Tradisi Ma Anta Ka Rumah Mintuo Saat Lebaran
Oleh: Dinda Aura Putri
Bermacam-macam tradisi dan kegiatan dilakukan saat lebaran tiba, lain daerah lain pula tradisi masyarakat nya. Keunikan inilah yang menjadi ciri khas setiap daerah di Indonesia. Diantara banyaknya tradisi tersebut, salah satu tradisi yang sangat menarik adalah tradisi Ma Anta ka Rumah Mintuo Saat lebaran. Seperti apa keunikan tradisi ini jika dilihat dari banyak sisi?.
Di Padang Pariaman ada sebuah tradisi yang unik dalam menikmati suasana lebaran, tradisi itu adalah Ma Anta Ka rumah mintuo Saat lebaran. Merupakan sebuah tradisi yang berasal dari dua dasar kata, yang pertama adalah Ma anta dan Ka rumah Mintuo. Ma anta mempunyai arti menghantarkan, mengunjungi, atau berkunjung, sedangkan Ka Rumah Mintuo adalah ke rumah mertua. Jadi tradisi Ma Anta ka rumah mintuo saat lebaran adalah sebuah acara atau kebiasaan ketika menantu mengunjungi rumah mertua saat lebaran dengan membawa buah tangan seperti rantang, ayam sunggiang (ayam yang digoreng satu ekor), lauk pauk, Kue dan buah tangan lainnya.
Ma Anta ka rumah mintuo saat lebaran dilakukan oleh para pengantin- pengantin baru, yang baru satu sampai tiga tahun menikah, setelah itu boleh tidak rutin lagi. Ma Anta ka rumah mintuo dilakukan oleh menantu perempuan ke rumah mertua nya, atau ibu dari suaminya. Tradisi ini dilakukan saat minggu pertama lebaran. Namun dibeberapa daerah di padang pariaman seperti daerah Sintuk Toboh Gadang, ma anta lebaran tidak hanya ke rumah orang tua suami saja, tetapi juga ke rumah Mamak (adik atau kakak laki-laki ibu) suami.
Jika Mamak suami banyak, maka semakin banyak juga rantang yang akan diantarkan. Begitulah aturan tidak tertulis nya, karena jika ada sebagian mamak di anta lebaran, tetapi sebagian lain tidak, tentu saja ini dapat menyebabkan kecemburuan sosial antara mamak. Mamak pun pasti bertanya kepada kemenakannya kenapa ke rumah Ia tidak di Anta, hal ini akan menjadi tidak enakan antara mamak dan kemenakan.
Pada dasarnya ma anta lebaran adalah silaturahmi seorang menantu yang baru menikah dan menjadi bagian dari keluarga suaminya, karena lebaran adalah momen di saat semua orang berkumpul. Di hari biasa mungkin banyak yang sibuk dengan pekerjaan ataupun yang berada di rantau, tetapi di saat lebaran semuanya berkumpul di rumah, inilah yang menjadikan ma anta dilakukan di saat lebaran karena semuanya ada berkumpul.
Dibalik suatu tradisi yang dilakukan tentu ada ada makna sendiri dibaliknya, begitupun dengan tradisi Ma anta ka rumah mintuo saat lebaran ini. Makna tersirat yang pertama sekali adalah Silaturahmi dan mengenalkan menantu kepada pihak keluarga laki- laki. Di hari lebaran semuanya berkumpul di rumah, sehingga akan lebih mudah untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan kerabat suami, sehingga istri saling mengenal dengan kerabat suami.
Makna yang kedua adalah sebagai bentuk penghormatan dari seorang menantu yang baru menikah kepada keluarga pihak laki-laki. Mertua atau mamak yang di anta lebaran akan merasa di hormati oleh menantunya, Ia akan merasa bahwa menantu nya tersebut masih ingin berkunjung dan mengetahui keadaan keluarga suaminya. Makna yang ketiga adalah bahwa adat Minangkabau telah mengatur mengupayakan agar hubungan antara menantu dan keluarga suami tidak terputus.
