Pakaian Khas Perempuan Minangkabau
Penulis : Jihan Rafifah Syafni, Mahasiswa Sastra Minangkabau Universitas Andalas
Pakaian adalah suatu kebudayaan yang dimiliki oleh setiap masyarakat yang dimana saja berada. Pakaian yang dikenakan masyarakat sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar dan juga menjadi penutup tubuh khususnya perempuan. Pakaian juga sandang untuk kebutuhan sehari-hari yang dibutuhkan oleh masyarakat dimana saja berada. Setiap daerah atau tempat pastinya memiliki pakaian khusus yang ada sejak dulu dari nenek moyangnya, pakaian yang di turunkan secara turun-temurun. Pakaian khas yang dimiliki setiap daerah bisa dikatakan sebagai simbol atau lambang di daerah tersebut. Apalagi untuk seorang perempuan di daerah-daerah lain tentunya memiliki baju khas masing-masing. Biasanya pakaian khas atau adat memiliki keunikan yang beragam dan memiliki makna yang berbeda-beda. Salah satunya seperti di daerah Minangkabau yang memiliki baju khasnya atau baju adatnya yaitu baju kuruang.
Baju kuruang basiba adalah pakaian yang biasanya digunakan oleh bundo kanduang diminang atau wanita minangkabau,baju kuruang basiba ini pakaian nya sangat longgar dan tidak ketat sehingga sangat cocok digunakan oleh perempuan minang,saat ini untuk melestarikan pakaian ini di sekolah sekolah mulai dari jenjang sd sampai sma menggunakan seragam basiba ini,biasanya disetiap hari kamis siswa perempuan menggunakan seragam basiba,sedangkan siswa laki laki menggunakan seragam taluak balango.
Kata basiba ditafsirkan basiba adalah berasal dari 3 tanda jahitan yang berawal dari ujuang ketiak wanita yang dikasi pita(bis) sesuai dengan warna baju dengan ukuran bajunya yang longgar atau lapang dan panjang sampai kebatas lutut,mempunyai siba dan kikik di batas ketiak,lenggannya panjang sampai ke pergelangan tangan,leher tanpa kerah dan bagian depannya sedikit berbelah sebatas dada kemudian ditambah lagi dengan lipatan yang indah sebagai penghias baju dan bajunya ini digunakan bersamaan dengan rok dan juga menngunakan salendan dan penutup kepala dan memakai kain saruang jawa sampai menutupi mata kaki,baju basiba ini juga di hias menggubakan bordiran benang emas yang di sebut juga dengan minsia,minsia melambangkan jiwa demokrasi yang berlaku diminangkabau,dengan artian demokrasi ini adalah demokrasi yang menggunakan aturan aturan dan batas batas yang di tentukan oleh adat yang sesuai dengan alua jo patuik,yang berlandasan dengan semboyan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.Oleh karena itu Ketika mengenakan pakaian ini kita juga harus bisa menjaga sikap dan perilaku,contohnya saja kita tidak boleh berjalan melenggok lenggok yang berlebihan.
Baju adat
Nama lain dari baju adat minangkabau adalah limpapeh,Baju Limpapeh Rumah nan Gadang terdiri dari tengkuluk, baju batabue, minsie, sarung, dan salempang.Limpapeh Rumah Nan Gadang merupakan lambang kebesaran wanita. Dalam Bahasa Minang, Limpapeh berarti tiang besar yang digunakan untuk menopang bangunan,Limpapeh Rumah Nan Gadang merupakan lambang kebesaran wanita. Dalam Bahasa Minang, Limpapeh berarti tiang besar yang digunakan untuk menopang bangunan.Jika Limpapeh roboh, maka rumah juga akan roboh. Ini sebuah pesan agar wanita atau seorang ibu yang tidak pandai mengatur rumah tangga. Dan oleh sebab itulah keharmonisan rumah tangga tidak bertahan lama dan hubungannya akan sama roboh. Pakaian adat limpapeh rumah nan gadang digunakan pada acara adat, seperti saat menjamu pengantin.Ornamen ornamen dari pakaian ada ini terdiri dari
-Tingkuluak
Tingkuluak adalah salah satu perlengkapan pakaian bundo kanduang yang berasal dari daerah Sumatera Barat yang di pakai di bagian kepala dengan cara di sorong. Tingkuluak digunakan oleh bundo kanduang dalam acara-acara adat.Tingkuluak digunakan oleh bundo kanduang dalam acara-acara adat.Tingkuluak ini memiliki bentuk yang menyerupai gonjong atap rumah Gadang yang berbentuk persegi panjang pada bagian atas.-Baju batabue
Baju batabue atau baju bertabur adalah baju kurung yang dihiasi dengan taburan pernik benang emas. Pernik-pernik sulaman benang emas tersebut melambangkan tentang kekayaan alam Ranah Minang Sumatera Barat yang sangat berlimpah. Corak dari sulaman inipun sangat beragam
Baju batabue dapat dijumpai dalam 4 varian warna, yaitu warna merah, hitam, biru, dan lembayung. Pada bagian tepi lengan dan leher terdapat hiasan yang biasa disebut minsie. Minsie adalah sulaman yang menyimbolkan bahwa seorang wanita Minang harus taat pada batas-batas hukum adat yang berlaku.-Minsie
Minsie adalah bis tepi dari baju yang diberi benang emas. Pengertian minsie ini untuk menunjukkan bahwa demokrasi Minangkabau luas sekali, namun berada dalam batas-batas tertentu di lingkungan alur dan patut.
-Lambak dan Salempang
Lambak adalah kain atau sarung sebagai penutup bagian bawah. Sarungnya bisa dari kain tenun, bisa juga dari songket. Lambak atau sarung adalah pakaian bawahan pelengkap pakaian adat Minangkabau Bundo Kanduang. Sarung ini ada yang berupa songket dan berikat. Sarung dikenakan dengan cara diikat pada pinggang. Belahannya bisa disusun di depan, samping, maupun belakang tergantung adat Nagari atau suku mana yang memakainya, sedangkan selendangnya disebut salempang.-Galang dan Dukuah
Busana adat Minangkabau ini dilengkapi dengan perhiasan berupa galang dan dukuah. Galang atau gelang dipasang di tangan. Sedangkan dukuah atau kalung dipasang di leher. Umumnya seperti pakaian wanita dari daerah lain, penggunaan baju adat Minangkabau untuk wanita juga dilengkapi dengan beragam aksesoris.Dukuah memiliki beberapa motif, yaitu kalung perada, daraham, kaban, manik pualam, cekik leher, dan dukuh panyiaram. Secara filosofis, dukuah melambangkan bahwa seorang wanita harus selalu mengerjakan segala sesuatu dalam dasar kebenaran.Jadi, bila perempuan Minang sedang memakai busana Limpapeh Rumah Nan Gadang maka akan tampak kemuliaan dan marwahnya.