Silek Sebagai Alat Pendidikan Karakter
Oleh : Annisa Putri, Mahasiswa Universitas Andalas
Silek adalah seni bela diri tradisonal Minangkabau, Sumatera Barat, Indonesia. Silek berkembang sejak abad ke-13 Masehi yang mana asal usulnya terkait dengan perang antara Kerajaan Pagaruyuang dan Kerajaan Majapahit, silek juga dipengaruhi oleh seni bela diri dari Cina, India, dan Arab.
Silek adalah salah satu seni bela diri tradisional khas etnis MinangKabau yang berasal-usul dari wilayah Sumatera Barat di Indonesia. Silek pada dasarnya menggunakan teknik teknik pertahanan dan penyerangan baik menggunakan senjata ataupun tanpa senjata. Secara asasnya, silek pada mulanya berfungsi sebagai antisipasi pertahanan diri masyarakat MinangKabau untuk menjaga “Nagari Bangso MinangKabau” (tanah Sumatera Barat) dari ancaman musuh yang bisa datang sewaktu-waktu. Pada perkembangannya, silek bukan hanya berfungsi sebagai seni bela diri saja, namun juga dapat sebagai sarana hiburan, salah satu contohnya yakni silek biasanya juga dapat dipadukan dengan drama tradisional khas Minangkabau yang dikenal sebagai Randai.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam situs resminya menegaskan silek adalah seni bela diri tradisional asli Indonesia. Silek sudah ada dari zaman nenek moyang dan diturunkan dari generasi ke generasi hingga saat ini.
Silek merupakan unsur-unsur kepribadiaan bangsa Indonesia yang dimiliki dari budaya yang sudah turun temurun. Hal ini bisa dilihat pada masa penjajahan Belanda, silek sudah ada dan dipakai untuk melawan penjajah. Seni bela diri ini terus berkembang pesat dan terpelihara dengan baik di tengah masyarakat Indonesia. Bahkan silek saat ini telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia tak benda oleh United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
Sejarah Silek Diajarkan di Sekolah
Sejak awal kemerdekaan, Kementrian Pendidikan telah menaruh perhatian kepada pencak silat. Bahkan sebelumnya di zaman kolonial Belanda pun, Ki Hajar Dewantara telah memerintahkan kepada Mohammad Djoemali untuk mengajarkan silek dalam kurikulum sekolah Tamansiswa, kendati hal in dilarang oleh pemerintah Kolonial Belanda.
Tercatat Tamansiswa adalah sekolah formal pertama di Indonesia yang memasukkan pencak silat dalam kurikulumnya, kemudian disusul oleh INS kayu tanam yang dikelola oleh Mohammad Syafei. Selanjutnya, menteri PP dan K (sekarang Mendikbud) Ki Sarmidi pada tahun 1949 memerintahkan Mohammad Djoemali untuk bersafari ke luar jawa mempelajari dan mengiventarisasi Khasanah ilmu pencak silat dari pelosok tanah air.
Manfaat silek dalam pendidikan karakter:
1. Meningkatkan Disiplin: latihan silek membutuhkan kedisiplinan dan kesabaran. Orang yang menguasai silek harus memiliki kesabaran yang luas dan tidak gampang terhasut oleh omongan lawan. Orang yang mempelajari silek juga memiliki keterampilan dalam kedisiplinan baik dari segi waktu maupun perilaku individu.
2. Membangun Kepercayaan Diri: dalam silek kita juga diajarkan dalam melatih kepercayaan diri, baik dalam situasi apapun kepercayaan diri sangat dibutukan. Apalagi saat berada di depan posisi lawan atau depan orang ramai, orang yang mempelajari silek harus terbiasa untuk bersikap percaya diri di depan siapapun dan dalam kondisi apapun.
3. Mengembangkan Empati: dalam silek kita tidak hanya diajarakan bagaimana cara menghindar dan bertahan, tetapi silek juga mengajarkan kita untuk menghormati lawan yang ada di depan. Walaupun kita mempunyai ilmu yang lebih tinggi dari pada orang yang ada di depan kita tapi seorang silek handal tidak akan sombong dan angkuh atas apa yang dikuasainya.
4. Meningkatkan Keseimbangan Emosi: latihan silek membantu mengelola emosi seorang yang mempelajari silek dan mengembangkan rasa kesadaran diri. Seorang pesilat tidak boleh mudah terbawa emosi oleh omongan lawan atau oleh siapapun itu, karena jika ia emosi dan tak stabil maka ia bisa saja menggunakan ilmu silek nya untuk hal yang negatif.
Oleh sebab itu, silek tanpa karakter yang baik hanyalah sia-sia, semua hanya akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Tanpa karakter yang baik, silek bukanlah apa-apa karena adab lebih penting daripada ilmu. Seorang silek yang baik adalah ia yang bisa menempatkan diri ditempat yang sesungguhnya, tidak mudah terbawa emosi apalagi mudah termakan hasutan orang lain. Gunakanlah ilmu silek untuk hal positif dan untuk jadi pertahanan diri dari lawan.