Asal usul Tabuik Pariaman dan Proses pembuatan Tabuik Pariaman
Disusun Oleh :
Nama : Serly Oktavia
Nim: 2310742022
Prodi : Sasda 23
Matkul : Masyarakat dan kebudayaan minangkabau
Tugas Artikel
Asal usul Tabuik Pariaman berasal dari tradisi keagamaan yang berawal dari perayaan Asyura, gugurnya Imam Husain, cucu Nabi Muhammad. Upacara ini dilakukan oleh masyarakat Pariaman di Kota Pariaman, Sumatera Barat, setiap tahun pada tanggal 1-10 Muharram. Tabuik Pariaman termasuk ritual keagamaan yang mengandung kearifan lokal dan nilai budaya masyarakat Pariaman.
Penyelenggaraan Tabuik di Pariaman memiliki sejarah panjang, dengan catatan awal penyelenggaraan Tabuik pada tahun 1824. Awalnya, ada delapan Tabuik yang ditampilkan, lalu menyusut menjadi lima. Kelima Tabuik tersebut dinamakan berdasarkan kampung, yakni Cimparuh, Subarang (Kampung Jawa), Sungai Batang, Padusunan, dan Karang Aur. Tabuik Pariaman telah menjadi festival budaya yang masuk sebagai agenda wisata tahunan Pemerintah Kota Pariaman, menarik ribuan wisatawan dan memberikan dampak positif pada perekonomian masyarakat. Kendati masih ada penolakan dari segelintir pihak, Tabuik telah dilestarikan sebagai warisan budaya dan dianggap tidak menyimpang dari akidah.
Pembuatan Tabuik di Pariaman melibatkan berbagai proses dan ritual yang memiliki makna dan simbolisme. Berikut adalah tahapan pembuatan Tabuik:
1. Membuat Daraga:
Daraga adalah tempat berukuran 5 x 5 meter yang dipagar dengan bambu dan atapnya ditutupi kain putih.
Daraga berfungsi sebagai tempat lambang tanah atau kuburan Imam Husen.
Pembuatan Daraga berlangsung 3 hari sebelum 1 Muharam.
2. Mengambil Tanah:
Tanah diambil dari sungai yang bermakna jasad Hasan dan Husein.
Tanah ini diisi di dalam Daraga.
3. Menebang Batang Pisang:
Batang pisang ditebas dalam sekali ayunan oleh pendekar.
Hal ini melambangkan kekejaman pada Hasan dan Husein yang dipenggal.
4. Mataam:
Prosesi mengelilingi Daraga dengan membawa pedang, sorban, dan panja sambil menangis meratapi kematian Husein di medan perang.
Prosesi ini dinamakan Maatam, atau kesedihan dalam Bahasa Hindi.
5. Mengarak Jari-Jari:
Mengarak Daraga dengan membawa pedang, sorban, dan panja.
6. Mengarak Sorban:
Mengarak Daraga dengan membawa pedang, sorban, dan panja.
7. Tabuik Naik Pangkek:
Tabuik diangkat ke atas panggung.
Prosesi ini dilakukan oleh kedua kelompok, Pasa dan Subarang.
8. Hoyak Tabuik:
Tabuik dihoyak oleh 100 orang dewasa.
Hoyak Tabuik dilakukan dengan menggunakan balok-balok kayu yang bersilang.
9. Membuang Tabuik ke Laut:
Tabuik dibuang ke laut sebagai simbol peringatan kematian Imam Husen.
Pembuatan Tabuik di Pariaman melibatkan kerja sama antara masyarakat dan pemerintah, serta berbagai ritual yang memiliki makna dan simbolisme.