Permainan Tradisional Anak Nagari: ABC Lima Dasar
Abel Ibnu Afda
2210742017
Di tengah kemajuan zaman yang membawa teknologi ke dalam setiap sudut kehidupan, ada banyak hal yang perlahan memudar dari ingatan dan kebiasaan kita. Salah satunya adalah permainan tradisional. Permainan yang dulunya menjadi denyut kehidupan anak-anak kampung, kini mulai jarang terdengar gaungnya. Di antara sekian banyak permainan yang pernah hidup dalam tawa sore hari anak-anak nagari, ada satu yang begitu membekas dalam ingatan saya: ABC Lima Dasar.
Permainan ini begitu sederhana. Tak membutuhkan alat khusus atau tempat tertentu. Cukup beberapa teman sebaya, sebilah ranting untuk mencoret tanah, dan tentu saja semangat bermain yang menggelora. Kami biasa memainkannya saat matahari mulai condong ke barat, ketika suara ibu-ibu memanggil anaknya untuk mandi mulai terdengar bersahut-sahutan dari dapur rumah kayu. Kami berkumpul, duduk melingkar di halaman rumah gadang atau di bawah pohon jambu, dan permainan pun dimulai.
Cara bermainnya mudah: salah satu dari kami menyebutkan sebuah huruf dari abjad secara acak, misalnya huruf C. Kemudian kami semua harus cepat-cepat menyebutkan kata yang dimulai dengan huruf tersebut, sesuai dengan kategori yang disepakati sebelumnya—bisa nama orang, nama binatang, nama tempat, atau nama benda. Siapa yang tercepat dan benar, mendapat poin. Siapa yang tak bisa menjawab, diberi hukuman kecil—entah giliran terakhir, kehilangan poin, atau diejek dengan candaan khas anak-anak kampung yang tak pernah kehabisan ide.
Walaupun tampak seperti permainan biasa, ABC Lima Dasar mengandung begitu banyak nilai berharga. Ia melatih anak-anak berpikir cepat, memperluas kosa kata, dan memperkenalkan berbagai hal baru dari kategori-kategori yang digunakan. Selain itu, permainan ini juga melatih kejujuran, sportivitas, serta kemampuan sosial seperti sabar menunggu giliran dan menghargai jawaban orang lain. Dalam tawa dan canda itu, tanpa sadar kami belajar tentang dunia, tentang bahasa, dan tentang hubungan antar manusia.
Permainan seperti ini tidak lahir dari buku pedoman atau kurikulum resmi. Ia tumbuh dari kreativitas lokal, dari kearifan yang diwariskan secara lisan antar generasi. ABC Lima Dasar adalah bagian dari ekosistem bermain anak-anak nagari yang kaya dan penuh makna. Ia berdampingan dengan permainan lain seperti galah panjang, congklak, main tali, dan petak umpet. Bersama-sama, permainan ini membentuk sebuah dunia kecil yang penuh kebahagiaan, jauh dari tekanan dan ketergantungan pada gawai.
Namun kini, dunia itu perlahan menghilang. Anak-anak zaman sekarang lebih mengenal game online daripada permainan tanah. Layar sentuh menggantikan ranting dan tanah. Interaksi tatap muka diganti oleh emotikon dan pesan singkat. Ruang terbuka berubah menjadi tempat parkir atau dibangun menjadi ruko. Dan permainan seperti ABC Lima Dasar pun menjadi cerita masa lalu, hanya hidup dalam nostalgia mereka yang pernah mengalaminya.
Saya menulis ini bukan untuk menghakimi zaman atau menyalahkan teknologi. Saya menulis ini sebagai pengingat bahwa ada warisan budaya kecil yang tak kalah penting dari pelajaran di sekolah. Permainan tradisional seperti ABC Lima Dasar adalah ruang belajar yang menyenangkan, alami, dan membumi. Ia mengandung nilai-nilai yang membentuk karakter: jujur, sportif, berpikir cepat, mampu bekerja sama, dan tetap ceria dalam keterbatasan.
Maka, mari kita hidupkan kembali permainan-permainan ini. Tidak harus menolak kemajuan teknologi, tapi cukup dengan memberi ruang bagi anak-anak kita untuk bermain secara nyata. Ajak mereka ke luar rumah. Duduk bersama. Mainkan ABC Lima Dasar seperti dulu kita memainkannya. Biarkan mereka merasakan betapa serunya dunia tanpa layar, dan bagaimana permainan sederhana bisa memberi kebahagiaan yang dalam.
Karena dari permainan-permainan itulah, kita belajar tentang dunia, tentang kebersamaan, dan tentang siapa kita sebagai bagian dari budaya yang kaya dan berakar kuat. Permainan seperti ABC Lima Dasar bukan hanya kenangan. Ia adalah identitas. Dan identitas, seperti akar pohon, harus terus dijaga agar kita tidak tercerabut oleh zaman.