Walaupun begitu banyak hal positif dari ma anta lebaran ke rumah mintuo, tetapi dibalik semua itu juga ada terdapat beberapa kekuranga. Kekurangan dan hal negatif yang paling pertama adalah, terlalu banyak membutuhkan uang. Karena ma anta tidak dengan tangan kosong saja tetapi membawa beberapa hantaran makanan, dalam satu kali ma anta biaya yang dibutuhkan bisa mencapai 200-500 ribu rupiah. Dari pembelian bahan hingga memasaknya, bisa dibayangkan jika satu kali ma anta dibutuhkan dana 300 ribu, ada sepuluh tempat untuk ma anta lebaran, di mulai dari rumah mertua hingga mamak suami.
Berarti pengantin baru tersebut harus menyiapkan uang tiga juta rupiah untuk ma anta lebaran saja. Sama-sama dipahami tidak semua pasangan pengantin baru memiliki finansial yang cukup dan mapan. Terlebih lagi di hari raya pengeluaran juga banyak, tentu saja hal ini sangat memberatkan bagi pengantin baru tersebut. Memang sepulang ma anta lebaran, rantang yang dibawa tadi tidak dikembalikan dengan kosong saja, biasanya di isi dengan uang.
Tetapi tidak selalu apa yang dibawa setimpal dengan uang yang diberikan oleh mertua atau mamak suami yang di anta lebaran. Jika pihak mertua dan mamak yang di Anta lebaran memiliki kelebihan secara ekonomi tentu saja mengasih uang yang besar pula, syukur- syukur bisa menutupi modal yang dibawa. Tetapi bagaimana tidak jarang apa yang dibawa tidak sebanding dengan uang yang dikasih oleh kerabat suami yang di anta lebaran.
Memang tujuan ma anta lebaran bukanlah untuk mencari uang atau memberi supaya dibalas kembali, tetapi untuk silaturahmi yang tidak terputus. Lantas bagaimana jika untuk ma anta lebaran dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, tentu saja pengantin baru ini juga membutuhkan uang. Sama kita pahami bahwa pengantin baru adalah masa yang sangat susah, waktu merakit kehidupan rumah tangga dan tentu saja banyak keperluan yang harus di penuhi, dari tempat tinggal hingga makanan dan pakaian yang layak.
Perlu disadari bahwa ma anta lebaran hanyalah tradisi yang tidak bersifat wajib atau harus dilakukan, dan semestinya hal ini tidak perlu dipaksakan jika ada pengantin baru yang kurang dalam segi finansial. Begitu pula dengan mertua atau mamak yang dihantarkan Ma anta lebaran seharusnya juga mempunyai pengertian bahwa menantu kita baru merintis rumah tangga dan membutuhkan banyak uang, sehingga apabila menantu yang datang Ma anta lebaran seorang mamak dan mertua harus bijak mengisi rantang yang dibawa. Jadikanlah Ma anta lebaran ini sebagai momen untuk mertua dan mamak untuk membantu menantu dan anaknya, kalau bisa diberi uang yang setimpal dengan harga hantaran makanan yang dibawa, dan kalau bisa dilebihkan untuk niat membantu.
Semoga saja semua kekayaan tradisi dan keberagaman budaya di daerah kita selalu terjaga sampai kapanpun. Jangan hanya karena banyak kemajuan yang datang kita lupa untuk terus melakukan tradisi yang telah berkembang dari dahulu di daerah kita. Sebuah tradisi tidak akan punah selagi masyarakat nya masih menjaga dan melestarikan apa yang mereka miliki.
Penulis: Dinda Aura Putri, Mahasiswa Prodi Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.
Aktif berkegiatan di Lembaga Mahasiswa Jurusan (LMJ) Sastra Minangkabau.