Kawa Daun: Minuman Tradisional Khas Minang
Oleh Fadhila Salsabila
(Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)
Indonesia merupakan negara yang kaya akan hasil buminya, didukung oleh iklim tropis terdiri dari dua musim membuat tanah menjadi sangat subur. Salah satunya yang tumbuh subur di tanah Indonesia adalah tanaman kopi, meskipun awalnya kopi bukan tanaman asli Indonesia. Awalnya kopi masuk ke Indonesia dibawa oleh Belanda pada 1696, ditanam untuk pertama kalinya di pulau jawa. Karena permintaan kopi semakin meningkat, maka penanaman kopi pun juga meningkat dan juga mulai meluas keseluruh pulau jawa dan di beberapa tempat seperti Sulawesi dan Sumatera.
Masa penjajahan Belanda di Indonesia tanaman kopi termasuk komoditi ekspor yang bernilai tinggi, oleh sebab itu diberlakukan tanam paksa kopi. Di sumatera barat, setelah terjadinya perang Padri tahun 1837, secara bertahap daerah mulai dikuasai Belanda kemudian menjalankan sistem tanam paksa kopi. Biji kopi yang telah dijemur kemudian di ekspor ke Eropa sebagai bahan minuman, karena nilainya yang ekonomis maka penduduk pribumi dilarang untuk minum kopi dan kalaupun ada hanya bagi para kaum bangsawan saja. Oleh sebab itu untuk rakyat biasa hanya boleh minum kopi daun atau daun kopi bagi orang Sumatera menyebutnya sebagai kawa daun.
Sejarah Kawa Daun
Kawa Daun merupakan istilah yang sudah ada pada masyarakat Minang, yang merupakan minuman yang berasal dari daun kopi. Kawa daun merupakan minuman khas tradisional Minang yang terbuat dari daun kopi yang dibuat oleh orang-orang dari Sumatera Barat. Orang Minang sudah mengenal kopi sejak awal abad 19 bahkan jauh sebelum kedatangan bangsa Belanda, tetapi masyarakat setempat hanya mengkonsumsi daun kopi atau disebut Kawa Daun.
Nama kawa daun berasal dari kata Bahasa Arab yaitu “Qahwah” berarti kopi, yang dimana orang Minangkabau kemudian mengganti namanya tersebut dengan dialek Minang itu sendiri yaitu Kawa.
Kawa daun sendiri muncul sekitar tahun 1840 pada saat tanam paksa yang dilakukan oleh Belanda yang pada saat itu harga kopi sedang melambung tinggi di Eropa, maka seluruh biji kopi harus diserahkan ke penjajajah dan yang tersisa untuk pribumi hanya daunnya yang kemudian dijadikan minuman.
Pembuatan Kawa Daun
Ada beberapa cara pembuatan kawa daun, salah satunya dengan cara dikeringkan dan disangrai selama dua belas jam, kemudian saat akan disajikan daun yang sudah disangrai diberi air dingin lalu dipanaskan hingga airnya mendidih. Namun ada juga pembuatannya dikeringkan dengan cara pengasapan kemudian dimasukkan kedalam tabung kawa yang terbuat dari seruas bambu dan disiram dengan air panas sehingga airnya akan berwarna seperti air teh.
Penyajian Kawa Daun
Kawa daun biasanya disajikan dengan ‘Sayak’ yaitu gelas yang terbuat dari batok kelapa yang dibagi dua dan diberi tatakan banbu agar tidak tumpah yang di tuangkan dari perian bambu atau tabung bambu kawa yang ditutup dengan ijuk.
Tabung bambu kawa biasanya terbuat dari seruas bambu yang ruas bagian bawahnya berfungsi sebagai alas. Pada bagian mulut atas, ada bagian yang ditinggalkan 10 cm yang berfungsi sebagai tangkai atau pegangan. Kulit dinding luar dikelupaskan dan diberi cat pernis agar lebih indah. Pada bagian mulut tabung diletakkan ijuk yang telah dibersihkan sebagai saringan air kawa.
Minuman kawa daun biasanya disajikan dalam keadaaan panas dan juga biasanya didampingi dengan makanan gorengan seperti pisang goreng, tahu, tempe, tapai goreng, bika, dan ketan merah.
Tradisi Meminum Kawa Daun
Mulanya tradisi minum kawa daun dilakukan oleh pekerja pribumi di tepi sawah di dangau atau ladang yang sedang dikerjakan atau dibalai-balai bambu. Dahulu ada sebuah tradisi yang disebut “Pai Maanta Kawa” yang artinya mengantarkan makanan atau minuman untuk para pekerja yang berada diladang atau sawah, yang merupakan tradisi mengirim makanan oleh istri kepada suami yang sedang bekerja di ladang atau sawah, makanan yang dikirim itu berupa minuman kawa daun.
Minuman Kawa Daun di Minang merupakan salah satu minuman tradisional yang paling menarik dan enak. Karena aromanya yang harum dan rasanya yang unik yang berasal dari penyeduhan daun kopi, minuman ini menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya minuman lokal masyarakat Minang. Melestarikan tradisi minum Kawa Daun sangat penting agar kekayaan budaya dan kenikmatan minuman ini tetap terjaga dan dinikmati oleh generasi mendatang.