Tradisi Masyarakat Padang Menjelang Ramadhan Hingga Hari Raya
Ditulis oleh Fahresa Jufrina, Mahasiswa Universitas Andalas Jurusan Sastra Minangkabau
Minangkabau merupakan kelompok etnis yang berasal dari sumatera barat. Etnis Minang sangat berpedoman pada adat dan ajaran Islam dengan petatah petitihnya yang terkenal “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”. Petatah petitih di atas menjelaskan bahwa adat serta tradisi yang ada di Minangkabau harus sesuai dengan ajaran Islam serta bersumber dari hadits Rasuulullah. Dari petatah petitih di atas jugalah yang secara tidak langsung menyatakan bahwa orang Minang ialah penganut agama Islam. Karena saling berhubungan jadi tak heran di tanah Minang memiliki beberapa tradisi baik menjelang bulan Ramadhan maupun di hari raya sendiri. Pada setiap tradisi yang ada juga memiliki keunikan tersendirinya dan masih berkembang dimasyarakat hingga saat sekarang.
Mambantai
Mambantai merupakan sebuah tradisi yang ada di Sumatera barat. Biasanya kegiatan ini berlangsung satu hingga dua hari lamanya. Tradisi ini dilakukan saat menjelang masuknya bulan suci Ramadhan dan di hari terakhir Ramadhan atau sehari sebelum hari Raya. Pada tradisi mambantai ini para penjual akan menyembelih hewan ternak mereka seperti kerbau atau sapi. Adapun keunikan dari tradisi mambantai ini ialah sapi atau kerbau akan disembelih langsung pada tempat berjualan dan lokasi untuk berjualan akan selalu sama di setiap tahunnya. Pemilihan lokasi untuk berjualan juga sangat harus diperhatikan para pedagang. Biasanya pedagang akan berjualan pada daerah yang ramai seperti di tepi jalan raya sehingga dapat dilalui kendaraan roda dua dan roda empat. Seperti di jalan Raya Kuranji tepatnya di simpang empat Kuranji dan di Gunung Sarik. Pada tradisi mambantai ini para pedagang akan berjualan dengan menggunakan tenda dan dilengkapi meja. Antusias masyarakat cukup tinggi dalam tradisi mambantai ini, daging yang dibeli biasanya akan diolah menjadi berbagai jenis makanan seperti rendang, bagar atau kalio, dendeng, sop, dan sebagainya.
Balimau
Tradisi balimau ialah tradisi yang bertujuan untuk membersihkan diri dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Tradisi balimau ini dapat diikuti oleh semua usia mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Sebagai pelengkap tradisi balimau biasanya dibutuhkan beberapa bahan-bahan seperti jeruk nipis, pandan, bunga mawar, dan buah kamilu (dalam bahasa Minang). Untuk proses pembuatannya ialah pertama-tama buah kamilu digiling hingga halus, daun pandan dan limau di iris setipis mungkin, dan kemudian semua bahan-bahan tersebut dicampurkan menjadi satu dalam sebuah wadah untuk dapat digunakan pada kegiatan balimau, namun sayangnya saat sekarang ini tidak banyak lagi orang yang menggunakan limau untuk pelengkap balimaunya. Kegiatan balimau dilakukan pada sore hari tepatnya sesudah sholat ashar, sehari sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Tradisi balimau ini dilakukan masyarakat disungai atau batang ayia seperti batang ayia Kuranji, batang ayia Lubuk Minturun, dan Tampat Gunuang Nago.
Malamang
Pada beberapa daerah khususnya Pariaman malamang merupakan sebuah tradisi yang kerap dilakukan masyarakat dalam menyambut bulan tertentu, yang mana bulan tersebut dianggap baik oleh orang Minang. Selain itu tradisi Malamang juga dilakukan saat menjelang masuknya bulan Ramadhan, saat lebaran Idul Fitri ataupun Idul Adha, dalam peringatan Maulid Nabi, serta kegiatan baralek (pesta pernikahan), bahkan perayaan hari kematian seperti tagak batu. Malamang ialah nama lain dari proses memasak lemang/ lamang. Bahan yang dibutuhkan dalam memasak lemang ialah beras ketan atau yang dikenal masyarakat Minang dengan sebutan sipuluik, santan kental, bambu berukuran menengah, daun pisang yang masih muda, serta garam. Pada proses pembuatannya ketan yang sudah dicuci akan dimasukkan kedalam batang bambu yang sudah di alas daun pisang dan selanjutnya diberi santan yang telah bergaram. lalu lemang tersebut akan disandarkan pada besi agar santan di dalamnya tidak keluar. Dan selanjutnya lemang akan dibakar dengan menggunakan sabut kelapa.
