Referensi Buku Alih Aksara Kitab Rancang : Naskah Ajaran Tasawuf di Kabupaten Galuh
Penulis : Ulfatmi
Naskah (manuscrift : dalam bahasa Inggris), yang dalam bahasa Indonesia digunakan istilah “naskah” atau “manuskrip” yang berarti wujud suatu tulisan tangan. Dengan kata lain, naskah dapat diartikan sebagai wujud konkrit dari tulisan tangan yang di dalamnya mengandung teks. Maka penulisan naskah dilakukan pada masa lalu, tatkala alat tulis mekanik belum ada dan belum meluas penggunaannya. Secara sosial budaya, naskah memuat nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan sekarang, sehingga sudah menjadi sebuah tanggung jawab bagi kita, khususnya masyarakat pecinta naskah.
Naskah-naskah dapat memberi sumbangan besar untuk studi tentang suatu bangsa atau kelompok sosial. sebuah naskah berkaitan erat dengan pengenalan aksara dan tradisi baca-tulis. Di Tatar Sunda sendiri, bukti keberadaan aksara untuk pertama kalinya dikenal melalui peninggalan prasasti, yang diperkirakan berasal sekitar pertengahan abad ke-5, tatkala Kerajaan Tarumanagara masih tegak berdiri (akhir abad ke-4 hingga akhir abad ke-7). Dilihat dari konteks kebudayaan, naskah dapat dikategorikan sebagai salah satu warisan budaya kebendaan yang bersifat material culture/konkrit, dan sekaligus mengandung teks yang dapat dikategorikan sebagai salah satu intangible cultural heritage (warisan budaya nonkebendaan) yang bersifat abstrak.
Isi teks naskah Sunda cukup beraneka ragam. Ada yang berkaitan dengan keagamaan, etika, hukum, adat istiadat, legenda, mitologi, pendidikan, ilmu Naskah yang menjadi objek penelitian dalam buku ini adalah naskah kepustakaan pesantren, yang tergolong ke dalam naskah keagamaan, berisi ajaran tasawuf. Istilah tasawuf belum dikenal pada zaman Rasululloh saw., tetapi substansi ajaran tasawuf diambil dari perilaku Rasululloh saw. sendiri. Ajaran Islam mengenal pembidangan: akidah, syariah, akhlak; atau pembidangan Islam, iman, dan ihsan., sastra, sejarah dan seni.
B. Tujuan Alih Aksara dan Alih Bahasa
Proses alih aksara dan alih bahasa pada naskah kuno bertujuan untuk memudahkan pembacaan dan pemahaman isi naskah oleh masyarakat luas. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan minat dan pemahaman terhadap naskah-naskah kuno serta menjaga keaslian teks.C. Penelusuran Naskah & Alasan Pemilihan Naskah:
Naskah-naskah Sunda tersebar di berbagai tempat koleksi di Indonesia dan luar negeri, dan dibagi berdasarkan waktu pembuatannya menjadi masa kuno, peralihan, dan baru. Naskah Kitab Rancang dipilih untuk dialihbahasa dan diterjemahkan karena termasuk dalam naskah Sunda Lama dan memiliki nilai historis serta keagamaan yang penting.D. Deskripsi Naskah:
Kitab Rancang merupakan naskah Sunda Lama yang ditulis dalam bahasa Sunda dengan pengaruh bahasa Arab dan Jawa. Naskah ini termasuk dalam kepustakaan pesantren dan berbentuk puisi naratif. Kitab Rancang memiliki ciri-ciri fisik seperti ukuran, jumlah halaman, bahan, dan kondisi fisik tertentu yang memungkinkan untuk diteliti lebih lanjut.E. Ringkasan Isi Cerita
Teks naskah Kitab Rancang secara redaksional berbentuk puisi naratif, di mana cerita disampaikan melalui teks yang berbentuk pupuh.
Sinom ceuk nu ngarang tembang, jisim kuring anu nulis,
tempat na kampung Ciranjang, bawahan désa Kawali,isina kaliwat saking,da lain hayang kamashu(r), baé [rék] nerangkeun ngarangan aya anu dipamrih,ceuk pun anak ieu téh karangan bapa.
