Tari Tabuik Pariaman
Oleh : Serly Oktavia, Mahasiswa Universitas Andalas
Tari Tabuik adalah tarian tradisional yang berasal dari Sumatera Barat, khususnya ditampilkan selama festival Tabuik. Tarian ini diciptakan oleh seniman Dindin pada tahun 1987 dan merupakan bagian dari ritual yang memperingati syahidnya Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad Saw. Tari ini biasanya dipentaskan dari tanggal 1 hingga 10 Muharam, seiring dengan rangkaian acara festival Tabuik yang melibatkan berbagai ritual13. Selain sebagai bagian dari upacara, Tari Tabuik juga kini sering ditampilkan dalam festival seni pertunjukan. Tari Tabuik adalah bagian integral dari Festival Tabuik di Pariaman, yang memperingati syahidnya Husein bin Ali. Tarian ini menggambarkan kisah perjuangan dan kesedihan atas kehilangan Husein.
Ritual dan Musik Pendukung:
Tarian ini diiringi oleh alat musik tradisional seperti gendang tabuik, yang memiliki dua muka dan menghasilkan suara nyaring untuk menambah suasana upacara.
Setiap gerakan tari mencerminkan emosi dan nilai-nilai budaya masyarakat Minangkabau.
Tari Tabuik tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian budaya.
Untuk mempertahankan tari Tabuik di era saat ini, beberapa langkah penting dapat diambil:
Partisipasi Generasi Muda: Melibatkan pemuda dalam setiap aspek perayaan, seperti pembuatan dan pelaksanaan, untuk meningkatkan rasa memiliki dan pemahaman mereka terhadap budaya ini25.
A. Pendidikan dan Sosialisasi: Mengadakan seminar, workshop, dan memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan nilai-nilai dan sejarah tari Tabuik kepada masyarakat luas36.
B. Adaptasi Teknologi: Menggunakan teknologi modern untuk promosi dan penyelenggaraan acara, sambil tetap menjaga keaslian dan nilai-nilai tradisional34.
C. Dukungan Pemerintah: Memperkuat kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah untuk mendukung pelaksanaan festival secara berkelanjutan.
Alur penampilan seni pertunjukan tari Tabuik dalam festival di Pariaman mengikuti beberapa tahapan penting:
1. Persiapan: Dimulai dengan ritual seperti mengambil tanah dan menebang batang pisang, yang merupakan bagian dari tradisi Tabuik.
2. Pengarakan: Pada hari puncak, tabuik diarak dengan iringan musik gendang yang menciptakan suasana meriah.
3. Pertunjukan Tari: Penari menampilkan gerakan yang menggambarkan kisah perjuangan, dengan gerakan simbolis yang mencerminkan makna spiritual dan budaya.
5. Penutupan: Pertunjukan diakhiri dengan ritual membuang tabuik ke laut sebagai simbol pengorbanan dan penghormatan kepada Imam Husain