Alih Aksara Naskah Babat Perang Eropah
Oleh: Resmala Sari Mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Alih aksara dikenal dengan istilah Trasliterasi. Alih aksara merupakan penggantian penulisan suatu kata atau teks dengan huruf yang sesuai dalam abjad lain. Karena teks-teks kuno ditulis dalam aksara lokal, maka banyak orang yang tidak mengetahui maknanya oleh karna itu dilakukan alih aksara agar Masyarakat bisa memahami kata atau makna dari sebuah tulisan.
Alih aksara naskah sangat penting dilakukan untuk memperkenalkan teks-teks lama yang ditulis dengan aksara lama. Alih aksara harus memperhatikan ciri-ciri teks asli sepanjang hal itu dapat dilaksanakan karena penafsiran teks yang bertanggung jawab sangat membantu pembaca dalam memahami teks. Alih aksara pada hakikatnya dilakukan untuk menjaga kelestarian naskah, memperpanjang usia teks, sekaligus memperkenalkan bahasa lama (Nurizzati, 1998:56). Penyesuaian ejaan pada transliterasi naskah lama dilakukan untuk memudahkan pemahaman pembaca terhadap isi teks, jangan sampai ada gangguan penserapan yang disebabkan ejaan yang digunakan, sebab tujuan utama transliterasi adalah menjembatani teks lama dengan pembaca.Salah satu naskah kuno yang telah di Alih aksarakan adalah Naskah Babad Perang Eropa (BPE) naskah ini menceritakan tentang sejarah Perang Dunia I yang terjadi di Eropa pada kurun waktu 1914-1915 dan korelasinya dengan Nusantara pada masa itu. Dan babad, yaitu cerita tentang sejarah kerajaan-kerajaan, pahlawan-pahlawan, atau kejadian-kejadian tertentu dan merupakan suatu bagian yang penting dari kesastraan klasik Jawa.
tujuan Alih Aksara
1. Standardisasi: Penerjemahan menciptakan standar yang konsisten untuk penulisan bahasa. Jika terdapat perbedaan sistem penulisan yang digunakan dalam suatu bahasa, transliterasi dapat membantu mencapai konsistensi dan meningkatkan pemahaman.2. Modernisasi: Sistem penulisan tertentu mungkin sudah usang atau tidak memenuhi kebutuhan saat ini. Sistem penulisan yang tidak lagi dikaitkan dengan sistem penulisan yang lebih modern atau praktis dapat digantikan dengan terjemahan.
3. Integrasi: Literasi dapat digunakan untuk mendorong integrasi budaya atau bahasa. Misalnya, ketika dua kelompok yang berbeda budaya atau bahasa ingin berkomunikasi, transliterasi dapat membantu mengintegrasikan sistem penulisan mereka, sehingga lebih mudah dipahami dan digunakan oleh kedua belah pihak.
4. Promosi: Transliterasi dapat digunakan sebagai bagian dari upaya untuk mempromosikan bahasa tertentu. Dalam beberapa kasus, penggunaan sistem tulisan yang lebih populer atau lebih dikenal secara internasional dapat membantu memperluas penggunaan bahasa tersebut dan mempromosikan keberlanjutan bahasa tersebut di era modern.
5. Konservasi: Alih aksara juga dapat digunakan sebagai upaya untuk melestarikan bahasa yang terancam punah. Dengan mengadopsi sistem tulisan yang lebih dapat diakses atau lebih mudah dipelajari, upaya pelestarian bahasa dapat ditingkatkan.
Naskah BPE ditulis menggunakan aksara dan bahasa Jawa sehingga perlu dilakukan penyuntingan, penerjemahan, dan ringkasan isi agar isinya dapat dibaca, diketahui, dan dipahami oleh pembaca secara umum. Ringkasan isi disajikan dalam bentuk urutan sekuen sehingga memudahkan pembaca untuk mengetahui inti cerita dari teks BPE Xi pupuh i-VRingkasan isi naskah Babad Perang Eropah
Teks Perang Eropa berisi cerita mengenai Perang Dunia I yang bersambung setiap jilidnya. Selain mengandung teks Perang Eropa, BPE X ijuga berisi teks Mardi Lagu. Teks Mardi Lagu berisi cerita tentang seorang guru bernama Bausastra dan siswanya yang sedang mempelajari kata-kata kawi. Judul Mardi Lagu mungkin berkaitan dengan kata mardi dari kata pardi yang berarti mempelajari (Prawiroatmojo, 1981: 65) dan kata lagu yang berarti ukara ‘kata’ (Roorda, 1901: 157). Sehingga makna dari judul Mardi Lagu adalah mempelajari kata. Hal ini sesuai dengan isi teks tersebut mengenai siswa-siswa Bausastra yang sedang belajar kata-kata kawi. Pemilihan nama tokoh Bausastra mungkin juga berhubungan dengan maknanya yaitu kamus (Prawiroatmojo, 1988:28). Hal ini sesuai dengan perannya memaknai kata-kata kawi dari abjad ka yang dijabarkan siswanya.
