Tradisi : Alek Nagari Sijunjuang Bakua Adat
Nama : Fina Rahmadani
NIM : 2310743002
Kelas/ Jurusan : B/ Sastra Minangkabau
Mata Kuliah : Folklor & Praktek Pembuatan Arsip Budaya
Nagari Sijunjung yang terletak di Sumatera Barat dikenal dengan berbagai tradisi dan adat yang kaya, salah satunya adalah Tradisi Bakua Adat.Nagari Sijunjung berdiri pada abad ke 16 masehi, sesuai dengan ketentuan adat di Nagari Sijunjung, adat ada 4 tingkatan yang bisa disebut dengan Nagari Nan Ampek.
- Pertama Bataratak
- KeduaBadusun
- Ketiga Bakoto
- Keempat Banagari
Nagari Sijunjung ada empat Kotonyo :
- Pertama ada Koto Bukik Sosaik, Pemimpin di dalam Kaumnya yaitu Datuak Bandaro Sati
- Kedua Koto Gunung Medan, pemimpin di dalam kaumnya yaituDatuak Tan Mantari
- Ketiga Koto Danau, pemimpin di dalam kaumnya yaitu Datuak Lubuk Bayo
- Keempat Koto Bukik Kunik, pemimpin di dalam kaumnya yaitu Datuak Pamatang Sati
Tradisi ini merupakan bagian penting bagi masyarakat setempat, tidak hanya mencerminkan nilai-nilai budaya tetapi juga memperkuat tali silaturahmi antar warga. Dalam bahasa Minangkabau “Bakaua” mempunyai arti “Berkumpul” daan “Adat” berarti “Kebiasaan”. Tradisi Bakua Adat adalah ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas panen dan hasil pertanian yang diberikan. Persiapan Bakua Adat dimulai dengan pemberitahuan kepada seluruh warga atau masyarakat setempat. Biasanya bisa dilakukan oleh pemuka Adat atau tokoh masyarakat. Tempat pelaksanaan acara Bakaua Adat adalah di tempat balai pertemuan adat yang disebut “Los Tabek” yang dihadiri oleh Ninik Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai, Bundo Kanduang, dan Bupati Sijunjung beserta Pemerintahan Kabupaten Sijunjung dan Kecamatannya, serta Wali Nagari dan seluruh perangkatnya.
Acara dimulai dengan bararak dari Perkampungan Adat menuju Los Tabek dengan Bundo Kanduang yang membawa Dulang di atas kepalanya, yang dalam bahasa Minang (Manjujuang Dulang)
kepalanya, yang dalam bahasa Minang (Manjujuang Dulang).
Setelah sampainya di Los Tabek seluruh pemuka adat dan masyarakat yang ikut dalam Bararak akan di persilahkan untuk duduk, lalu akan diadakan pembukaan yang biasanya diisi dengan pembacaan doa atau petatah petitih oleh pemuka adat. Doa ini bertujuan untuk memohon keberkahan dan lancarnya acara yang sedang berlangsung. Setelah dilakukannya musyawarah, acara ditutup dengan makan bersama dan doa penutup. Makan bersama dalam Bahasa Minangnya (Makan Bajamba) merupakan simbol kebersamaan dan persatuan warga dalam nagari. Yang dimakan saat Makan Bajamba ini adalah isi dari Dulang yang sudah dibawa oleh Bundo Kanduang pada saat Bararak, yang berisikan nasi, lauk pauk, dan buah-buahan yang dimana memang dimasak sendiri.
Tradisi Bakaua Adat memiliki banyak nilai dan makna bagi masyarakat Sijunjung salah satunya adalah sebagai pelestarian budaya yang dimana Bakaua Adat menjadi sarana untuk melestarikan adat dan budaya lokal yang telah diwariskan oleh nenek moyang atau leluhur. Selanjutnya sebagai pendidikan agar generasi muda tahu dan diajarkan tentang pentingnya adat dan bagaimana berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Di era modern ini tradisi Bakaua Adat menghadapi berbagai tantangan seperti perubahan gaya hidup dan pengaruh budaya dari luar. Tetapi masyarakat nagari sijunjung tetap berusaha menjaga dan melestarikan tradisi Bakaua Adat supaya dapat dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya, sehingga nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya tidak hilang.