Tradisi 'Mauluik' Pada Nagari Sicincin
Oleh : Vannesa Maharani Putri
Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas AndalasPerayaan hari kelahiran Nabi atau maulid Nabi Muhammad SAW dilaksanakan dengan berbagai cara yang spesifik di berbagai daerah di Sumatra Barat. Salah satunya adalah perayaan maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan di Nagari Sicincin, Kecamatan 2 X 11 Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Maulid Nabi di Nagari Sicincin secara spesifik ada yang disebut mauluik gadang, yaitu perayaan maulid yang dilakukan secara besar, megah, dan meriah oleh seluruh komponen dan lapisan masyarakat Nagari Sicincin. Mauluik gadang hanya dilakukan sekali dalam dua tahun. Waktu sela di antara dua tahun itu, tetap dilakukan ritual mauluik yang dinamakan mauluik ketek (maulid kecil) yang hanya diadakan di setiap korong atau kampung yang ada di Nagari Sicincin secara terpisah dengan waktu yang berbeda pula.
Setiap perayaan mauluik gadang di Nagari Sicincin, bagian ritual yang selalu dihadirkan adalah mengarak bungo lado, yaitu berupa benda-benda arakan yang ditempeli sejumlah uang pada ranting kayu dan benda-benda lainnya. Arak- arakan bungo lado ini lebih umum di Nagari Sicincin disebut tabuik.Bungo lado/tabuik diarak dari berbagai arah yang berasal dari korong (kampung) yang ada di Nagari Sicincin ke masjid utama nagari yang selalu diiringi oleh gandang tasa. Pengertian tabuik pada perayaan mauluik gadang di Nagari Sicincin tidak sama dengan pengertian tabuik di Kota Pariaman
Tradisi ini dilaksanakan pada waktu peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di banyak surau dan masjid. Mauluik memiliki daya tarik tersendiri dalam tradisi masyarakat. Masing-masing Labai piawai dalam memainkan suara yang khas. Mereka akan menempati sekeliling bahagian depan surau atau masjid, duduk bersila di atas kasur, kemudian secara bergantian menyampaikan pesan-pesan agama dengan bersahut-sahutan.
A. Pelaksanaan Mauluik Gadang di Nagari Sicincin
Setiap pelaksanaan perayaan mauluik gadang di Nagari Sicincin ada beberapa tahap pekerjaan yang dilakukan secara bersama oleh unsur-unsur tokoh masyarakat dan masyarakat dalam Nagari Sicincin.
1. Persiapan
Sebelum upacara mauluik gadang dilangsungkan, diadakan musyawarah di Masjid Raya Nagari Sicincin. Musyawarah dihadiri oleh pemuka masyarakat terdiri dari niniak mamak, alim ulama, dan pemuka masyarakat lainnya di Nagari Sicincin yang terdiri dari empat korong, yaitu: Pauh, Bari, Sicincin, dan Ladang laweh. Dalam Nagari Sicincin terdapat tujuh suku, yaitu: koto, sikumbang, guci, pinyalai, jambak, tanjuang dan mandailiang Tujuan dari musyawarah tersebut untuk mencari kesepakatan kapan akan dilangsungkannya acara perayaan mauluik gadang. Menjelang tanggal 12 Rabbiul Awal masyarakat masing-masing suku/kaum melangsungkan acara manyonsong bulan di surau kaum masing-masing sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan bersama. Pelaksanaannya dilakukan secara bergantian di setiap malamnya. Beberapa hari menjelang hari mauluik gadang masyarakat diminta untuk mengadakan gotong royong membersihkan masjid dan pekarangan disekitarnya. Selanjutnya satu hari menjelang upacara berlangsung, tepatnya pada hari jumát malam, masyarakat bekerjasama untuk membuat ruang untuk memajangkan paminum kopi yang merupakan perwakilan dari masing- masing kaum, serta sekaligus tempat tersebut berfungsi untuk tempat duduk urang siak selama badikie.
2. Pelaksanaan
Mauluik gadang dilaksanakan oleh seluruh masyarakat Nagari Sicincin yang berlangsung selama dua hari. Waktu pelaksanaannya dilangsungkan pada hari Sabtu dan Minggu. Adakalanya waktu yang dipilih itu bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal, ada juga yang dilangsungkan beberapa hari setelah itu, bahkan beberapa minggu, sesuai dengan hasil kesepakatan yang dilakukan oleh para pemuka masyarakat dan unsur yang berwenang dalam mayarakat Nagari Sicincin. kegiatan yang dilakukan dalam perayaan mauluik (mauluik gadang) di Nagari Sicincin sebagai bagian ritual, yaitu: malamang, mahanta kue, bajamba, dan badikie.
