Sebuah Ulasan; Adakah Ideologi Islam?
Oleh:
Muhamad Alfarozy
Mahasiswa Politik Islam UIN Mahmud Yunus Batusangkar
Pertarungan dua ideologi besar yang saling merebut pengaruh seperi liberalisme/kapitalisme/demokrasi serta variasinya dan juga sosialisme/marxisme/komunisme dan variasinya, di tengah dua pertarungan ideologi tersebut, apakah islam punya konsep lebih bagus dari kedua ideologi itu? Banyak di media sosial, seperti beberapa konten di youtube yang membicarakn ideologi liberalisme, komunisme, islam sebagai perbandingan ideologi. Masing-masing ideologi memiliki kelebihan dan kekurangan. Ideologi yang bertarung ini saling merebut pengaruh kepada masyarakat dunia. Contoh saja di Indonesia, sebelum pra-kemerdekaan tiga ideologi besar itu juga saling merebut pengaruh di masyarakat. Cuma yang menarik, Islam disetarakan dengan ideologi lain.Kalau Islam diposisikan sebagai ideologi, artinya islam setara dengan ideologi yang lain. Sedangkan ideologi adalah hasil pemikiran manusia. Berbeda dengan Islam. Islam adalah wahyu dari Allah SWT.
Tetapi kemunculan ideologi islam itu berasal dari ajaran islam itu sendiri. Ajaran Islam dikonsepsi sebagai ideologi yang mengatur kehidupan masyarakat dan bernegara. Ideologi yang lain hanya bersumber dari pemikiran manusia. Jadi antara Islam dan ideologi memiliki kedudukan yang setara atau tidak? Jawabannya tidak, Islam kedudukannya lebih tinggi dari ideologi. Karena Islam sekali lagi adalah wahyu Allah SWT (Ranuwihardjo, 2000).
Jawaban di atas tidak mengakhiri pertanyaan apakah Islam punya konsep/ideologi yang mampu menjadi alternatif dari dua ideologi besar tersebut. Ideologi Islam punya konsekuensi dalam pembentukan negara Islam. Berbicara negara islam berarti menjelaskan hubungan islam dan negara. Ada tiga paradigma tentang hubungan antara islam dan negara yaitu paradgima integralistik, paradigma simbiotik, paradigma sekularistik.
Tetapi sebelum menjelaskan satu persatu tentang paradigma di atas, kita coba menelusuri perkembangan cikal bakal pembahasan ideologi islam. Setelah masa khulafaur rasyidin cara pikir pemimpin tentang konsep kekuasaan sudah mulai berubah. Banyak tafsiran yang berbeda-beda tentang mekanisme pemilihan kepemimpinan dalam islam. Transisi kepemimpinan antara sahabat itu berbeda-beda. Berbagai dalil dikemukan terkait perdebatan siapa yang menjadi pemimpin umat muslim. Perpecahan islam karena perebutan kekuasaan membuat umat islam dilema, sistem seperti apa yang harus dipakai dalam menjalani kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Berbicara hubungan islam dan negara, kita dapat mengulas tiga paradigma. Paradigma integralistik, hubungan negara dan agama ibarat dua sisi mata koin. Dimana lembaga negara adalah lembaga politik dan keagamaan. Jikalau melanggar aturan negara berarti berarti melanggar aturan agama. Paradigma simbiotik, paradigma ini menjelaskan hubungan agama dan negara saling membutuhkan. Tidak mengatasi dan membawahi. Agama butuh negara untuk berkembang, dan negara butuh agama untuk nilai moral dan spritual. Paradigma sekularistik, ini memisahkan agama dan negara. Agama punya wilayahnya sendiri, negara punya wilayahnya sendiri. Kemudian negara seperti apa yang diinginkan ataupun yang diformulasikan? Tentu kalau berbicara negara islam, memakai paradigma integralistik. Kita bisa melihat bagaimana sistem pemerintahan dalam islam zaman Rasulullah SAW, sahabat, dan dinasti.
