Perspektif yang Terus Menjadi Akar, Terungkap! Dobrak Stereotip Gender dalam Menari
Oleh : Ratna Wulandari
S1 Jurnalistik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bengkulu
rtnwlndr34@gmail.com
Mari kita telaah lebih dalam tentang stigma yang melekat pada laki-laki yang menari. Di benak banyak orang, maskulinitas dan kelembutan gerak tari bagaikan dua kutub yang tak mungkin bersatu. Lelaki sejati selalu digambarkan dengan bahu yang tegap, langkah pasti, dan ekspresi wajah yang cenderung datar. Sementara itu, dunia tari diasosiasikan dengan kehalusan, emosi yang meluap, dan gerakan yang anggun. Persepsi ini menciptakan jurang pemisah yang tidak adil, membatasi ruang gerak ekspresi bagi kaum lelaki.
Ketika seorang laki-laki memilih untuk menari, ia seolah menantang konstruksi maskulinitas tradisional. Ia berani menunjukkan sisi dirinya yang mungkin selama ini tersembunyi di balik topeng kejantanan konvensional. Setiap liukan tubuh, setiap ayunan lengan sebagai deklarasi bahwa maskulinitas tidaklah tunggal dan kaku. Ada kekuatan dalam kelembutan, ada keberanian dalam mengekspresikan emosi melalui gerakan. Namun, keberanian ini seringkali disambut dengan tatapan curiga, bahkan menjadi cibiran. Pertanyaan-pernyataan sinis seperti "kok jadi gemulai?" atau "tidak laki banget!" menjadi tembok penghalang bagi laki-laki yang ingin menari dengan bebas.
Padahal, sepanjang sejarah, kita bisa menemukan jejak tarian yang dilakukan oleh para laki-laki dalam berbagai budaya dan konteks. Tarian perang suku-suku kuno yang penuh semangat, ritual keagamaan yang sakral, hingga pertunjukan seni yang memukau semuanya melibatkan laki-laki sebagai penari yang gagah dan berkarisma. Mengapa warisan budaya yang kaya ini seolah-olah terlupakan begitu saja, digantikan oleh stereotip sempit yang membatasi potensi ekspresi seorang laki-laki?
Seni tari bagi laki-laki bukan sekedar rangkaian gerakan tanpa makna. Di dalamnya terkandung cerita, emosi, dan identitas. Melalui tarian, seorang laki-laki dapat menyampaikan kegembiraan, kesedihan, kemarahan, atau bahkan kerentanan dengan cara yang unik dan mendalam. Hal ini juga dapat dijadikan sebagai bentuk komunikasi yang melampaui kata-kata, sebuah cara untuk terhubung dengan diri sendiri dan orang lain pada level yang lebih dalam. Ketika kita melihat seorang laki-laki menari dengan penuh penghayatan, kita menyaksikan keberaniannya untuk menjadi autentik, untuk merayakan maskulinitas yang kaya dan beragam, yang tidak takut untuk mengeksplorasi keindahan dalam setiap gerak. Sudah saatnya kita meruntuhkan tembok prasangka ini dan membuka mata terhadap keindahan maskulinitas yang menari. Jadi sudah seharusnya pandangan dengan pertanyaan, "ada apa dengan maskulin yang menari?" justru diubah dengan "kenapa tidak dari dulu maskulin itu menari dengan bebas?".
Jika dikaji dan dikulik lebih dalam, seni tari yang yang diperankan oleh laki-laki sudah ada sejak dahulu, bahkan dari sumber sejarah yang penulis baca, senyatanya dijelaskan bahwa dari zaman nenek moyang bahkan sebelum ditemukannya tulisan. Dahulu kala, tari ini bukanlah hanya sekedar hiburan semata tetapi juga sebagai bagian penting yang dilakukan dalam ritual keagamaan dan upacara adat, seperti di Suku Bugis yang sering disebut dengan Mappadendang, dalam perayaan prosesi pengungkapan rasa syukur atas hasil panen melibatkan laki-laki sebagai penari utama yang diiringi musik tradisional. Lain dari hal itu, fakta menariknya pada masa itu, laki-laki sering menjadi penari juga karena dianggap sebagai pemimpin upacara yang bahkan bisa terkoneksi khusus terhadap dunia roh atau alam ghaib. Dari hal ini juga, perlu diperhatikan, gerakan tari pada zaman dahulu memang terlihat lebih sederhana tetapi memberikan penuh makna, yang bahkan gearakannya menyimbolkan suatu permohonan keselamatan, keberhasilan berburu, serta harapan-harapan yang dipuja.
