Kerajaan Jambu Lipo Berdasarkan Sejarah Lisan "Mangumpuan nan Taserak"
Oleh Rajo Godang Firman Bagindo Tan Ameh, Yuli Hardi Malin Pandeka dan Sultan Kurnia Monti Rajo
Berbeda dengan kerajaan lainnya di Minangkabau, pewaris Kerajaan Jambu Lipo saat ini tidak memiliki tinggalan berupa tambo dan arsip sejarah sama sekali. Hal tersebut diakui oleh tuanku
Firman Bagindo Tan Ameh Rajo Alam XIV. Setelah dinobatkan menjadi raja pada tahun 1987, beliau tidak mewarisi satu halaman pun yang menceritakan sejarah Kerajaan Jambu Lipo. Hal tersebut juga diamini oleh Tuanku Sultan Bagindo Majo Indo Rajo Ibadat dan Tuanku Amran Rajo Adat serta perangkat kerajaan lainnya. Oleh sebab itu, pada seminar pertama kali tentang Kerajaan Jambu Lipo Pada 1996. Tuanku Firman Bagindo Tan Ameh memaparkan sejarah Kerajaan Jambu Lipo hanya berdasarkan tutur lisan.
Pada seminar itu beliau menulis dan memaparkan sebuah makalah yang cukup lengkap tentang Kerajaan Jambu Lipo terdiri atas sejarah, wilayah, struktur kepemimpinan dan kebudayaannya.
Sumber penyusunan makalah tersebut adalah pengetahuan masing-masing pewaris dan kerabat kerajaan yang masih hidup saat ini. Pada umumnya, pengetahuan sejarah yang mereka memiliki merupakan tutur lisan yang di sampaikan oleh pewaris kerajaan sebelumnya juga.
Jambu Lipo, demikianlah nama sebuah kerajaan yang ada di provinsi Sumatra Barat. Meskipun sejarah tentang Kerajaan Jambu Lipo selama ini belum sepenuhnya terungkap, namun Kerajaan Jambu Lipo telah ada dan hidup dalam riwayatnya yang cukup panjang.
Pada kurun waktu Raja di Kerajaan Jambu Lipo yang ke IV, Raja Jambu Lipo bersama dengan pembesar lainnya yang ada sekitar Jambu Lipo yakni Loban Mr. Sibakur Tanggo Batu jo Jambu Lipo menerima perundingan damai dari pihak pembesar Mr. Kurimo walau lain sebelumnya telah terjadi kekerasan dan pertentangan yang di sebab kan oleh peristiwa Puti Mangenang. Ujung dari perdamaian tersebut sepakatlah untuk membuat sebuah nagari yang kini bernama Lubuk Tarab. Dan untuk itu Nagari Lubuk Tarab disebut "muaro kurimo nan basentak mudiak, muaro sibakur basentak hiliah". Kerajaan Jambu Lipo setelah memindahkan pusat kerajaannya dari bukit Jambu Lipo ke Nagari Lubuk Tarab.
Kerajaan Jambu Lipo juga sebuah Kerajaan yang di hapuskan kekuasaannya oleh Penjajah Belanda, dengan tewasnya Raja Jambu Lipo yang ke IX atau yang bernama Sutan Pondok.
Kerajaan Jambu Lipo juga sebuah Kerajaan yang mempunyai wilayah yang terdiri dari puluhan desa,kota dan atau 12 buah nagari dalam 5 kecamatan di 2 bagian Kabupaten yakni Sijunjung dan Solok Selatan. Walaupun di Wilayah Kerajaan Jambu Lipo sebahagin besar masyrakat nya hidup di bawah garis kemiskinan, dengan mata pencaharian sebagai petani, penyadap hutan, karet dan pertenak, namun sifat gotong royong masyarakat masih tetap kuat. Selain itu masyarakat masih berpegang teguh kepada aturan adat istiadat, ataupun Adat nan Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah.
Rajo Tigo Selo Jambu Lipo
Kerajaan Jambu Lipo dipimpin oleh Rajo Tigo Selo yaitu:
1. Rajo Alam dengan gelar Bagindo Tan Ameh
2. Rajo ibadat dengan gelar Bagindo Majo Indo
3. Rajo Adat dengan gelar Bagindo Tan Putih
Dan ketiga rajo ini mempunyai asal usul perjalanan masing-masing, namun sebelumnya juga telah atau sebelum sampai di Jambu Lipo sudah mempunyai hubungan.
Kerajaan Jambu Lipo sesuai dengan warih nan manjawek ternyata lebih dahulu dari kedatangan Raja Minangkabau yang memindahkan pusat kerajaan (dari Dharmasraya) ke pagaruyuang yaitu Adityawarman. Salah satu buktinya tulisan aksara Cina Kuno terdapat pada stempel Kerajaan Jambu Lipo yang di teliti oleh tim alih bernama Abu Yazid.
Dungka-dangka itulah nama rajo yang pertama yang kemudian disebut dengan Rajo Alam. Pada Abad X di sekitar pagaruyuang dan Bukit Gombak sekarang terdapat perkampungan-perkampungan masyarakat yang di kepalai oleh pembesar dan lainnya sebagainya yang setaraf dengan raja-raja. Pada suatu waktu dilakukan pengangkatan seorang raja dimana pilihan jatuh kepada adik dungku-dangka. Oleh karena merasa sedih dan dipermalukan Dungku Dangka menghilang dari kampung halaman.
Kepergian Dungku Dangka dari kampung halaman melalui daerah Singkarak sekarang kemudian sampai di pelangki sekarang untuk seterusnya menuju Bukit Bual di wilayah koto Vll sekarang. Dan seterusnya mengarah ke Tabek Sijunjung, di tabek beliau bertemu seorang yang bernama kini Pakiah Sati. Bersama Pakiah Sati beliau menikmati makanan yang masih ada kemudian sisa dari makanan itu (sekeping ikan di buang ke dalam tabek). Ternyata ikan tersebut hidup kembali dan sampai saat ini orang masih perna melihat ikan tersebut yang dikenal dengan ikan sabalah.
Entah oleh kekeramatan dua orang tua tersebut sampai saat ini tempat tersebut masih dianggap tempat keramat oleh orang-orang di daerah tersebut.
Singkat cerita dari Tabek Sijunjung beliau melanjutkan perjalanan ke Bukit Cangkiang melewati ayiah angek lalu sampai di Latang dan langsung ke Kabun. Di Kabun beliau melihat ke se rang arah atas ternyata disana ada sebuah perkampungan. Disana masyarakat dikepalai oleh beberapa orang pemuka yang terdiri dari: Bagindo Tan Kasa, Bagindo nan Caradek, Rajo Batuah dan kemudian beliau menatap bersama orang-orang tersebut.