UNGKAPAN MINANGKABAU INGEK-INGEK NAN DI ATEH, NAN DI BAWAH KOK MAIMPOK
Oleh : Maysah Hanum dari mahasiswa sastra Minangkabau Universitas Andalas Padang
Budaya Minangkabau dikenal dengan petatah/petitih ataupun ungkapan adatnya yang bukan saja unik namun memiliki kata kias dan makna yang dalam. Ungkapan merupakan bentuk kata-kata kiasan yang ada di Minangkabau. Ungkapan Minangkabau juga berisi kata-kata pepatah mengenai filosofi hidup. Kata-kata ungkpan ini terdiri dari kalimat yang ringkas, adanya perbandingan dan perumpamaan, nasihat dan prinsip hidup serta aturan dalam bertingkah laku.
Pepatah atau ungkapan Minangkabau biasanya tidak terang-terangan dalam menyampaikan sesuatu dan maksud tertentu. Hal ini agar tidak menimbulkan ketersinggungan dalam menyampaikan maksud dan tujuan kepada seseorang. Secara sederhana sama seperti adanya basa basi sebelum menyampaikan sesuatu. Pepatah biasanya memiliki makna yang luas dan adanya kalimat kiasan yang memiliki maksud tertentu.
Salah satu ungkapannya yang berbunyi Ingek-ingek nan di ateh, nan di bawah kok maimpok. Ingek ingek berarti hati hati atau memperingati, nan di ateh berarti sesuatu yang berasal dariatas atau bisa kepada orang yang berada di atas yang bisa disebut dengan pemimpin, nan dibawah berarti sesuatu yang berasal dari bawah atau merujuk kepada orang orang yang tidak memiliki pangkat atau bisa disebut dengan masyarakat, maimpok berarti menimpa atau tertimpa sesuatu atau perbuatan.
Secara harfiah, kita akan memaknai kalimat diatas sebagai kalimat yang tidak konsisten, masa ada dari bawah yang akan menimpa, bukankah menimpa itu mengenai sesuatu yang berasal dari atas?, tetapi mengapa pada peribahasa ini yang menimpa bisa dari bawah?. Itulah kayanya Minangkabau dalam menggunakan kata-kata kiasan.
Dengan mendengar kalimat diatas, maka makna yang bisa dipahami diantaranya adalah, Kita mesti waspada akan segala sesuatu, baik yang datangnya dari atas maupun dari bawah termasuk dari sebelah kiri atau kanan, Ketika kita fokus akan resiko dari satu bagian atas, jangan sampai terlengahkan oleh bagian lain yang mungkin akan menimpa bawah, seperti kewaspadaan kita terhadap bencana alam seperti gempa bumi.
Dimana kita sibuk berlarian untuk menyelamatkan diri tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Terkadang kita lebih waspada terhadap apa yang akan menimpa diri kita dari atas dari pada yang dibawah. Ketika kita berpikir bahwa pada bagian atas lah yang akan menimpa, sedangkan pada bagian bawah, kita bisa saja akan jatuh atau terperosok, maka pada bagian bawah itulah yang akan menimpa. Artinya kita harus waspada terhadap sesuatu hal apapun itu meskipun kecil kemungkinan untu terjadi.
Kenapa yang menimpa bisa dari bawah? Ini dimaksudkan kepada orang yang di bawah. Baik itu kepada orang-orang yang dikuasai, di bawah perintah orang diatas, dan sebagainya. Jadi bisa kita pahami bahwa makna dari pepatah ingek ingek nan di ateh, nan dibawah kok maimpok adalah peringatan untuk pemimpin agar memiliki sifat pemimpin yang benar yaitu adil, jujur dan sebagai mana mestinya seorang pemimpin, jika seorang pemimpin melakukan kesalahan sudah pasti masyarakat bisa melawan pemimpin.
Seorang pemimpin harus berhati hati dalam melakukan pekerjaan karena pada zaman sekarang sudah banyak pemimpin yang tidak memikirkan masyarakat padahal masyarakat yang membuat mereka menjadi seorang pemimpin.
Jika semena-mena terhadap orang maka akan berakibat kepada kita, akan tetapi yang tersembunyi pun akan mendatangkan bahaya pada diri kita. Penerapan ungkapan adat di atas adalah seseorang tidak boleh berlaku seenaknya saja kepada orang lain. Seseorang tidak boleh berbuat semena-mena kepada orang lain, sekalipun orang lain itu bawahan ataupun anak buahnya. Maka dari itu, kita tidak boleh berbuat seenak saja dalam hidup bermasyarakat dan perlu memelihara nilai-nilai kemanusiaan dan martabat manusia itu sendiri.