Seiring waktu, budaya tari mengalami adaptasi yang sebagaimana masuklah era Hindu-Buddha ke Nusantara, gerakan tari menjadi lebih teratur yang juga terstruktur menggunakan koreografi, kostum, dan iringan musik yang beragam. Sebenarnya banyak tarian yang hanya dibawakan oleh laki-laki saja karena dainggap sakral, contohnya pada tarian Baris yang berasal dari Bali, tersirat yang melambangkan semangat dari kepahlawanan dan pengabdian dari prajurit kepala dewa-dewa yang diyakini oleh masyarakat setempat. Lalu, mulailah pengaruh Islam membawa pengaruh yang signifikan yang membawa perubahan, seperti di daerah Melayu dan Aceh yang melahirkan tarian-tarian berbau Islami, misal Zapin dan Saman. Awalnya, tarian tersebut hanya boleh dibawakan oleh laki-laki saja karena dimanfaatkan untuk media dakwah dan hiburan sesuai dengan ajaran Islam, serta tarian Saman dikenal dengan gerakan yang cepat dan kompak, yang disimbolkan dengan kekuatan dan kebersamaan.
Mengulas balik ke belakang, saat Indonesia dijajah oleh Belanda, terjadinya kesulitan yang dialami oleh masyarakat dalam seni tari karena beberapa tarian tradisional yang identik dengan laki-laki menjadi larangan dan dianggap kuno oleh bangsa kolonial. Meskipun begitu, dengan penuh tekanan dan larfangan, masyarakat Indonesia masih tetap mengusahakan untuk dapat terus melestarikan tarian-tarian secara turun-temurun dengan perlahan diam-diam, hingga dengan adanya tantangan yang datang silih berganti, seni tari pada laki-laki tetap dipertahankan sebagai bagian penting dari budaya Indonesia. Jadi, bagaimana dengan pernyataan yang ada pada kenyataan sekarang? Samakah kita seperti bangsa kolonial yang menganggap remeh laki-laki yang menari?
Sebenarnya, seni tari itu bukan hanya soal menghafal gerakan atau mengikuti pola dan irama yang sudah ada. Melainkan suatu seni yang juga dapat difungsikan untuk mengekspresikan gerakan dengan cara yang unik, orisinal, dan beragam. Kunci utamanya tentu ada pada kreativitas. Penari laki-laki punya potensi besar untuk mengembangkan gerakan yang kuat, dinamis, dan ekspresif, sehingga bisa menambah variasi dan kekayaan dalam seni tari secara keseluruhan. Tapi, kreativitas itu tentunya tidak langsung muncul begitu saja, perlu proses belajar dan pengembangan yang mendukung, di mana penari diberi ruang untuk bereksplorasi dan berinovasi. Metode pembelajaran yang berbasis proyek bisa jadi cara yang efektif, karena penari bisa saling berbagi ide dan menciptakan gerakan baru, bukan hanya mengandalkan gerakan yang sudah ada. Cara ini juga membuat proses belajar jadi lebih menarik dan bisa meningkatkan minat serta semangat terutama bagi penari laki-laki.
