Tradisi Unik Masyarakat Nagari Singgalang dalam Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Oleh : Rahul Adelson
Dari : Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas
Mengenal tradisi dan kebudayaan di Minangkabau, tidak asing di kalangan masyarakat sekarang bahwa Minangkabau memiliki keunikan tersendiri tentang keberagaman budaya nya. Terdapat bermacam-macam tradisi di setiap daerah dan menjadi nilai-nilai penting dalam masyarakat tersebut. Salah satu tradisi di Minangkabau yang masih ada sampai sekarang ialah menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi tersebut adalah Ratik tulak bala yang merupakan tradisi dengan beberapa ciri khas. Ritual ini biasanya dilakukan sebelum bulan Ramadhan tepatnya 10 hari menjelang Ramadhan, Ritual ini terdapat di Nagari Singgalang, Kabupaten Tanah Datar , Sumatera Barat. Kegiatan ini didukung oleh lembaga setempat misalnya Wali Nagari, Kerapatan Adat Nagari, dan terkhususnya Lembaga Alim Ulama yang ada di Nagari tersebut. Prosesi ritual ini dilakukan selama 3 hari dan dimulai sesudah shalat isya berjamaah. Pada hari pertama ritual ini dimulai dari Masjid Raya Singgalang yang berada di Jorong Kota yang dimana masjid tersebut sebagai masjid tertua yang ada di Nagari tersebut dan berakhir di lapang bola kaki di Jorong Sikadunduang. Ritual ini dilakukan dengan berkeliling nagari dengan berjalan kaki sambil melafalkan kalimat tahlil yang dilafalkan sepanjang jalan. Pada hari ke 2, ritual ini dimulai dari masjid raya dengan rute perjalan yang melingkar dan berakhir di lapangan bola kaki Nagari Singgalang yang berada di Jorong Subarang. Pada hari ke 3 atau terakhir ritual ini tetap dimulai dari masjid raya dan berakhir di gerbang Nagari Singgalang yang berada di Jorong Sikabu. Ritual Ratik Tulak Bala merupakan bagian dari tradisi keagamaan komunitas Shattariya di wilayah tersebut. Masyarakat menganggap ritual ini sangat penting karena berkaitan erat dengan keselamatan warga Nagari dari berbagai jenis bencana seperti bencana alam, seperti wabah penyakit berbahaya, dan kelaparan. Ritual ini meliputi pembacaan dzikir serta berjalan kaki mengelilingi nagari dengan penerangan dengan menggunakan obor. Ritual ini telah dilakukan sejak lama dan mencerminkan perpaduan antara praktik keagamaan Islam dan tradisi budaya lokal masyarakat Minangkabau di Nagari Singgalang. Implementasinya menunjukkan pentingnya aspek spiritual dalam kehidupan masyarakat untuk mengatasi tantangan dan menjaga keselamatan kolektif.
Ritual Ratik Tulak Bala Nagari Singgalang terutama ditujukan untuk menangkal kejahatan dan bencana yang dapat mengancam kehidupan warga Nagari. Kepercayaan masyarakat setempat berpendapat bahwa ritual ini akan melindungi dari bencana alam seperti gempa bumi, banjir, dan tanah longsor. Selain itu, kami juga berdoa agar terhindar dari wabah penyakit yang mungkin menyerang Nagari. Ritual ini juga mempunyai nilai positif dalam identitas Nagari Singgalang.Dengan menyelenggarakan Ratik Tulak Bala, masyarakat setempat dapat mempererat tali persaudaraan antara umat Syattariyah Tarekat dengan masyarakat umum. Ritual ini menjadi momen yang mempersatukan mereka untuk menghadapi tantangan serta menjaga keamanan dan kesejahteraan bersama. Ritual Ratik Tulak Bala juga mencerminkan akulturasi antara Islam dan kepercayaan lokal yang ada di masyarakat. Meski ritual ini merupakan tradisi keagamaan, namun unsur budaya lokal tetap ada dalam pelaksanaannya.Hal ini menunjukkan keragaman dan kekayaan budaya yang ada di Nagari Singgalang. Meski zaman dan kemajuan teknologi telah membawa perubahan pola pikir dan praktik keagamaan, namun tradisi Ratik Tulak Bala tetap dipertahankan oleh masyarakat setempat. Meskipun sebagian umat Islam mungkin tidak mempercayai adat ini, ritual ini masih dilakukan hingga saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi ini mempunyai nilai penting dan tidak tergantikan bagi masyarakat Nagari Singgalang. Kesimpulannya, ritual Ratik Tulak Bala di Nagari Singgalang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat merupakan tradisi yang mempunyai nilai penting dalam kehidupan masyarakat setempat. Ritual ini mencerminkan kombinasi praktik keagamaan Islam dan tradisi budaya lokal. Implementasinya menunjukkan pentingnya aspek spiritual dalam mengatasi tantangan dan menjaga keselamatan kolektif. Ritual ini juga sebagai sarana mempererat tali persaudaraan antara komunitas Shattariya dengan masyarakat umum. Meski perkembangan zaman membawa perubahan, namun tradisi Ratik Tulak Bala tetap menjadi bagian dari identitas dan kekayaan budaya Nagari Singgalang.