Bait awal tersebut menunjukkan bagian awal naskah, yang menyebutkan riwayat penulisan naskah, siapa dan di mana naskah Kitab Rancang itu ditulis. Secara garis besar Kitab Rancang berisi ajaran tasawuf, yakni menceritakan tentang Nur Muhammad. Dikarenakan KR ditulis menggunakan pola metrum pupuh, maka ringkasan isi berdasarkan urutan pupuh yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Pupuh Sinom (bait 1-27)
Bagian ini (bagian awal/pembuka naskah) diawali dengan pemaparan riwayat penulisan naskah, riwayat penyalin, sanduk-sanduk menerangkan bahwa penulis adalah orang yang awam, bodoh, tidak memiliki pengetahuan yang tinggi. Dalam hal ini lebih kepada merendahkan diri sebagai seorang cendekia. Selain itu, tak lupa disampaikan pula puja dan puji terhadap keagungan Alloh (dalam naskah disebut Pangéran). Memohon doa dan perlindungan supaya Alloh memberikan kemudahan dalam membaca naskah, dan pengakuan diri bahwa manusia adalah tempat khilap dan salah. Bagian ini juga menyebutkan beberapa sepuluh adab yang harus diperhatikan dalam membaca naskah KR. Bubuka cerita diawali dengan adanya dialog sahabat nabi yang bernama Jabir dengan Rasulullah SAW. Jabir bertanya kepada Rasulullah tentang bagaimana proses penciptaan bumi dan langit beserta hasil ciptaan Alloh lainnya. Rasulullah memulai penjelasan dengan menyebutkan tentang satu makhluk Alloh yang disebut hakikat Mahmaldiah (dalam naskah KR) yang dikenal dengan hakikat Nur Muhammad.
2. Pupuh Asmarandana (bait 28-59)
Dalam bagian ini diceritakan bagaimana penciptaan makhluk yang disebut (Nur Muhammad). Nur Muhammad digambarkan sebagai seekor burung Merak. Bagaimana dari tetesan-tetesan keringat burung Merak tersebut terciptalah nur sahabat nabi, yaitu Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Penciptaan Kursy dan Arsy, penciptaan bintang dan seluruh benda di alam semesta, penciptaan para syuhada, ulama, penciptaan dan berdirinya masjid-mesjid di dunia, para mukmin dan mukminat, penciptaan Kalam, penciptaan alam (Lahut, Jabarut, Malakut dan alam Mulki). Turunnya perintah sholat lima waktu, dan turunnya hukum syara.3. Pupuh Dangdanggula (bait 60-86)
Bagian ke tiga menceritakan tentang pengembaraan manusia di alam Mulki/alam dunia. Bagaimana manusia harus mengetahui jalan pulang dengan cara meniti shirrotolmustakim (jalan lurus menuju keselamatan). Alasan mengapa Rasulullah Muhammad diciptakan sebagai penutup para nabi. Bagaimana kelima hukum syara itu melekat untuk mengatur hidup manusia. Apa saja yang harus dilakukan manusia dalam pengembaraannya agar selamat dalam meniti perjalanan pulang. Di dalam bagian ini juga diceritakan tentang takdir manusia, dengan menggambarkan bagaimana penglihatan manusia terhadap nur Muhammad (Merak) berdasarkan apa yang mereka lihat, menentukan takdir mereka. Takdir yang dimaksud adalah hal yang berkaitan dengan rezeki/pekerjaan dan penentuan keyakinan/agama yang kelak dianutnya.
4. Pupuh Pangkur (bait 87-102)
Pupuh keempat menceritakan tentang penciptaan ruh. Ruh-ruh yang berkumpul dan memandang pada satu titik nur, di mana nur tersebut mempertanyakan bagaimana dan dari mana ia diciptakan. Nur yang dimaksud adalah Nur Muhammad. Pada bagian ini diceritakan hakikat penciptaan Nur Muhammad. Diceritakan pula tentang penciptaan Nabi Muhammad, tentang takdir siapa yang kelak menjadi keluarganya, beserta bagaimana ia diciptakan sebagai penutup dan petunjuk bagi umat manusia.
5. Pupuh Sinom (bait 103-124)
Pupuh ke lima ini menceritakan tentang proses penciptaan Nabi Adam. Nabi Adam yang diciptakan dari empat unsur kehidupan manusia. Ruh yang diberi jasad dan perhiasan makhluk surgawi. Dengan kekuasaan Alloh swt, Nabi Adam dijadikan sebagai nabi dan hendak dijadikan sebagai khalifah di bumi. Namun, satu makhluk Alloh yang bernama Idajil/Ijazil menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam. Iblis Idajil menolak untuk bersujud karena ia merasa lebih mulia daripada Adam yang dicipatakan dari saripati tanah, sedangkan ia diciptakan dari api yang suci dan kuat. Penolakan iblis tersebut menyebabkan ia mendapat laknat dari Alloh swt, dikarenakan mempunyai sifat kibir/sombong. Padahal Idajil adalah penjaga surga yang sangat taat kepada Alloh swt, karena sifat sombongnya, iapun menjadi makhluk yang hina dan jauh dari surga.