Kapusaro
Kapusaro merupakan kegiatan berziarah. Biasanya kapusaro dilakukan bersama-sama oleh setiap keluarga untuk melakukan gotong royong membersihkan pemakaman. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk permintaan maaf sebelum memasuki bulan Ramadhan. Dalam gotong royong orang-orang akan membawa peralatan berupa cangkul atau sabit yang berguna untuk membersihkan rumput-rumput dan pohon-pohon liar di sekitar kuburan. Waktu kapusaro biasanya dilakukan seminggu sebelum masuknya bulan suci Ramadhan. Tradisi kapusaro ini merupakan hal yang wajib bagi masyarakat Minang.
Pulang Basamo
Pulang basamo merupakan kegiatan rutin yang dilakukan para perantau untuk kembali ke kampung halamannya dengan petatah petitinya “satinggi-tinggi tabangnyo bangau, baliknyo ka kubangan juo”. Bulan Ramadhan ialah waktu yang tepat bagi para perantau untuk pulang ke kampung halamannya. Para perantau yang pulang akan disambut hangat oleh keluarganya dikampung. Para perantau yang berasal dari daerah yang sama biasanya akan mendirikan sebuah organisasi di perantauan guna tetap menjalin kedekatan dengan sesama perantau. Bersama dengan komunitas tersebutlah para perantau akan melaksanakan pulang basamo. Biasanya para perantau akan pulang bersama pada hari yang telah ditentukan dan kembali ke perantauan bersama-sama lagi dengan menggunakan bus. Puncak perayaan pulang basamo biasanya akan diadakan di masjid atau musala dikampungnya dengan mengadakan beberapa kegiatan islami.
Malam takbiran
Malam takbiran merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan pada malah hari menjelang hari raya dengan rute mengelilingi kampung. Kegiatan ini akan dimulai setelah salat isya dengan membawa sebuah obor api dari bambu. Malam takbiran ini biasanya dimeriahkan oleh anak-anak dan remaja yang mana selama bulan suci Ramadhan telah melaksanakan pesantren Ramadhan di masjid atau musala terdekat.
Halal bihalal
Kegiatan halal bihalal biasanya mulai dilakukan setelah salat raya. Tradisi ini biasanya dilakukan pada rumah yang telah ditentukan seperti rumah orang tua atau nenek. Di rumah tersebutlah keluarga saparuik akan berkumpul untuk saling bermaaf-maafan. Dalam kegiatan halal bihalal ini biasanya para menantu akan membawa buah tangan dalam bersilaturahmi seperti membawa kue bolu. Setiap kue yang dibawa akan dihargai orang rumah dan digantinya dengan sejumlah uang. Uang tersebut akan diberikan kepada yang membawa atau kepada anak yang membawa kue tersebut.
Manambang
Manambang merupakan kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak dalam upaya mengumpulkan THR. Anak-anak yang menambang biasanya akan membentuk kelompok yang terdiri mulai dari 2 orang. Anak-anak yang bergerombolan ini akan mengunjungi setiap rumah-rumah dengan bersalaman dan mengharapkan mendapatkan THR dari pemilik rumah. Keunikan tradisi manambang ini ialah kelompok anak-anak tersebut akan berkunjung tanpa adanya dampingan dari orang dewasa. Setiap anak-anak yang pergi manambang pasti akan membawa tas atau dompet bahkan sengaja mengenakan celana yang memiliki banyak saku. Dalam menambang anak-anak terebut tidak akan lama untuk bertamu, biasanya mereka hanya bertamu 2-3 menit agar dapat mengunjungi lebih banyak rumah.