Teks BPE XI memuat dua cerita yaitu Perang Eropa dan Mardi Lagu. Kedua teks tersebut kemudian terbagi lagi menjadi peristiwa-peristiwa atau bagian-bagian cerita yang lebih kecil. BPE Xi yang digolongkan dalam babad, sebagai cerita naratif terdiri atas satuan atas satuan-satuan cerita terkecil atau sekuen. Dengan demikian ringkasan isi BPE Jilid Xi Pupuh i-V akan disajikan dalam bentuk urutan sekuen untuk mempermudah pembacaan namun sebelumnya akan sedikit dijabarkan mengenai pemarkah sekuen yang terdapat dalam BPE Xi pupuh i-VDeskripsi naskah Babad Perang Eropah
Naskah Babad Perang Eropah dilapisi dengan sampul pelindung dari kertas anti asam berwarna abu-abu. Sampul naskah berbentuk envelope flap 8 dengan lidah sampul segitiga. Sampul naskah berukuran panjang 335 mm, lebar 213 mm, dan tebal 30 mm. Lidah sampul memiliki ukuran panjang 335 mm, lebar 50 mm, lebar tengah 70 mm. Segi sampul berukuran 4 mm. Sampul naskah berbahan kulit, berwarna kuning kecoklatan, dan berlapis sampul plastik. Punggung naskah10 yang terdapat pada naskah adalah tipe berluang.
Kertas yang digunakan sebagai alas tulis merupakan folio bergaris tipis dan berwarna kecoklatan. Tidak ditemukan watermark pada kertas. Kertas berukuran lebar 207 mm dan panjang 328 mm. Pada setiap halaman terdapat 40 baris garis tipis horizontal berwarna abu-abu. Setiap barisnya berjarak 8mm. Ukuran kolom teks 144 mm x 260 mm. Setiap halaman diisi 17 baris teks setiap barisnya diberi spasi satu kolom kertas. Teks BPE Xi ditulis pada sisi rekto dan verso14. Pada bagian depan dan belakang masing-masing terdapat satu lembar kelopak.
Kertas yang digunakan untuk ilustrasi berbeda dengan kertas yang digunakan sebagai alas tulis. Kertas yang dipakai sebagai alas untuk ilustrasi polos dan agak tebal. Kondisi kertas sudah kecoklatan dan ilustrasi agak tembus pada bagian kertas sebaliknya. Pada bagian kertas yang berilustrasi selalu disisipi dengan kertas minyak. Penyisipan kertas minyak ini kemungkinan untuk mencegah agar zat warna dan prada pada ilustrasi tidak menempel pada bagian halaman yang memuat teks. Secara umum kondisi naskah relatif masih cukup baik dan bersih.
Melalui kutipan teks (pp I: 1-4) dapat diketahui waktu penyalinan BPE Xi tanggal 3 April 1915 Masehi dengan sengkalan Tata Tunggal Trustheng Janmi. Disebutkan juga penanggalan Jawa, 17 Jumadil Awal tahun Jimawal 1845 dengan sengkalan Tata Dadi Ngesthi Suksma dan Windu Kuntara 1333 Hijriah bersengkalan Tri Tiga Gunaning Janmi. Teks BPE Xi ditulis menggunakan tinta hitam namun pada kata-kata yang menerangkan sisipan kata kawi ditulis dengan tinta merah. Salah satu karakteristik naskah ini adalah penulisan teks disajikan dalam penggalan kata sehingga cukup memudahkan peneliti. Gaya penulisan dalam penggalan kata ini digunakan dalam seluruh teks. Kata berakhiran vokal dapat tersaji dalam penggalan kata utuh. Pada kata berakhiran konsonan, kata tidak dapat tersaji utuh dalam penggalan kata melainkan pasangan atau konsonan akhir diikutkan di penulisan kata berikutnya.Hal lain yang menjadi ciri khas naskah ini adalah penulisan bilangan yang didahului dengan angka arab sebelumnya. Penulisan angka arab ini menurut penafsiran peneliti digunakan untuk memperjelas bilangan yang disebutkan sedangkan penulisan angka berupa ejaan dalam bahasa Jawa digunakan untuk memenuhi aturan metrum. Bahasa yang digunakan dalam teks ini adalah bahasa Jawa ragam krama, kawi, dan beberapa kata dari bahasa Arab seperti ijrah dan bismilah, serta kata-kata dari bahasa Belanda. Kata-kata dari bahasa Belanda ditulis dalam pengucapan Jawa. Kata-kata ini digunakan untuk penyebutan beberapa nama tempat dan istilah militer.