Setelah berakhir kepemimpinan sahabat, umat islam dari pimpinan politiknya mengambil jalan kerajaan sebagai sistem bernegara. Kekuasaan diturunkan kepada anak raja. Semua dapat dilihat lahirnya dinasti-dinasti, seperti dinasti ummayyah, dinasti abbasiyah, dan dinasti lainnya.
Umat islam terfokus masa kejayaan dinasti yang sempat berkembang dan maju pada masa itu. Seharusnya kita mencoba melihat dan mengkaji lebih dalam bagaimana Nabi Muhammad SAW menjadi pemimpin di madinah. Bukan berarti kita tidak mengakui kontribusi masa-masa dinasti yang telah membangun peradaban islam di masing-masing puncak kejayaannya.
Berikut beberapa masa khilafah Islam oleh sejarahwan: 1. Khulafaur Rasyidin (632-661M); 2. Khilafah Bani umayah (661-750 M); 3. Khilafah Bani Abbasiyah (750-1517 M); Khilafah Utsmaniyah (1517-1924 M).
Permasalahan juga terjadi dalam tubuh islam itu sendiri. Banyak pemahaman yang berbeda mengenai tafsirnya tentang islam. Banyak artikel, jurnal, karya ilmiah yang lain menganggap islam adalah sebuah ideologi dan ada juga islam bukan ideologi. Banyak argumen yang mendukung masing-masing klaim tersebut.
Menurut Dr. Yusuf Qaradhawi perwujudan ideologi islam adalah dengan berdirinya negara islam sebagai yang menyatukan seluruh dunia islam dibawah satu kepemimpinan berlandaskan syarat islam. Jikalau sistem khilafah hilang berarti hilangnya peradaban islam dan hilangnya negara islam (Jannah, 2019).
Pandangan Abdurrahaman wahid justru berkebalikan dengan pandangan Dr. Yusuf Qaradhawi yang melihat Islam jikalau dijadikan sebuah ideologi politik justru mempersempit karena dibingkai dengan batasan-batasan ideologis dan platform politik. Karena pemahaman yang berbeda dengan kelompok yang menjadikan Islam sebagai ideologi akan dianggap sebagai musuh Islam. Abdurrahaman Wahid melihat watak dasar tafsir ideologi memang ingin menguasai dan menyeragamkan. Dia menyebut kelompok tersebut adalah aktivis garis keras yang mencoba menjadikan Islam sebagai ideologi.
Merujuk A. Dahlan Ranuwihardjo ada perbedaan antara ideologi dan Islam. Sebelum itu, ideologi adalah Seperangkat ajaran-ajaran atau gagasan berdasarkan suatu pandangan hidup untuk mengatur kehidupan Negara/masyarakat di dalam segi-seginya serta yang disusun di dalam sebuah sistim berikut aturan-aturan operasionalnya.
Ada beberapa poin yang membedakan ideologi dengan Islam;
Ideolgi penyusunannya dari seperangkat ajaran menjadi sebuah sistem dari hasil pemikiran manusia.
Ideologi hanya untuk kehidupan dunia.
Ideologi hanya untuk negara tertentu (karena belum adanya negara dunia).
Ideologi dapat berubah dari tempat dan waktu.Kemudian yang membedakan Islam dan ideologi adalah:
Islam adalah wahyu Ilahi, bukan hasil pemikiran manusia.
Islam mengatur kehidupan dunia dan akhirat.
Islam adalah universal, ajaran-ajarannya berlaku dimana saja dan bagi rakyat/bangsa mana saja.Dengan demikian perbedaan Islam dan ideologi terletak pada Islam bukan hasil pemikiran manusia.
