Etika berbicara di Minangkabau
Oleh : Alya Putri Kemala Dewi, Mahasiswi Unand Fakultas Ilmu Budaya Prodi Sastra Daerah Minangkabau
Saat ini, banyak remaja Minang telah kehilangan prinsip hidup orang Minangkabau yang dikenal sebagai Adat Basandi Syarak, atau Syarak Basandi Kitabullah, yang berdasarkan ajaran agama dan kitab suci Al Quran.Tetapi pada masa lalu, orang Minangkabau memiliki etika yang menunjukkan prilaku santun dan segan, yang merupakan ciri khas masyarakatnya. Namun, saat ini, etika remaja Minangkabau tampaknya hilang di tengah kesibukan dan keinginan untuk mengadopsi budaya asing.Remaja Minang saat ini memerlukan perbaikan masalah Minangkabau.
Sebagai penerus wilayah Minang dalam menyiapkan atau menghadapi arus globalisasi yang cepat dan cepatRemaja Minang digambarkan sebagai pambao runtuah tunggak nan lah rabah di era globalisasi saat ini, yang berarti mereka sudah jauh dari jati diri mereka sebagai keturunan Minangkabau.Bagaimana moral remaja Minang sekarang? Kita sering membaca dan melihat berita di surat kabar dan informasi di sosial media tentang remaja Minang saat ini yang melakukan hal-hal yang tidak etis dan tidak mencerminkan identitas mereka sebagai orang Minang.Orang-orang minang yang dulunya ramah dan malu tampaknya telah hilang.Salah satu faktor yang menyebabkan budaya tersebut hilang adalah sikap cuek remaja Minang saat ini.Menurut falsafah, "Yang kuriak ialah kundi, yang merah ialah sago, yang baik ialah budi, dan yang indah ialah bahasa".
Namun, saat ini banyak remaja Minang yang tidak ramah, apalagi tidak sopan, santun, dan tidak segan terhadap orang tua. Percakapan mereka yang kurang ajar membuat orang kesal dan menganggap mereka tidak beretika.Walaupun orang tuanya sering menasehatinya, dia hanya mendengarkan nasehat itu dari telinga kiri ke telinga kanan dan tidak lagi menghormatinya. akibat dari perkembangan globalisasi, yang harus memastikan bahwa semua orang tetap terkait dengan zaman.Namun, remaja Minang tidak dapat membedakan hal baik dan buruk karena mereka hanya mengikuti globalisasi yang berdampak negatif. Mereka juga tidak dapat membedakan mana yang baik dan buruk dari diri mereka sendiri dan tata krama mereka.Remaja Minang sekarang tidak malu lagi bercanda kepada teman dan orang tua mereka.Namun, perkataan kasar carut marut, "runcing jan mancucuak, sandiang jan maluko", berarti "runcing jangan menusuk, sanding jangan melukai", dapat melukai hati seseorang.Untuk menangani perilaku remaja Minang ini, kita harus memahami norma adat dan prinsip etika dalam berbicara.
Misalnya, istilah "harimau dalam paruik, kambiang juo nan musti kalua" berarti bahwa meskipun harimau berada dalam perut, kambing juga harus dibuang.Orang tua-tua dulu sering mengatakan ungkapan ini kepada anak dan kamanakan mereka jika mereka tidak tahu cara berbicara sopan.Sangat penting untuk mengingat kebiasaan sopan santun yang diwariskan oleh leluhur kita, seperti kato nan ampek, atau kata nan empat, yang merupakan kunci bahasa Minangkabau untuk berbicara.Saat mereka mengatakan "indak ka pernah samo datanyo sawah jo pamatang" (tidak pernah sama datarnya sawah dengan pematang), mereka diberitahu bahwa setiap orang memiliki tingkatan tertentu di masyarakat.Dalam berbicara, orang Minang menggunakan empat kunci utama.
Yang pertama adalah kato mandaki (kata mendaki) saat berbicara dengan orang tua, seperti ayah, ibu, kakak, dan sebagainya.Kedua, kato manurun, atau kata menurun, digunakan ketika berbicara dengan lawan bicara yang lebih kecil, seperti adik. Ketiga, kato mandata, atau kata menurun, digunakan ketika berbicara dengan teman seumuran, yang biasanya sangat bebas dan kadang-kadang kasar.Keempat, kato malereng, atau kata "melereng", digunakan untuk berbicara dengan orang yang kita hormati, seperti rang sumando, mertua, dan lain-lain.
Di saat globalisasi saat ini semakin berkembang, nampaknya menjadi tantangan bagi kita sebagai remaja Minang untuk mengambil keuntungan darinya dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.Karena moderenisasi dan globalisasi, norma etika telah berubah, yang sebelumnya tidak pantas.Namun, itu sekarang menjadi hal biasa.Remaja Minang saat ini cenderung membuat keputusan secara mandiri yang dapat melanggar norma budaya dan adat istiadat yang ada.Saat ini, dia bergantung pada budaya asing karena dia pikir itu keren, meskipun budaya Minang dianggap lebih baik daripada budaya asing.
Oleh karena itu, keluarga Minangkabau harus memainkan peran penting dalam mendidik anak-anak mereka tentang moralitas dan budaya lokal.Berkurangnya budaya Minangkabau di kalangan remaja saat ini tidak hanya disebabkan oleh kaum muda; ada faktor lain yang merupakan kesalahan kaum tua yang mulai kehilangan pemahaman budaya dan moral.Kaum tua sering mengajarkannya, tetapi remaja Minang tidak menganggapnya sebagai pelajaran penting.
Remaja Minang harus mempelajari kehidupan berdasarkan kebiasaan dan budaya orang tua mereka.Sebagai orang Minang, kita harus merasa bangga dengan beragamnya kebudayaan minang dengan mengapresiasinya. Kita juga harus melestarikan dan membudayakan kebiasaan, etika, dan segan yang seharusnya dimiliki remaja Minang.