Gunung Marapi
Oleh : Ulfatmi, Mahasiswi Universitas Andalas
Gunung Marapi merupakan gunung paling aktif di Sumatra Barat, Indonesia. Yang terletak antara Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Agam dan Kota Padang Panjang. Jalur pendakian yang biasa digunakan ialah dari jalur Koto Baru. Perjalanan menuju pos 1 kita akan melewati ladang penduduk setempat.Dari pos 1 atau hutan bambu orang lokal biasa menyebut ( parak batuang), jalan di hutan bambu jika terjadi hujan akan menjadi sangat licin. Tetapi di sana akar bambu banyak melintang di jalan, jalan nya itu seperti menanjak. Setelah melewati hutan bambu kita akan di temukan jalan yang ada bebatuan di sana, kemungkinan sekitaran 30 menit sudah mendekati cadas atau bibir cadas. Sebelum kita melewati cadas di sana ada banyak bebatuan yang di sekelilingnya hanya ada tumbuhan Bunga Edelwis dan beberapa bunga gunung lain nya. Disana kita mulai merasa dingin karena ketinggian, dan dingin di situ di namai dengan pintu angin, karena di sana lah kita merasakan tidak ada pepohonan dan tidak ada hambatan angin yang bertiup kencang .
Berjalan disana harus berhati hati, karena angin bisa membawa kita jatuh. 20 meter berjalan di bebatuan bercadas kita mulai melihat indah nya kota yang ada di bawah gunung, seperti Kota Padang Panjang dan Kota Bukittinggi. Jka ingin melihat lebih indah sebaiknya pada malam hari, karena betapa banyak nya lampu rumah warga yang terlihat indah. Beberapa meter lagi terlihat lah dari cadas itu jalan lereng bebatuan yang bernama Tugu Abel. Yang jarak nya mungkin sekitar 40 meteran, tapi jalan agak sedikit berputar karena lereng, yang di mana kita berjalan di atas batu jika tidak hati hati akibat nya akan fatal. Jika bertemu dengan pendaki lain kita harus bertergur sapa dengan memanggil pak atau ibuk. Ketinggian nya adalah 2.891 meter. Menurut legenda gunung ini yang pertama kali dihuni oleh orang Minangkabau.
Desaku letak nya di kaki gunung Marapi, dimana para pemuda di desaku sering mendaki gunung Marapi. Biasanya pada tahun baru pemuda di kampung ku memeriahi acara tersebut dengan menanjak gunung marapi. Mereka berfoto bersama sebagai kenangan di atas gunung. Namun larangan ke gunung yang harus kita taati adalah tidak boleh membawa telur mentah. Dan setelah sampai di atas gunung tidak boleh terlalu bergembira,tidak boleh seenak nya. Di gunung Marapi kita tidak boleh memetik bunga sembarangan, seperti bunga edelwis,bunga abadi dan bunga marapi lain nya .Tapi sekarang semua nya sudah nihil, tidak di bolehkan lagi mendaki gunung. Pada tanggal 3 Desember kemarin gunung Marapi meletus hingga mengeluarkan larva. Aku melihat ketinggian abu vulkanik, tinggi nya mencapai puluhan meter, pada saat itu sebanyak 75 orang yang meninggal.
Aku sedih melihat para petani didesaku yang berladang, semua tanaman mereka hangus dan tidak mengalami panen. Padahal para petani didesaku sangat mengharapkan hasil panen untuk biaya sekolah anak nya serta kebutuhan hidup lain nya. Hingga saat ini sudah 4 bulan gunung Marapi tidak berhenti meletus, telah banyak kejadian yang menimpa kami, lahar dingin yang terjadi mengakibatkan kerugian besar. Ada saudara kita yang rumah nya terkena banjir, dan beberapa jembatan yang putus di setiap daerah. Dan yang sangat menyedihkan korban meletus nya gunung Marapi saat itu kebanyakan ialah mahasiswa dari berbagai daerah, ada yang pergi bersama orang tuanya untuk memeriahi acara wisuda yang akan digelar nya sebentar lagi. Namun sayang takdir berkata lain.
Aku berharap dan di berdoa semoga semuanya cepat membaik,dan kita bisa beraktivitas seperti biasa.
Penulis merupan mahasiswi program studi Sastra Minangkabau fakultas ilmu budaya Universitas Andalas.