Selain itu, belajar sambil bermain juga sangat cocok untuk mengembangkan kreativitas penari laki-laki, terutama pada anak-anak atau remaja, ketika suasana belajar santai dan menyenangkan, tanpa tekanan harus benar atau salah, mereka jadi lebih bebas mengekspresikan imajinasi dan insting geraknya. Mereka bisa coba berbagai bentuk gerakan, tempo, dan penggunaan ruang tanpa takut dinilai. Pendekatan ini tidak hanya dapat memnbuat kemampuan teknis mereka meningkat, tapi juga membentuk kreativitas yang meliputi kelancaran, kelenturan, kepekaan, dan keunikan gerak. Salah satu tantangan terbesar buat penari laki-laki yaitu timbulnya stigma sosial yang terkadang melekat, banyak yang menganggap mereka aneh atau tidak maskulin kalau menari, sehingga sering bikin mereka ragu atau malu untuk mengekspresikan diri lewat tari. Untuk mengubah pandangan ini, peran pendidikan seni dan media sangat penting. Dengan menghadirkan penari laki-laki profesional sebagai contoh dan menggunakan media yang inspiratif, masyarakat bisa mulai melihat bahwa seni tari itu bukan hanya milik satu gender, tapi seni universal yang bisa dinikmati dan dijalankan siapa saja.
Di lingkungan sekolah dan komunitas seni, penting banget untuk menciptakan suasana yang inklusif dan mendukung. Kasih kesempatan penari laki-laki buat tampil dan berkarya secara terbuka bisa meningkatkan rasa percaya diri mereka. Mereka juga bisa jadi tutor atau mentor buat teman-temannya, yang tidak hanya memperkuat kemampuan mereka tapi juga membangun hubungan sosial yang positif. Pengembangan seni dan kreativitas dalam seni tari bagi penari laki-laki tidak hanya berdampak pada kemampuan teknis dan ekspresi artistik, tapi juga pada aspek psikologis dan sosial. Dengan terus mengasah kreativitas dan mengekspresikan diri secara bebas, penari laki-laki bisa meningkatkan rasa percaya diri, mengurangi rasa malu, dan memperkuat identitas diri. Mereka juga belajar bekerja sama, berkomunikasi, dan menghargai keberagaman dalam seni dan kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, keberadaan penari laki-laki yang kreatif dan percaya diri akan memperkaya dunia seni tari secara keseluruhan. Mereka membawa warna baru dalam koreografi, gaya, dan cara menari yang bikin seni ini terus berkembang dan tetap relevan dengan zaman. Seni tari yang inklusif dan kreatif bisa jadi cerminan masyarakat yang terbuka, toleran, dan menghargai keberagaman.
Menari itu salah satu aktivitas fisik yang melibatkan hampir semua otot di tubuh. Bagi penari laki-laki, menari dapat membantu dalam peningkatan kekuatan otot, kelenturan, keseimbangan, dan koordinasi gerakan. Gerakan tari yang beragam dan dinamis juga bisa membuat jantung lebih sehat dan membakar kalori, jadi dapat menjaga keseimbangan berat badan dan kebugaran tubuh secara keseluruhan. Jikalau dibandingkan dengan olahraga biasa yang kadang terasa membosankan, menari justru lebih seru dan sekaligus memberikan manfaat fisik yang maksimal. Selain manfaat untuk tubuh, seni tari juga bagus untuk kesehatan mental. Menari dapat menjadikan penari laki-laki bisa mengekspresikan perasaan dan emosi yang susah diungkapkan dengan kata-kata. Proses kreatif saat menari juga bisa mengurangi stres, kecemasan, dan perasaan sedih. Saat menari, tubuh kita melepaskan hormon endorfin yang bikin mood jadi lebih baik dan merasa lebih santai. Jadi, menari bisa jadi semacam terapi alami untuk menjaga kesehatan mental dan meningkatkan rasa percaya diri, terutama buat penari laki-laki yang kadang merasa tertekan karena pandangan negatif dari lingkungan sekitar.
