Filosofi Suntiang di Minangkabau
Penulis :
Fauziah Nur Hikmah
Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau
Universitas AndalasIndonesia memiliki keberagaman suku bangsa. Indonesia kaya akan keberagaman itu, baik dari segi bahasa, makanan tradisional, seni tradisional, maupun dari segi pakaiannya. Setiap suku di Indonesia memiliki ciri khas daerah mereka masing-masing, begitupun pakaian pada saat upacara pernikahannya. Salah satunya pada suku Minang. Suku Minangkabau merupakan salah satu suku yang mempunyai pakaian pengantin termegah. Pakaian yang identik berwarna merah ini memiliki taburan-taburan aksesoris berwarna emas yang menambah kesan mewahnya. Hiasan kepala pada pakaian pengantin disebut dengan suntiang. Suntiang merupakan salah satu aksesoris yang dipakai oleh pengantin perempuan Minang saat menikah nanti. Suntiang atau dalam bahasa Indoensia ini disebut sunting ini ialah hiasan kepala yang bentuknya bertingkat dan berwarna keemasan.
Namun Suntiang bukan hanya sekedar aksesoris kepala dalam acara pernikahan di Minangkabau, namun lebih dari itu suntiang terdapat makna di dalamnya. Makna suntiang tersebut adalah sebagai simbol atau lambang bahwa seorang anak gadis di Minangkabau sudah memasuki usia dewasa yang dimana sudah akan menempuh hidup yang baru atau hidup yang lebih berat dari sebelumnya. Suntiang dibuat dari bahan tembaga, emas, atau perak, yang dimana hal tersebut menyebabkan suntiang menjadi berat ketika sedang dipakai. Suntiang yang berat inilah yang melambangkan simbol bahwa seorang wanita yang akan menikah tersebut akan dituntut menjadi seorang yang tangguh sesuai dengan beban yang ditanggungnya ketika menggunakan suntiang tersebut.
Dalam hal tanggung jawab setelah menikah seorang wanita bukan hanya tanggung jawab kepada suaminnya namun juga kepada lingkungan sekitarnya. Pertanggung jawaban seorang wanita yang sudah menikah di Minangkabau membawa nama keluarganya, nama Niniak mamak kaumnya, dimana dia harus menjaga nama baik kaumnya tersebut. Dan inilah sebagai bentuk kesiapan seorang Minangkabau yang sudah menikah untuk dapat menjadi seorang Bundo Kanduang nantinya. Menjadi seorang Bundo Kanduang bukanlah hal yang mudah. Kita harus siap mengemban beban yang sangat berat nantinya. Seorang Bundo Kanduang memiliki sifat yang arif dan bijaksana. Dengan demikian memakai suntiang yang sangat berat inilah yang akan menjadi ujian awal seorang wanita ketika menikah. Selain itu, suntiang juga merupakan lambang doa dan harapan pengantian perempuan. Semakin tinggi suntiang yang dipakai melambangkan semakin besar pula harapan dan doa seorang istri terhadap suaminya. Harapan yang digambarkan oleh suntiang dimana kelak sang suami memiliki ilmu dunia dan akhirat yang tinggi layaknya suntiang yang ia pakai.
Berat suntiang biasannya sekitar 3,5 hingga 5 kilogram. Jumlah hiasan pada suntiang biasanya berjumlah ganjil. Paling banyak jumlah hiasannyan yaitu sebelas tingkat dan yang paling sedikit berjumlah tiga tingkat. Namun rata-rata masyarakat Minangkabau menggunakan suntiang yang 7 tingkat. Sedangkan untuk tingkatan yang lebih kecil biasanya digunakan oleh pasumandan, yang ukurannya lebih kecil dan lebih ringan. Pasumandan sendiri ialah orang yang mendampingi pengantin terkhususnya pengantin wanita. Yang menjadi pasumandan biasanya orang yang sudah menikah.
Suntiang memiliki bentuk setengah lingkaran yang terdiri dari ornamen-ornamen berbentuk flora dan fauna, diantaranya diambil dari motif burung merak, ikan, kupu-kupu, bunga mawar, dan pisang. Dahulu cara memakai suntiang di tusuk satu-satu pada sanggul yang telah dipasang di atas kepala. Bagian-bagian sanggul disusun sedemikian rupa sehingga membentuk tingkatan-tingkatan yang indah dan ini cukup memakan waktunya yang sangat lama. Namun seiring perkembangan zaman, teknologi semakin canggih muncullah suntiang yang sudah dirakit dan cara menggunakanya cukup dengan ditempel lalu di eratkan dengan jarum pentul. Dan hal ini berguna untuk memudahkan dan mengirit waktu agar lebih efesien. Walaupun begitu keindahan suntiang tidak akan redup. Baik dulu maupun sekarang suntiang tetap menampilkan kilauan emasnya.
Sebagai masyarakat Indonesia yang lahir dari keberagaman, kita patutnya berbangga terhadap ciri khas daerah kita sendiri. Dan lebih memperkenalkan kepada dunia bahwasannya kita sebagai orang Indonesia memiliki berbagai macam kebudayaan pada setiap daerahnya. Memiliki keunikan-keunikan terlebih pada pakaian pengantinnya. Semoga pakaian adat daerah kita selalu dilestarikan dan setiap generasi ke generasi selalu bangga terhadap pakaian daerah mereka masing-masing.