Kebudayaan Minangkabau
Oleh : Delfi Rahayu Dari Universitas Andalas Jurusan sastra minangkabau
Kebudayaan adalah cangkupan dari kegiatan keseharian suatu masyarakat. Terkhususnya di kebudayaan di Minangkabau mencangkup segala aspek mulai dari mengandung nilai religi, pengetahuan, bahasa, kesenian, sosial, ekonomi dan teknologi. Sebab Minangkabau menjunjung tinggi falsafah Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
Kebudayaan Minangkabau juga banyak diminati oleh semua kalangan hingga saat ini penikmat seni di Sumatera Barat masih melestarikan kebudayaan Minangkabau. Ada banyak jenis budaya di Minangkabau hasil dari perpaduan budaya dan kesenian juga sering dijumpai di Sumatera barat. Namun Mentawai tidak termasuk dalam kebudayaan Minangkabau sebab Mentawai tidak memakai falsafah Adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah. Sebab itulah Mentawai hanya disebut bagian dari Sumatera Barat yaitu bagian administratif politik. Mentawai dan Minangkabau mempunyai kulturalnya masing-masing. Mereka tidak sama tapi bernuansa kultural.
Kunci suksesnya kesenian di yang diyakini di Minangkabau adalah solidaritas sistem nilai tungku tugo sajarangan dan implementasinya dengan kata lain pondasi kehidupan Minangkabau ialah sistem nilai yang terjadi standar perilaku (komprehensif - interdisipliner) yakni meliputi adat, agama dan ilmu.
Hal wajib yang harus di ketahui sebelum meneliti kebudayaan yang ada di Minangkabau yakni. Dasar aturan yang dipakai di Minangkabau sendiri yaitu
Ingek adat jan sampainyo rusak, jago limbago jan nyo sumbiang. Jika dilihat dari dasar aturan tersebut dapat membuktikan bahwa kebudayaan Minangkabau menjunjung tinggi sistem nilai dimana sistem nilai yang dimaksud ialah sesuai yang diyakini baik dan dijadikan standar perilaku.
Adat diisi limbago di tuang.
Gadang adat dek limbago, gadang sumpik dek isinyo.
Nak kunak kundi, Nan sirah sago, Nak baiak budi nan endah baso.
Dapat kita lihat pada kesenian Minangkabau salah satunya ialah Salawaik Dulang. Di dalam penampilan salawaik dulang terdapat nyanyian, dzikir juga sholawat kepada nabi. Biasanya kesenian salawaik dulang dapat dijumpai di daerah Pariaman sebab disanalah dahulu maraknya penyebaran agama islam di Sumatera barat. Tidak hanya itu Tabuik juga menjadi salah satu perayaan di Pariaman dimana perayaan tersebut dilaksanakan sesudah hari maulid nabi. Namun pada hari maulid nabi para ibu ibu juga bundo kandung membawa dulang berisikan jamba yang disusun meninggi di dulang tersebut lalu isi dari dulang tersebut akan dimakan bersama sama di surau atau mesjid setempat.
Dari dua kebudayaan tersebut dapat disimpulkan bahwa wujud kebudayaan Minangkabau mengandung.
Sistem nilai.
Sistem ide/gagasan.
Sistem perilaku.
Sistem karya cipta.
Namun sekarang sistem kesenian erotika di Minangkabau sendiri memiliki beberapa tantangan yaitu.
Modernisasi. Semakin berkembangnya zaman modernisasi terus berkembang pesat dengan kemajuan teknologi yang dapat menenggelamkan kesenian budaya.
Pengaruh agama. Agama juga dapat menjaga tantangan pada suatu kesenian budaya salah satunya seni tari sebab seni tari dituntut harus mampu indah dalam gerakan tubuh. Hal ini menjadi tantangan bagi kesenian di Minangkabau sebab mereka juga dituntut menutup aurat.
Komodifikasi. Ialah eksploitasi yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat yang dapat merusak nilai budaya tersebut. Contoh besar yang dapat kita lihat dari komodifikasi ialah perubahan bentuk pakaian adat terkadang komodifikasi juga ada pada upacara adat.Masyarakat kebudayaan Minangkabau mendukung sistem kebudayaan yang memiliki makna banyak bajalan banyak nan di liek, lamo hiduik banyak di raso. Langgam kato nan ampek yang artinya ka ateh sopan ka bawah santun (maksudnya ialah kepada orang yang lebih tua harus sopan, kepada anak anak harus santun dan mampu membimbing mereka ke jalan yang baik). Hubungan pranata atau hubungan ibu dan anak karena Minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal. Lalu ada siparaik pangarek kuku.
Orang yang disebut kompeten dalam kebudayaan Minangkabau ialah orang yang paham akan wujud pengetahuan, mempunyai keterampilan dan memiliki attitude atau sikap yang baik. Bak abu di ateh tungku, bak manintiang minyak panuah.
Sebagai mahasiswa juga pelaku seni kita harus memiliki penguasaan kebudayaan sebab orang-orang terdahulu lambat laun pasti akan hilang lalu siapa yang akan melestarikan kebudayaan jika bukan kita untuk itu setiap orang harus punya rasa penguasaan pada kebudayaannya sebab kebudayaan adalah suatu identitas yang dimiliki oleh suatu daerah.