Mengingat hal ini, penulis terinspirasi dari kisah Didik Nini Thowok, seorqang laki-laki yang memiliki rekam jejak sebagai Akademi Seni Tari di Yogyakarta bahkan saat beliau menari dapat memerankan dua karakter sekaligus, yaitu laki-laki dan perempuan. Dari beliaulah, penulis menyadari sepenuhnya untuk dapat mendobrak streotif bahkan stigma sosial yang melampaui ekspresi secara universal atau meluas yang menjadi batasan. Beliau berani untuk menampilkan dirinya sebagai penari yang dapat membuka mata setiap individu bahwa adanya identitas gender tidak harus terus-menerus dijadikan penghalang dalam berkarya, tentu saja, beliau banyak menguasai tarian di Indoensia, sebagai contoh tari tradisional dari Jawa dan Bali, beliau tidak hany menari tetapi juga dapat menghidupkan filosofi-filososfi dan ritual yang memberikan kesan bermakna.
Kisah tersebut, menjadi hal yang menantang untuk dapat mengubah pandangan sempir yang kerap melekat terhadap laki-laki yang menari, sering dianggap menyimpang, aneh, bahkan melanggar norma. Justru, melalui tarilah dapat membawakan ruang kebebasan berekspresi yang harus dihargai tanpa timbul prasangka, bukankah kita berpedoman pada suatu kebebasan? Siapapun, apapun, dan bagaimanapun, harus tetap terus dihargai tanpa menghakimi. Semestinya, pendidikan seni yang inklusif dan kesadaran sosial yang terbuka harus dapat mendorong generasi muda untuk memahami bahwa keberagaman ekspresi gender dalam seni merupakan kekayaan budaya yang harus dilestarikan, bukan diskriminasi yang harus dihindari. Dengan meneladani perjuangan dan karya Didik Nini Thowok, penulis ingin mengajak untuk menghapus stigma negatif terhadap laki-laki yang menari dan membangun kesadaran bahwa seni tari sebagai bahasa universal yang menyatukan, bukan memisahkan. Pendidikan harus menjadi jembatan yang mengajarkan nilai keberagaman dan penghormatan terhadap setiap individu tanpa memandang gender, sehingga setiap orang dapat mengekspresikan dirinya secara bebas dan penuh percaya diri.
Secara tersadar, beberapa daerah memang mungkin untuk laki-laki yang menari bisa diterima dan dianggap hal yang lumrah, namun ketika penulis mengingat, di daerah penulis tepatnya Bengkulu, masih menganggap penari laki-laki itu dengan hal yang negatif, contohnya saat keberlangsungan perayaan Tabut sebagai tradisi tahunan yang dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Bengkulu dalam menyambut tahun baru Islam pada tanggal 1 Muharram sampai dengan 10 Muharram, nah dari sini salah satu rangkaian acaranya adalah lomba tari kreasi, yang sebagaimana beberapa penggiat seni melibatkan peran laki-laki dalam menari, tetapi selalu saja penulis mendengarkan hal-hal yang negatif terhadap perbincangan masyarakat, perspektif inilah terkadang mematahkan semangat dari beberapa penari laki-laki yang akan tampil di panggung, padahal gerakan yang dilakukan tidak semata-mata seperti gerakan perempuan, memang ada beberapa seniman yang menampilkan untuk gerakan seperti perempuan, tetapi bukankah hal itu harus dinormalisasikan? Secara tidak langsung pun, hal ini terus-menerus menjadi akar yang tidak dapat dirusak.
Pandangan yang menilai laki-laki menari sebagai hal yang aneh sebenarnya mencerminkan keterbatasan dalam memahami seni dan identitas gender. Maskulinitas seharusnya tidak diukur dari jenis aktivitas yang dilakukan seseorang, melainkan dari bagaimana seseorang menghargai dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya. Menari bagi laki-laki bukanlah tanda kelemahan atau sesuatu yang tidak lazim, melainkan sebuah wujud keberanian dalam mengekspresikan diri secara bebas dan kreatif. Banyak laki-laki yang telah berprestasi di dunia seni tari, baik dalam balet, tari tradisional, maupun tari modern, membuktikan bahwa menari dapat memperkuat jati diri sekaligus memperkaya kedalaman karakter seseorang. Jika stigma bahwa laki-laki yang menari itu aneh terus dipertahankan, maka secara tidak langsung kita membatasi ruang ekspresi seni dan menghambat kemajuan budaya yang inklusif. Seni seharusnya menjadi penghubung yang merangkul perbedaan, bukan menjadi alat untuk mendiskriminasi. Oleh sebab itu, sangat penting untuk membuka wawasan dan menerima bahwa menari adalah hak setiap individu tanpa memandang gender. Dengan sikap ini, kita tidak hanya mendukung kebebasan berekspresi, tetapi juga berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih terbuka, kreatif, dan egaliter.
