Kajian Seni Pertunjukan Gandang Lasuang: Warisan Tradisi di Ranah Pasaman Barat
Oleh : Amelia Putri, Mahasiswa Sastra Minangkabau Universitas Andalas
Gandang Lasuang merupakan seni musik tradisional khas masyarakat Minangkabau, khususnya di Jorong Pasa Lamo, Kecamatan Sasak Ranah Pasisia, Pasaman Barat. Seni ini berakar kuat pada aktivitas keseharian masyarakat Minangkabau dalam menumbuk padi menggunakan lasuang (lesung) dan alu. Awalnya, dentingan alat itu hanya penghibur saat bekerja, namun seiring perkembangan zaman, Gandang Lasuang berevolusi menjadi pertunjukan penting dalam upacara adat dan pesta pernikahan. Perubahan ini mencerminkan adaptasi budaya terhadap kebutuhan masyarakat modern dan daya tahan kesenian tradisional dalam mempertahankan relevansinya di tengah globalisasi.
Kesenian Gandang Lasuang dihidupkan kembali oleh masyarakat dan kelompok kesenian seperti Grup Gandang Lasuang Nyiur Melambai. Kelompok ini melestarikan dan mengembangkan pertunjukan dengan menambahkan alat musik seperti talempong, marakas, dan bansi, tanpa menghilangkan esensinya. Pergelaran ini sering ditampilkan dalam berbagai acara, termasuk penyambutan tamu, pernikahan, dan festival budaya di tingkat kabupaten maupun provinsi. Gandang Lasuang bahkan pernah tampil dalam acara besar seperti Tour de Singkarak dan penyambutan tamu dari luar daerah, membuktikan eksistensi dan daya tariknya yang luas. Seni tradisi Gandang Lasuang bukan sekadar hiburan lokal, melainkan bagian dari identitas budaya yang dapat dipromosikan secara nasional dan internasional.
Gandang Lasuang memiliki beberapa fungsi utama. Pertama, fungsi hiburan yang menghadirkan suasana meriah dan kebersamaan melalui irama musik dan nyanyian syair Minangkabau. Irama khasnya membangkitkan semangat dan sukacita, menciptakan rasa kekeluargaan. Kedua, fungsi komunikasi; lagu dan syair menyampaikan pesan moral, kritik sosial, atau kenangan masa lalu, mempererat ikatan emosional antara pemain dan penonton. Syair-syairnya menggambarkan kisah-kisah sederhana, mudah dipahami dan dirasakan.
Ketiga, fungsi pelestarian budaya; Gandang Lasuang menjadi simbol identitas lokal dan alat untuk mempertahankan nilai-nilai tradisional. Pertunjukan ini mengajak generasi muda mengenali dan mencintai warisan budaya mereka. Upaya ini didukung oleh pemerintah daerah dan tokoh masyarakat. Keempat, fungsi pengintegrasian masyarakat; pertunjukan ini membangun kebersamaan dan silaturahmi. Pertunjukan Gandang Lasuang menjadi ajang berkumpulnya sanak saudara, tetangga, dan masyarakat dari berbagai lapisan.
Yang menarik, kesenian ini mayoritas dimainkan oleh ibu-ibu rumah tangga. Dominasi perempuan mencerminkan keterbukaan masyarakat Sasak Ranah Pasisia terhadap peran perempuan di bidang seni. Hal ini menjadi inspirasi dan wujud pelestarian budaya yang inklusif. Anak-anak dan generasi muda didorong belajar memainkan alat musik Gandang Lasuang agar tradisi ini diwariskan secara turun-temurun. Peran perempuan juga menjadi simbol kekuatan dan kreativitas kaum ibu dalam membangun dan menjaga harmoni masyarakat.
Namun, tantangan tetap ada. Arus modernisasi dan pengaruh budaya luar berpotensi menggeser minat generasi muda. Oleh karena itu, perlu upaya lebih lanjut melalui edukasi, pelatihan, dan kolaborasi antara pemerintah daerah, pegiat seni, dan lembaga pendidikan. Pemanfaatan teknologi digital, seperti promosi melalui media sosial dan platform video, dapat menjadi strategi efektif. Integrasi kesenian ini dalam kegiatan pariwisata budaya dapat menarik minat wisatawan dan memperkuat ekonomi lokal.
Sebagai ikon budaya Pasaman Barat, Gandang Lasuang merupakan warisan leluhur yang kaya makna dan potensi penting dalam pengembangan pariwisata budaya Minangkabau. Dengan inovasi tanpa menghilangkan keasliannya, kesenian ini diharapkan terus bertahan. Gandang Lasuang mencerminkan semangat kebersamaan, kreativitas, dan identitas budaya yang harus dijaga sebagai kebanggaan masyarakat Minangkabau. Dengan sinergi yang kuat antara berbagai pihak, seni ini akan terus hidup, berkembang, dan menjadi aset berharga dalam kebudayaan Indonesia.