Tari Podang Sebagai Identitas Warisan Budaya dari Payakumbuh
Oleh : Maysah Hanum, Mahasiswa Universitas Andalas
Tari Podang berasal dari Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, sebuah daerah yang kaya dengan tradisi dan budaya Minangkabau. Sejarah tari ini bermula dari nilai-nilai luhur masyarakat Minangkabau yang kaya akan adat dan tradisi. Nama tari “Podang” diambil dari properti yang digunakan yaitu pedang. Gerak tari Podang berasal dari gerakan silat. Tari Podang dikenal sebagai tarian yang menggabungkan seni bela diri dan tarian tradisional.
Dalam menarikan gerakan tari Podang ada beberapa gerak yang dimainkan atau ditarikan secara berulang. Selain itu ada juga gerakan yang dilakukan secara berulang namun dalam jumlah gerakan yang berbeda. Ada 20 gerakan yang dimainkan dalam pertunjukan tari Podang yaitu Gerak Penghormatan atau Salam Pembuka, Gerak Barabah Mandi, Gerak Sewa, Gerak Cubadak Alia, Gerak salam kepada penonton, Gerak Ambiak Podang, Gerak Cubadak Alia pakai Podang, Gerak Sewa pakai Podang, Gerak Manggureh Tanah, Gerak Anggar 7, Gerak Sewa pakai Podang, Gerak Manggureh Tanah, Gerak Anggar 5, Gerak Sewa pakai Podang, Gerak Manggureh Tanah, Gerak Anggar 3 Catuak, Gerak Badansu, Gerak Sipak Pacaraian, Gerak Bagoluik-Gajah Dorong, Gerak hormat atau salam penutup.
Kostum yang dipakai dalam tari Pedang itu adalah baju silek berwaran hitam. Baju silek ini terdiri dari baju taluak balango yang berwarna hitam dan longgar, sarawa gandik atau celana yang berukuran besar yang juga biasa dipakai oleh pemain randai, kain jao yaitu kain sarung batik, dan deta hitam atau penutup kepala. Sedangkan untuk busana pemusik hanya mengenakan baju biasa saja atau mengikuti busana para penari. Baju silek yang dipakai oleh para penari Tari Podang menggambarkan kegagahan, kewibawaan dan kebijaksanaan laki-laki minang dalam kehidupan sehari-harinya.
Upaya pelestarian Tari Podang telah banyak dilakukan, baik oleh pemerintah, komunitas lokal, maupun individu yang peduli terhadap kebudayaan daerah. Program-program pelestarian sering kali melibatkan pendidikan dan pelatihan bagi generasi muda agar tradisi ini tidak hilang ditelan zaman. Sekolah-sekolah dan sanggar tari di Payakumbuh kerap mengadakan pelatihan dan pertunjukan Tari Podang sebagai bagian dari kurikulum atau kegiatan ekstrakurikuler.
Pemerintah setempat sangat berperan dalam mendukung pelestarian Tari Podang dengan cara menyediakan dana, fasilitas, dan regulasi yang mendukung. Festival kebudayaan, lomba tari, dan event pariwisata lainnya sering kali menghadirkan Tari Podang sebagai salah satu daya tarik utama, mengingat kekayaan budaya yang disuguhkannya.
Partisipasi generasi muda dalam upaya pelestarian sangatlah penting. Banyak dari mereka yang menjadi penari, pelatih, atau penggiat komunitas budaya, yang aktif mempromosikan Tari Podang melalui media sosial maupun event-event budaya. Ini adalah langkah positif untuk memastikan bahwa Tari Podang akan terus hidup dan berkembang seiring berjalannya waktu.
Dalam keseluruhan upaya tersebut, sinergi antara berbagai pihak sangat diperlukan untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya Payakumbuh yang sangat berharga ini. Dengan demikian, Tari Podang tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat setempat, tetapi juga menjadi aset budaya Indonesia yang diakui dunia.