasan yang maknanya terkadang susah sekali untuk ditebak oleh orang yang tidak mempelajarinya.Contoh Muko pasambahan Biasa :
Sutan : kabakeh Malin malah pasambahan
Malin :manitahlah! Pasambahan si pangka dan si alek
Sutan : yoomaanyo malin?
Malin : inyo ambo, sutan
Sutan : sungguahpun Malin surang nan taimbau, nak sarapeknyo iyolah surang di tangah rumah, nan tasungkuik di atok, nan takuruang dindiang, nan tatanam dilantai. Indak dibilang indak diatok, indak dipuji namo jo gala. Malah ka pambilang jo pa atok, kapamuji namo jo gala, sambah dipungkan kapado allah, panitahan dipulangkan kapado malin.Kesimpulan : Pasambahan adalah cara bicara yang sopan, hormat dan bijaksana dalam budaya Minangkabau. Pasambahan memiliki tujuan untuk membagun hubungan sosial yang harmonis dan menunjukkan rasa hormat. Dengan memahami pasambahan dan menerapkan pasambahan Minangkabau, kita dapat mempertahankan budaya dan tradisi ini, membangun identitas Minangkabau, meningkatkan kesadaran akan pentingnya komunikasi yang efektif.