6. Pupuh Kinanti (bait 125-158)
Dalam bagian pupuh ini diceritakan bagaimana Iblis diusir dari surga dan dilaknat oleh Alloh swt., dikarenakan sifat sombongnya. Kemudian Iblis bersumpah akan memusuhi Adam dengan keturunannya sampai akhir zaman. Alloh swt. pun bersumpah akan melindungi anak cucu adam yang beriman kepada-Nya. Setelah Idajil keluar dari surga, diceritakan bahwa Nabi Adam tinggal di surga dengan segala kenikmatannya. Kemudian, diceritakanlah penciptaan Babu Hawa. Di mana dalam naskah disebutkan bahwa Babu Hawa diciptakan dari segumpal daging yang diambil oleh Alloh dari bagian dada sebelah kiri Nabi Adam. Nabi Adam tertidur beberapa saat, setelah bangun, ia menemukan seorang perempuan yang juga tengah tertidur di sampingnya. Nabi Adam terheran-heran dan merasa takjub dengan perempuan yang tiba-tiba berada di sampingnya itu.
7. Pupuh Asmarandana (bait 159-186)
Bagian selanjutnya menceritakan bagaimana perkenalan Adam dan Hawa. Merekapun saling menyukai dan akhirnya jatuh cinta satu sama lain sebagai makhluk Alloh swt. Setelah itu diceritakan bagaimana dialog antara Adam dan para malaikat tentang mas kawin untuk Babu Hawa. Adam bertanya kepada para malaikat mas kawin seperti apa yang cocok diberikan untuk Babu Hawa. Para malaikat pun menjawab dengan berbagai macam jawaban penuh suka cita. Tidak lama kemudian berlangsunglah pernikahan Adam Hawa di surga. Di dalam naskah diceritakan bahwa pesta pernikahan berlangsung secara sakral dan meriah. Adam Hawa pun hidup di surga dengan berbagai kenikmatan. Singkat cerita Babu Hawa tengah mengandung. Pada waktu itu juga iblis mulai menjalankan tipu dayanya untuk menggoda Adam Hawa. Ia pun mengelabui burung Merak penjaga pintu surga, dan masuk ke dalam surga dalam bentuk ular. Babu Hawa menginginkan buah kholdi yang tumbuh satu-satunya di surga. Keinginannya tidak terbendung, dan Nabi Adampun tidak dapat mencegahnya. Akhirnya keduanya sama-sama memakan buah yang dilarang oleh Alloh swt. itu. Adam Hawa tergoda oleh tipu daya iblis, lalu tidak sadarkan diri, surgapun menjadi gelap gulita. Adam dan Hawa pun mendapat murka Alloh dan diusir dari surga.
8. Pupuh Kumambang/Maskumambang (bait 187-219)
Setelah diusir dari surga, Adam dan Hawa lalu berpisah selama seratus tahun. Setelah seratus tahun lamanya, Adam diturunkan ke dunia. Dalam naskah disebutkan tempat di mana Adam diturunkan yaitu di Gunung Surandil, sedangkan Hawa diturunkan di Jidah. Selama berpisah, Adam Hawa mengalami kesengsaraan yang sangat pedih. Setelah seratus tahun lamanya berpisah kemudian mereka dipertemukan di sebuah tempat yang dinamakan Muzdalifah. Tempat di mana keduanya bertemu dinamai Arafah. Mereka bertemu penuh sukacita, setelah mengalamai berbagai penderitaan. Pada bagian akhir pupuh, diberitahukan bahwa diusirnya Adam Hawa dari surga bukan semata-mata karena tergoda iblis. Hal demikian terjadi karena kuasa Alloh sendiri, yang hendak menjadikan Adam sebagai khalifah pertama di bumi sebagai cikal bakal kehidupan manusia dan makhluk lainnya.
9. Pupuh Mijil (bait 220-230)
Pada bagian berikutnya diceritakan mengenai takdir mukmin dan kafir. Zuriyat Nabi Adam sebagai nabi telah Alloh berikan sepenuhnya. Untuk nantinya Adam mengembara di dunia. Setelah tugasnya selesai sebagai khalifah, Adam pun akan tinggal kembali di surga sampai hari yang ditentukan. Diceritakan bahwa Adam Hawa mempuyai keturunan. Adam Hawa mempunyai empatpuluh putra dan putri yang melahirkan seribu bangsa. Dari sanalah lahir cikal bakal bangsa-bangsa yang ada di dunia, yang beraneka ragam untuk melangsungkan kehidupan di alam Mulki ini.