2.1 Malamang
Malamang atau memasak lemang
sudah menjadi suatu tradisi bagi masyarakat Nagari Sicincin. Begitu juga halnya dalam upacara mauluik gadang, masyarakat menyemarakkan dengan memasak lamang di rumah masing- masing. Proses pembuatan lamang atau malamang biasanya dilakukan sejak pukul 16.00 sore, dimulai dengan mempersiapkan buluah (sejenis talang), daun pisang, santan, merendam pulut, dan lain-lain. Lamang mulai dibakar sekitar pukul 06.00 pagi besok harinya. Lamang dibakar dengan memgunakan kayu, tempurung, dan sabut kelapa, yang sudah dipersiapkan beberapa hari sbelumnya. Kegiatan malamang biasanya baru selesai sekitar pukul 10.00-11.00 siang.
2.2. Mahanta kue
(paminum kopi) Mahanta kue adalah aktivitas mengantarkan kue dan jenis makanan lainnya seperti minuman kopi ke masjid yang dilakukan oleh para anggota keluarga masyarakat Nagari Sicincin sebagai bentuk partisipasi dan eforia untuk memeriahkan perayaan mauluik. Hal itu sudah menjadi bagian tradisi perayaan mauluik gadang di Nagari Sicincin, yaitu setiap kelompok suku/kaum memperagakan bawaan mereka berupa kue-kue dan aneka jenis makanan-makanan kecil yang dibawa ke masjid. Disini jelas terlihat bahwa mereka sangat memprioritaskan segi kuantitas dan kualitas dari bawaan tersebut. Bahkan, secara tidak langsung pada saat suasana ini terlihat semacam adanya perlombaan dari masing-masing kaum/suku. Mereka menata seindah mungkin bawaan dari kaum/suku mereka masing-masing. Tujuannya adalah agar bawaan mereka dinilai sebagai tampilan terbaik oleh orang-orang yang melihat nantinya
2.3 Bajamba
Jamba adalah berbagai jenis lauk-
pauk seperti ikan, ayam, telur beserta nasi yang diletakkan dan ditata di atas dulang, yang ditutupi dengan tudung saji dan kain dalamak di atasnya. Pada hari terakhir mauluik gadang di Nagari Sicincin, masyarakat, khususnya kaum ibu, membawa jamba dan beserta lamang ke masjid. Aktivitas membawa jamba tidaklah merupakan kewajiban, masyarakat melakukannya secara suka rela. Jamba diperuntukkan kepada urang siak, yaitu kelompok alim ulama tradisional, seperti labai, katik dan sebagainya, dan anggota masyarakat (khususnya laki-laki) yang telah membawa arak-arakan tabuik yang diiringi oleh musik gandang tasa dari korong masing-masing.
2.4 Badikie
Pembacaan dzikir atau badikie
sesungguhnya adalah merupakan inti dari upacara peringatan Maulud Nabi. Ini adalah untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang diwujudkan melalui pembacaan dikie mauluik, yaitu kitab sastra Arab Syaraful Anaam yang mengisahkan tentang peristiwa kelahiran dan keutamaan sifat Nabi Muhammad SAW beserta perjuangannya dengan para sahabat- sahabatnya dalam menegakkan agama Islam. Dalam pembacaan dikie mauluik tersebut sesungguhnya dapat dilihat berbagai bentuk dan unsur seni yang terdapat didalamnya, seperti seni sastra dan seni suara. Dikie adalah sebagai ungkapan rasa terima kasih dan rasa syukur terhadap Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada umat manusia.
Badikie dalam perayaan mauluik gadang di Nagari Sicincin dilakukan oleh urang siak dari empat korong yang ada di Nagari Sicincin, dan biasanya ada juga tukang dikie yang diundang dari nagari lain di sekitar Kecamatan 2 X 11 Enam Lingkung dan Kecamatan VII Koto Sungai Sariak. Badikie dimulai sekitar pukul 22.00 atau 23.00 dan berlangsung sampai menjelang subuh. Setelah istirahat beberapa jam, sekitar pukul 09.00 dikie kembali dilanjutkan sampai menjelang waktu salat Ashar.