Baju Khas Nagari Padang Magek
Penulis : Anindita Saraswati , Mahasiswa Sastra Minangkabau Universitas Andalas
Pakaian adat bundo kanduang di Minangkabau pada hakekatnya tidak sama, terdapat perbedaan yang signifikan antara luhak atau daerah asal dengan daerah rantau. Perbedaan terlihat pada bentuk variasi dan hiasannya. Pakaian adat Bundo Kanduang sering digunakan pada acara-acara tertentu seperti upacara perkawinan, batagak penghulu, khitanan, dan upacara adat lainnya. Seluruh perlengkapan pakaian adat bundo kanduang memiliki filosofi yang sesuai dengan adat istiadat Minangkabau serta menjadi simbol kebesaran dalam adat dan perlambangan bagi bundo kanduang. Pakaian adat bundo kanduang dapat diistilahkan dengan limpapeh rumah nan gadang, di mana setiap daerah di Minangkabau memiliki perbedaan dan ciri khas masing-masing.
Diantara pakaian adat yang cukup dikenal adalah pakaian adat yang terdapat di nagari Padang Magek, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar. Pakaian adat Padang Magek dinamakan baju milik, yang diwariskan secara turun menurun dari nenek moyang terdahulu. Baju milik harus dimiliki oleh setiap perempuan yang sudah berkeluarga dan perempuan muda yang berasal dari Padang Magek. Baju milik terdiri dari beberapa bagian seperti tingkuluak sapik udang, baju kurung basiba pendek, kalung imitasi, selendang atau selempang, gelang imitasi, ikat pinggang, tas jinjing atau kambuik bajaik, lambak atau kodek, dan slop atau sandal.
Beberapa bagian yang ada di baju nagari padang magek ini atau biasa disebut baju milik. Tekuluak sapik udang, tekuluak sapik udang terdiri dari kain sarung pelekat atau sarung bugis dengan kombinasi warna merah dan hitam dan sehelai kain telekung putih. Kedua kain tersebut disatukan dan dibuat untuk tutup kepala. Kain telekung diletakkan di dalam dan kain sarung di bagian luar. Tekuluak mempunyai bentuk yang unik sebelah kanan berbentuk tanduk dan sebelah kiri berbentuk bunga kecubung yang didominasi warna putih telekung. Tekuluak ini dihiasi dengan warna merah tua atau kilat makau atau benang makau / benang emas. Makna tekuluak, pakaian untuk Salat selalu melekat pada diri perempuan. Baju kuruang, baju kurung basiba pendek, hingga pinggul dengan lengan baju agak lebar dan panjangnya di bawah siku. Baju berwarna hitam menggunakan kain beludru hitam atau jenis kain lain. Pada pinggir baju dan leher, pangkal lengan, ujung lengan, dan pada sisi siba diberi minsie dan benang emas atau perak selebar 2-3 cm, dihiasi dengan sulaman benang emas atau perak dengan motif pucuak rabuang. Pada pucuak rabuang diberi hiasan dengan sulaman berupa bintang. Bentuk baju yang longgar dan pendek memberi kebebasan bergerak bagi pemakainya.
Lambak / kodek, lambak atau kodek terdiri dari kain beludru hitam dibuat seperti rok hingga mata kaki, di pinggir bawah kodek dihiasi dengan minsie dan benang emas atau perak, serta disulamkan motif pucuak rabuang. Pada ujung dari pucuak rabuang ini diberi hiasan, seperti jambul atau bola-bola dan benang woll berwarna kuning, hitam, merah dan hijau. Kodek ini longgar agar si pemakai rnudah bergerak. Kodek ini dilengkapi dengan ikat pinggang dari kain dan ujungnva diberi jambul. Selanggan / sandak / selendang. Selanggan atau sandak adalah sehelai kain panjang yang digunakan sebagai selendang / selempang, berbentuk empat persegi panjang dan kain sutera warna merah dan pada kedua ujungnya dihias dengan sulaman benang emas atau perak, atau potongan kain songket dan diberi jumbai dan benang warna-warni. Cara memakainya dengan diselempangkan dari bahu kanan dan dibelitkan ke pinggang.
Pakaian adat Padang Magek atau baju milik digunakan oleh perempuan Padang Magek untuk sejumlah acara adat, antaranya, Digunakan oleh perempuan yang sudah menikah dan dituakan dalam satu kaum, saat mengundang (mamanggia) pada acara batagak penghulu, digunakan oleh anak daro beserta kaum perempuan karib kerabat dari pihak anak daro saat prosesi iringan (maarak anak daro jo marapulai) ke rumah mertuanya, digunakan ketika seorang perempuan Padang Magek yang baru menikah mengunjungi rumah mertua atau mamak dari pihak laki-laki (manjalang) setelah pesta perkawinan digelar, atau dalam istilah lain disebut juga dengan maukua ranjau, digunakan oleh seorang ibu saat perayaan khatam Al Qur’an anaknya, digunakan oleh setiap perempuan Padang Magek saat menyambut tamu undangan dari daerah lain dalam berbagai acara di kanagarian.Baju milik khas nagari padang magek yang penuh makna mulai dari arti nama baju yaitu baju milik atau kepunyaan, yang berarti semua perempuan masyarakat nagari padang magek wajib memiliki baju milik ini atau setidaknya satu rumah harus punya satu baju milik. Penutup kepala menggunakan mekenah dan sarung yang tentu sangat lekat dengan ajaran islam, ditaruh di kepala jadi kemampuan di saat waktu sholat masuk tidak ada alasan tidak ada mukenah. Baju bewarna hitam bermakna adat indak lapak dek hujaan, indak lapuak dek panek. Sulaman emas dan perak yang melambangkan kemakmuran, kemudian selendang dengan untaian sebanyak 17 yang melambangkan jumlah rakaat sholat. Baju milik selalu di lengkapi dengan kambuik selain bernilai sosial yang tinggi kambuik dengan empat warna dikaitkan dengan adat, kemudian tirai di bagian kanan dan kiri berjumlah masing-masing lima yang melambangkan rukun islam yang lima dan sholat lima waktu. Fakta unik baju seharga tiga jutaan ini sudah menjadi inspirasi berbagai disainer dunia.
Setiap pemakaian baju adat Padang Magek atau baju milik juga dilengkapi dengan tas jinjing (kambuik bajaik) yang bermakna bajalan babuah batih, malenggang babuah tangan yang berarti bahwa pentingnya membawa buah tangan jika berkunjung ke rumah kerabat keluarga. Pakaian adat Minangkabau daerah Padang Magek Kabupaten Tanah Datar di namakan dengan baju milik yang diwariskan secara turun menurun dari nenek moyang terdahulu, baju milik harus dimiliki oleh setiap keluarga dan perempuan muda yang berasal dari Padang Magek. Bagian baju milik seperti tingkuluak sapik udang, baju kurung basiba pendek, selendang atau selempang, ikat pinggang, lambak atau kodek, dan tas atau kambuik bajaik. Baju milik menjadi ikon daerah Padang Magek sehingga dijadikan sumber ide penciptaan karya seni, berupa karya panel dan patung relief bundo kandung padang magek.