Di balik setiap tumpukan emas terdapat keringat dan darah rakyat
Ayat-Ayat Kiri Revolusioner:
Renungan Suci Pemikiran atas Rencana “Pemerkosaan” Kapitalis atas Ibu Bumi Bukit Sanggul: Ketika Tanah Menjerit, Rakyat BicaraOpini Publik: Vox Populi Vox Dei
JurnalBengkulu.com - Bukit Sanggul hari ini berdiri di ambang tragedi ekologis dan moral. Gunung yang dulu hijau dan penuh kehidupan kini menjadi sasaran baru bagi nafsu korporasi dan legitimasi kekuasaan yang haus proyek. Nama Bukit Sanggul kini bukan hanya geografi, tetapi medan pertarungan antara keserakahan dan kesadaran, antara kapital dan kemanusiaan.
Dalam lanskap kapitalisme ekstraktif, tanah bukan lagi ibu yang memberi kehidupan, tetapi tubuh yang boleh ditelanjangi atas nama pembangunan. Alam yang seharusnya dipelihara kini dijadikan objek eksploitasi, disulap menjadi angka dalam laporan keuangan. Di balik jargon “investasi dan pertumbuhan ekonomi,” tersembunyi operasi perampasan yang sistematis — perampasan ruang hidup, air, udara, dan masa depan rakyat kecil.
Filsafat Marx pernah berbisik: di balik setiap tumpukan emas, ada keringat, darah, dan air mata manusia. Bukit Sanggul membuktikan kebenaran itu secara tragis. Di saat segelintir orang berdebat soal izin tambang dan legalitas, para petani di lereng bukit itu bertanya dengan cemas — siapa yang akan menjamin mata air kami? siapa yang akan mengganti hutan yang rusak dan tanah yang mati?
Inilah wajah nyata alienasi ekologis. Rakyat terpisah dari tanah yang menjadi sumber hidupnya, dan kekuasaan telah bersekutu dengan modal untuk menaklukkan bumi. Dalam kacamata filsafat eksistensial, ini bukan sekadar krisis lingkungan, tetapi krisis makna keberadaan manusia itu sendiri: kita sedang menghancurkan rumah tempat kita lahir.
Namun di tengah kepungan ketakutan dan propaganda pembangunan, kesadaran rakyat mulai tumbuh. Ia tidak datang dari ruang akademik, melainkan dari sawah yang kering, sungai yang tercemar, dan perut anak-anak yang lapar. Dari sanalah lahir kesadaran baru — kesadaran yang menolak tunduk. Kesadaran untuk berdiri di sisi bumi dan menolak perbudakan baru bernama investasi.
Sebagaimana ajaran Paulo Freire, penindasan hanya bisa dihentikan dengan kesadaran kritis — kesadaran untuk menamai kenyataan dan bertindak mengubahnya. Rakyat Bukit Sanggul kini sedang menamai realitasnya sendiri: bahwa tambang bukan kemakmuran, melainkan penjarahan yang dibungkus janji palsu.
Budaya diam yang selama ini mengekang masyarakat mulai retak. Mereka yang selama ini dianggap “tidak tahu apa-apa” kini menjadi subjek sejarahnya sendiri. Di sinilah politik rakyat menemukan bentuknya yang sejati — bukan di parlemen atau istana, tetapi di jalanan, di ladang, di tepi sungai tempat rakyat menegakkan martabatnya.
Ketika pemerintah dan korporasi berbicara tentang “izin”, rakyat berbicara tentang “izin alam.” Karena yang sejati memberi kehidupan bukanlah tanda tangan di atas kertas, melainkan rahim bumi yang subur. Dan ketika rahim itu hendak diperkosa oleh ambisi, perlawanan menjadi ibadah paling suci.
Merah bukan sekadar warna ideologi, melainkan warna darah yang mengalir di tangan-tangan pekerja, di tubuh bumi yang dilukai. Merah adalah tanda peringatan: bumi tidak selamanya diam. Ketika tanah menjerit, rakyat pun bicara — bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kesadaran dan keberanian moral untuk berkata: “Cukup.”
Bukit Sanggul bukan sekadar lokasi tambang. Ia adalah simbol kebangkitan kesadaran rakyat bahwa bumi bukan komoditas, melainkan ibu yang harus dijaga. Bahwa pembangunan sejati tidak diukur dari jumlah proyek, tapi dari sejauh mana manusia masih punya nurani terhadap alamnya.
Dan jika keadilan tak juga turun dari langit, maka biarlah kesadaran rakyat yang mengangkatnya dari bumi. Karena di sanalah revolusi sejati bermula — bukan dari amarah, tetapi dari cinta pada tanah tempat kita berpijak.