Tetapi dalam Islam ada aspek ideologis dan cara untuk memahami aspek ideologis dalam islam, perlu usaha untuk menemukan metodologis memahami isi Al-Quran sebagai berikut:
Ayat-ayat Al-Quran terdiri dari
Ayat muhkam
Ayat mutasyabih yang tidak dapat ditakwilkan
Ayat mutasyabin yang dapat ditakwilkanTetapi kita tidak terlalu dalam menjelaskan bagaimana cara merumuskan ideologi Islam menurut buku yang berjudul “ Menuju Pejuang Paripurna” karya A. Dahlan Ranuwihardjo. Dalam kesimpulannya Islam bukanlah ideologi, tetapi mengandung prinsip-prinsip umum yang universal tentang bagaimana mengatur kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
Berhenti sejenak dengan perdebatan Islam ideologi atau tidak. Inti dari negara islam adalah khilafah islamiyah. Khilafah terakhir adalah khilafah utsmaniyah yang dihapuskan pada 3 Maret 1924. Luas wilayah kekuasaannya adalah ⅔ bagian dunia. Sekarang pertanyaannya adalah apakah konsep khilafah di zaman sekarang masih relevan dengan berdirinya negara bangsa? Apakah konsep khilafah yang bersifat monarki di zaman dinasti adalah sistem terbaik bagi dunia Islam? Kalau kembali ke judul di atas, Islam dituntut untuk memformulasikan sebuah konsep ataupun ideologi untuk menjadi alternatif.
Ketakutan sebagian muslim zaman sekarang kalau islam dijadikan ideologi adalah munculnya kelompok ekstrimis. Tetapi kalau mengacu kepada piagam madinah nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangatlah amat bagus. Dalam piagam yang diakui konstitusi pertama di dunia tersebut, telah diletakkan asas-asas kemasyarakatan seperti, Al-ikha’(persaudaraan), Al-musawah (persamaan), Al-tasamuh (toleransi), Al-tasyawur (musyawarah), Al-ta’awun (tolong menolong), Al-adalah’ (keadilan).
Jikalau tuntutan sekarang adalah islam harus mengkonsepsikan ulang tentang ideologi sebagai alternatif ideologi maka itu keharusan. Menurut Alfajri sukri islam bisa menjadi sebuah ideologi karena banyak nilai-nilai dalam islam. Ideologi dalam islam dalam istilah akademisnya adalah islamisme. Memang ideologi islam adalah hasil pemikiran manusia atas respon dari gagalnya ideologi lain. Walaupun ada beberapa kelompok yang menafsirkan secara text book yang melahirkan kelompok ekstrim. Tetapi itulah gunanya moderasi beragama ( Sukri, 2025).
Sejarah mencatat dalam pengangkatan pemimpin dalam Islam memang dinamis. Karena tidak ada aturan baku dalam proses mekanisme transisi kepemimpinan. Artinya walaupun Al-Quran dan Hadits tidak mengatur secara detail terkait sistem pemerintahan atau kepemimpinan. Ada prinsip-prinsip umum yang menjadi acuan sebagai pedoman.
Dunia sudah berdiri negara bangsa, yang mendahulukan kepentingan nasionalnya masing-masing. Zaman sudah berubah, perlu adanya mengikuti spirit zaman. Konsep khilafah yang batas wilayahnya tidak jelas tentu tidak sesuai dengan sekarang. Ideologi liberalisme dan komunisme adalah ideologi politik dan ekonomi dalam mengatur masyarakat. Walaupun sebagai ideologi eksistensi negara bangsa tetap dipertahankan. Ini soal sistem saja, adanya konsensus dari negara mayoritas islam merumusi ideologi politik dan ekonomi sesuai syariat islam. Tidak perlu menghapus batas negara.
Dalam konteks indonesia, adanya ketakutan penghapusan kultural dalam islam di indonesia. Pengakuan terhadap budaya masing-masing bangsa tetapi di pertahankan. Kita pun tahu bangsa arab pun bersuku-suku. Perumusan ideologi islam dengan diimbangi moderasi beragama adalah ide yang sangat bagus. Perumusan pancasila sama dengan perumusan piagam madinah pada zaman Rasulullah SAW. Islam adalah agama yang mengatur kehidupan privat dan publik. Islam adalah agama yang damai.