Mengenal Lebih Dekat Folklor dan Contohnya di Kabupaten Padang Pariaman Provinsi Sumatera Barat
Apa itu Folklor ? Folklor sebagai suatu disiplin, atau cabang ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri di Inddonesia. Kata folklor dalam bahasa Indonesia, dalam bahasa Inggris disebut folklore. Kata itu adalah kata majemuk, yang berasal dari dua kata dasar folk dan lore. Folk merupakan sinonim kolektif yang juga memiliki ciri-ciri pengenal fisik atau kebudayaan yang sama, serta mempunyai kesadaran kepribadian sesuai kesatuan masyarakat. Lore adalah tradisi folk, seperti sebagian kebudayaannya, yang diwariskan secara turun-temurun secaral lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.
Menurut Danandjaja (2003:3) Folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device). Folklor pun merupakan ekspresi masyarakat berbudayaa. Jadi folklor, tradisi, dan kolektifvitas tidak bisa dipisah-pisahkan, ketiganya menyatu dalam diri folklor. Ciri-ciri utama folklor yaitu a) penyebaran dan pewarsinya dilakukan secara lisan, yakni disebarkan dari mulut kemulut, b) folklor bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk tetap atau bentuk standar, c) folklor ada dalam versi-versi bahkan varian yang berbeda, hal ini disebabkan oleh penyebarannya yang dari mulut ke mulut, d) folklor bersifat anonim, yaitu nama penciptanya sudah tidak diketahui lagi, e) folklor biasanya berumus dan berpola, f) folklor mempunyai kegunaan dalam kegunaan di kehidupan bersama suatu kolektif, g) folklor bersifat pralogis, yang mempunyai logika akan tetapu tidak sesuai dengan logika umum, h) folklor milik bersama, i) folklor bersifat polos dan lugu, maka dari itu seringkali terlihat kasar dan spontan.
Seorang ahli folklor dari Amerika Serikat, Brunvard (dalam Danandjaja 2002: 21) menggolongkan folklor dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya, yakni 1) folklor lisan (verbal folklore), 2) folklor sebagian lisan (panly verbal folklore), dan folklor bukan lisan (non verbal folklore) atau masing-masing dengan istilah mentifact, dan anifact (Bruvand,1978:3). Jan Harold Bruvand (dalam Danandjaja 2002: 21-22) folklor digolongkan ke dalam tiga kelompok besar, yakni :
Folklor lisan, merupakan folklor yang bentukannya murni lisan. Yang termasuk folklor lisan ini antara lain: (a) bahasa rakyat seperti logat, julukan, pangkat tradisional, dan titel kebangsawaan, (b) ungkapan tradisional, seperti pribahasa, pepatah, dan pameo, (c) pertanyaan tradisional, seperti teka-teki, (d) puisi rakyat, seperti pantun, gurindam, dan syair, (e) cerita prosa rakyat, seperu mite, legenda dan dongeng, (i) nyanyian rakyat.
Folklor sebagian lisan , adalah folklor yang bentuknya merupakan gabungan unsur lisan dan unsur bukan lisan, seperti kepercayaan rakyat yang oleh orang “modern” seringkali disebut dengan takhyul, terdiri dari pernyataan yang bersifat lisan di tambah dengan gerak isyarat yang dianggap mempunyai makna gaib. Selain itu yang tergolong kedalam kelompok ini adalah permainan rakyat, teater rakyat, adat-istiadat, upacara, pesta rakyat dan lain-lain.
Folklor bukan lisan, merupakan folklor yang bentuknya bukan lisan, walaupun cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Kelompok besar ini dapat dibagi menjadi dua kelompok yakni material dan bukan material. Bentuk-bentuk yang tergolong dalam material adalah: arsitektur rakyat (bentuk rumah asli daerah, bentuk lumbung padi), kerajinan tangan rakyat, pakaian dan perhiasaan tubuh adat, makanan dan minuman rakyat, serta obat-obatan tradisional. Sedangkan yang termasuk yang bukan material antara lain: gerak isyarat tradisional, bunyi isyarat untuk komunikasi rakyat, dan musik rakyat.