10. Pupuh Pucung (bait 231-252)
Pada bagian ini masih menceritakan tentang banyaknya keturunan nabi Adam. Disebutkan Nabi Adam mempunyai empat puluh orang putra&putri dari rahim Babu Hawa yang kemudian dinikahkan bersilangan. Dari satu
orang putri melahirkan seribu bangsa. Saat itu Nur Muhammad yang menjadi ciri nur kenabian Nabi Adam masih menetap/berada di belakang punggung Nabi Adam sendiri. Pada suatu ketika, Adam Hawa mandi berdua di sebuah sungai yang bernama Sungai Tasmin. Ketika sedang terlena dalam kemesraan saat mandi, merekapun tidak sadarkan diri. Sejak saat itulah Nur Muhammad berpindah tempat dari Nabi Adam kepada Babu Hawa. Berpindahnya Nur dari Nabi Adam ke Babu Hawa, membuat Babu Hawa melahirkan seorang putra yang bernama Nabi Sis (dalam naskah disebut Nabi Esis). Nabi Esislah yang nantinya akan menurunkan nur kenabian kepada Nabi Ibrahim, Ismail sampai kepada Rosulullah Muhammad.
11. Pupuh Asmarandana (bait 253-293)
Cerita dilanjutkan dengan kisah seorang tokoh yang bernama Pandita Sawang yang tinggal di atas angin. Pandita Sawang menceritakan awal mula penciptaan manusia, penentuan takdir manusia, perjalanan ruh, pengaruh kehamilan terhadap psikologi ibu, penjelasan sifat duapuluh, dan tanda-tanda kelahiran. Nasihat-nasihan tersebut disampaikan kepada anak Pandita Sawang yang bernama Ujang Mar’at.
12. Pupuh Sinom (bait 294-329)
Pada bagian ini masih diceritakan tentang bagaimana keadaan ketika seorang ibu mengandung. Bagaimana perkembangan janin di alam rahim, dan bagaimana perubahan-perubahan yang terjadi pada seorang ibu ketika mengandung. Baik itu secara fisik maupun secara psikologis. Dijelaskan tentang perkembangan janin pada setiap fase/bulannya. Selain itu dijelaskan pula tentang alam Ahadiyat dan Wahidiyat. Pandita Sawang memberikan berbagai wejangan tentang kehidupan kepada Ujang Mar’at, salah satunya tentang nasihat tentang pernikahan dan bagaimana kehidupan selanjutnya setelah pernikahan.
13. Pupuh Dangdanggula (bait 330-350)
Pandita Sawang menyampaikan bahwa ia tidak bisa mewariskan apapun kepada anaknya selain mewariskan ilmu. Ilmu untuk mengarungi kehidupan dunia sampai nanti kembali kepada Sang Pencipta. Dalam bagian ini, Pandita Sawang memberikan ilmu dan nasihat tentang kematian. Bagaimana proses kematian itu terjadi. Apa yang terjadi pada perubahan tubuh/raga ketika kematian itu datang, dan bagaimana proses keluarnya ruh dari dalam raga. Diceritakan pula bagaimana perjalanan manusia ketika berada di alam kubur. Adanya perubahan bentuk dari raga menjadi cahaya kembali. Ia pun menyampaikan keinginannya seandainya Alloh meridhoi, setelah melewati alam kubur, Pandita Sawang ingin pindah ke tengah-tengah alam Kabir. Di bagian pupuh ini ditegaskan kembali perjalanan Nur Muhammad. Sebagaimana yang diceritakan dalam Kitab Daqoik, Nur Muhammad turun dari nabi Adam ke Babu Hawa, kemudian ke nabi Esis sampai kepada Nabi Muhammad saw. Pandita Sawang menegaskan kembali kepada anaknya bahwa ia tidak boleh berhenti dalam menuntut ilmu, mengkaji diri demi bekal hidup menuju keselamatan sejati.
14. Pupuh Asmarandana (bait 351-405)
Pupuh ini adalah bagian kedua paling akhir dari naskah Kitab Rancang. Pada bagian ini diceritakan bahwa Pandita Sawang kedatangan seorang tamu/tokoh yang bernama Waruga Alam. Pandita Sawang dan Waruga Alam berdialog tentang banyak hal, dan berargumen berdasar pada ilmu yang dimiliki masing-masing. Isi dialognya adalah membahas tentang bagaimanakah siksa kubur dan kehidupan akhirat. Mereka juga mendiskusikan tentang Alam Kabir dan Sagir (bumi dan langit). Mengutarakan keinginan masing-masing ketika sudah mengalami kematian dan melanjutkan kehidupan akhirat.
15. Pupuh Sinom (bait 406-430)
Pupuh ini merupakan bagian akhir dari naskah Kitab Rancang. Bagian akhir cerita membahas tentang rukun Islam. Rukun Islam yang menjadi perbincangan antara Pandita Sawang dan Waruga Alam adalah tentang hakikat Syahadat, falsafah sholat dan puasa. Dijelaskan hubungan filosofi sholat, waktu sholat dengan tahun.