Sudah saatnya kita menegaskan kembali bahwa menari bukanlah hak eksklusif satu gender, melainkan hak universal setiap individu, termasuk laki-laki. Stigma yang selama ini melekat bahkan telah menjadi akar pada laki-laki yang menari hanyalah cerminan dari pemahaman yang sempit terhadap seni dan maskulinitas. Padahal, sejarah dan budaya Indonesia telah membuktikan bahwa laki-laki memiliki peran penting dalam perkembangan seni tari, baik sebagai pelaku utama maupun sebagai penjaga nilai-nilai luhur di balik setiap gerakan. Mari kita hentikan prasangka dan diskriminasi yang membatasi ruang ekspresi laki-laki dalam berkesenian.
Jadikanlah menari sebagai bentuk keberanian, kreativitas, dan ekspresi diri yang layak dihargai serta didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. Sudah terbukti bahwa seni tari mampu memberikan manfaat fisik, mental, dan sosial yang luar biasa bagi laki-laki, serta memperkaya khazanah budaya bangsa. Penulis mengajak seluruh masyarakat, khususnya institusi pendidikan dan komunitas seni, untuk menciptakan lingkungan serta media yang inklusif dan suportif bagi penari laki-laki. Jadikanlah seni tari sebagai ruang yang merangkul keberagaman dan kebebasan berekspresi, tanpa memandang gender.
Penulis berharap, tidak ada lagi laki-laki yang merasa malu atau ragu untuk menari, dan masyarakat semakin terbuka menerima bahwa maskulinitas sejati justru terletak pada keberanian untuk menjadi diri sendiri-termasuk melalui gerakan tari. Dengan demikian, kita akan membangun generasi yang lebih kreatif, toleran, dan menghargai perbedaan, serta melestarikan seni tari sebagai warisan budaya yang hidup dan relevan sepanjang masa. Di tengah gemuruh dunia yang sering kali membatasi ruang ekspresi, laki-laki yang menari kerap dianggap aneh, seolah langkah mereka tak selaras dengan norma yang ada. Namun, di balik pandangan itu, ada harapan yang bagaikan mentari yang menembus kabut pagi, menerangi stigma yang membelenggu gerak tubuh mereka.
Dengan ucapan angin lembut yang mendorong jiwa-jiwa laki-laki untuk menari bebas, tanpa rasa takut dicemooh oleh bayang-bayang prasangka yang selama ini membayangi, bahkan benih pun akan tumbuh di tanah keras, kebebasan menari bagi laki-laki terus berakar kuat, menunggu musim perubahan yang membawa penerimaan dan kebebasan. Dalam gelapnya stereotip, jadikanlah lentera kecil yang akan terus menyala, menuntun setiap laki-laki untuk melangkah dengan percaya diri, menari mengikuti irama hatinya sendiri tanpa harus merasa malu atau terasing. Bagaikan irama musik yang mengalun lembut, mengajak setiap laki-laki untuk menari dengan penuh semangat, membebaskan diri dari belenggu pandangan sempit masyarakat. Seperti pelangi yang muncul setelah hujan badai, suatu hari nanti penerimaan akan datang, menghapus warna kelabu prasangka dan membuka ruang bagi siapa saja untuk menari dengan bebas, tanpa batasan gender. Dengan harapan, penulis penuh mempercayai bahwa dunia akan semakin terbuka, dan setiap langkah tari laki-laki bukan lagi dianggap aneh, melainkan sebuah ekspresi indah dari keberanian dan kebebasan jiwa. Tumbuhlah menjadi jiwa yang beransumsi positif tanpa mencelah, dan teruslah beliterasi.