Salah satu masyarakat yang masih memiliki berbagai macam jenis folklor adalah masyarakat Kabupaten Padang Pariaman masih mempunyai kepercayaan terhadap jenis-jenis folklor yakni:
1.) Basimbang
Tidak ada catatan yang ditemukan sejak kapan tradisi berobat dengan caraa basimbang ini ada namun diyakini telah sejak lama di Nagari Sintuak Kabupaten padang Pariaman. Basimbang adalaah mengambil kunyit yang dibelah dua kemudian diletakkan di punggung tangan setelah dimantrai kemudian kunyit dijatuhkan, dari kunyit yang dijatuhkan nanti akan ada yang tegak, telentang dan telungkup. Begitu Basimbang di Nagari Sintuak dilakukan.
Basimbang diyakini oleh masyarakat Sintuak sebagai bentuk pengobatan tradisional dengan kunyit yang dijatuh dapat disimpulkan apa penyebab penyakit orang tersebut. Biasanya sang dukun akan mengatakan sedikitnya tasapo (kesambet), kemudian kunyit tadi dimasukkan ke dalam gelas yang telah diisi air, kemudian dimasukkan 10 butir, setelah itu diminumkan kepada orang yang sakit. Menurut keyakinan orang Sintuak ia akan sembuh. Basimbang merupakan contoh folklor bukan lisan.
2.) Ikan Larangan Bauduah
Sungai sebagai sarana untuk pemenuhan air bersih di masyarakat perkampungan padang pariaman menjadi milik bersama dan dijaga bersama hal itu tercermin dari pelaksanaan tradisi ikan larangan bauduah. Tradisi ikan larangan bauduah pada masyarakat sintuk sudah ada sejak lama tidak diketahui sejak kapan tradisi ini dimulai, ikan larangan ini biasanya milik masjid kampung. Ikan larangan ini tidak boleh diambil apalagi dimakan, berdasarkan cerita orang tua-tua kampung jika tetap dimakan, maka perut orang yang memakan ikan tersebut akan membuncit.
Proses pembuatan ikan larangan yakni dengan mengundang orang siak atau tuanku untuk meniatkan (mendo’akan) agar ikan-ikan ini tidak diambil orang kemudian dimasukanlah ribuan bibit ikan kedalam sungai kemudian diumumkan kepada masyarakat bahwa ikan itu adalah ikan larangan. Ikan larangan ini termasuk folklor sebagian lisan.
3.) Sipak tekong
Sipak tekong adalah bentuk Permainan tradisional yang dilakukan banyak orang dengan menggunakan sabuik,kalau bahasa pariamanya, permainan ini dilakukan dengan cara memakai sabuik dari kelapa, kita berdiri di dekat sabuik itu sambil menutup mata, dan orang-orang yang lain ngumpat dan yang menjaga akan mencari orang-orang tersebut, dengan meninggalkan sabuik di dekat berdiri tadi, lalu kalau ada orang mendapatkan sabuik tersebut dan ia melemparkan dan si penjaga mengambil sabuik dan mencari kembali orang-orang yang ikut tersebut, sampai berulang-berkali kali, kalau masih si penjaga menjadi, maka kalau sudah enam kali di lemparkan orang sabuik tersebut maka, sipenjaga akan mencari sampai orang-orang itu sampai dapat dan orang-orang lain tidak boleh memegang sabuik tersebut, Kalau ada yang memegang maka ia akan menjaga atau menjadi. Sipak tekong ini termasuk folklor sebagian lisan.
Penulis (Adinda, Mahasiswi Prodi Sastra Minangkabau, Universitas Andalas)
Sumber referensi :
Hasanuddin. Adat dan syarak. Padang. Balai Pelestarian nilai budaya. 2013
Danandjaja, James.2002. Folklor Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti