Saluang Bagurau di Payakumbuh Sumatera Barat
Penulis :
Nama : Muhammad Rizky Budiman
Jurusan : Sastra Minangkabau
Universitas AndalasTradisi merupakan kebiasaan suatu penduduk asli yang meliputi nilai-nilai budaya, norma-norma , hukum dan aturan-aturan yang saling berkaitan, kemudian menjadi suatu peraturan yang sudah mencakup segala konsepsi sistem budaya dari suatu kebudayaan untuk mengatur tindakan sosial. Menurut Soerjono Soekanto, tradisi merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat secara berulang. Pertunjukkan tradisi biasanya ditampilkan dengan bentuk yang belum terkena sentuhan pengaruh perkembangan zaman dan perkembangan teknologi, dan syarat akan nilai dan makna yang sangat bergantung kepada alam dan lingkungan, penuh dengan ekspresi dan penghayatan. Fungsi tradisi yaitu sebagai kesadaran akan nilai yang telah dibangun pada masa lalu, memberikan legitimasi pada pandangan hidup, sebagai symbol untuk memperkuat loyalitas suatu kelompok atau komunitas, dan menjadi tempat pelarian dari kekecewaan pada kehidupan modern.
Minangkabau merupakan salah satu etnis Indonesia yang memiliki banyak tradisi. Tradisi di Minangkabau mencerminkan perkembangan dan tingkah laku masyarakatnya, sesuai dengan falsafahnya adatnya, yaitu Alam Takambang Jadi Guru. Masyarakat Minangkabau melahirkan banyak kesenian sebagai suatu kebudayaan masyarakatnya. Kesenian yang hidup dan berkembang pada masyarakat Minangkabau dari sejak dahulu hingga sekarang merupakan kesenian yang mampu bertahan dan memenuhi masyarakatnya. Salah satunya ialah Bagurau Saluang dan Dendang yang merupakan pertunjukkan musikal yang diiringi oleh alat musik tiup, yaitu saluang dan dimeriahkan oleh lirik-lirik yang dinyanyikan oleh para pedendang. Kesenian Bagurau Saluang dan Dendang bisanya banyak kita jumpai di daerah Payakumbuh.
Kesenian saluang dendang sering disebut dengan istilah bagurau oleh masyarakat Minangkabau, terutama bagi pencinta sekaligus penikmat kesenian saluang dendang. “Bagurau adalah salah satu bentuk pertunjukan kesenian tradisional Minangkabau yang di pertunjukkan untuk hiburan umum, di tempat-tempat umum dan dihadiri oleh para kelompok pagurau yang datang dari nagari-nagari lain yang ada di tigo luhak Minangkabau” (Rustim, 2010: xvii). Pertunjukan bagurau saluang dendang di pertunjukkan mulai pukul 22.00 hingga pukul 03.30 pagi. Interaksi yang terjadi berupa permintaan-permintaan dendang dan pantun kepada janang (pemimpin pertunjukan) untuk disampaikan kepada tukang dendang, kemudian tukang dendang yang akan memenuhi permintaan tersebut. Pagurau (penonton) yang meminta dendang dan pantun memberikan sejumlah uang dimasukkan ke dalam sebuah kotak yang diletakkan di samping janang atau tukang oyak.
Bagurau Samalam Suntuak merupakan sebuah tradisi saluang bagurau yang dilakukan di Kota Payakumbuh. Saluang Bagurau merupakan suatu seni pertunjukkan yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau untuk berkelakar atau menceritakan sesuatu dalam suasana keakraban (Rustim et al., 2019). Sesuai dengan namanya Bagurau yang berasal dari kata bergurau yang artinya merupakan salah satu tradisi bercakap-cakap dalam suasana yang akrab dan hangat, sindir-sindiran melalui ungkapan-ungkapan bahasa yang tajam. Seperti sebuah kebiasaan masyarakat Minangkabau untuk berkumpul bersama sambil bercerita dengan saling sindir-menyindir, bahkan sampai mencemooh.
Serta alat musik yang dimainkan dalam tradisi ini disebut dengan saluang, yang merupakan alat musik tradisional Minangkabau yang terbuat dari bambu dengan ukuran panjang dan bervariasi serta menyerupai seruling. Bagi masyarakat minang sendiri saluang dijadikan alat musik dendang untuk menghibur masyarakat dengan alunan khasnya. Dan perpaduan suara yang menciri khasan yang berupa dendang baibo-ibo,serta nada”lagu yang mengalun merdu dengan pengaturan lagu yang akan di nyanyikan.
Jumlah pemain yang ada dalam tradisi ini adalah sesuai anggota yang ada dan berminat. Anggota inti harus bisa memakai alat musik saluang,gandeng dan rabab. Serta di ikuti dengan penyanyi-penyanyi wanita dan pria yang akan saling berduet dan badendang. Sampai waktu nya habis dan acara pun selesai dilaksanakan. Dan akan di mulai lagi pada keesokan malam nya lagi dengan teman lagu yang berbeda-berbeda dan audiens yang berbeda pula
Saluang Bagurau dilakukan oleh peniup saluang, pemain dendang, pemain organ, dan tukang hoyak. Saluang Bagurau atau yang bisa kita sebut Bagurau Lapiak, biasanya dapat kita temui pada malam hari di sebuah kadai kopi atau emperan toko.
Pada saat tradisi Saluang Bagurau berlangsung, para penonton yang hadir turut meramaikan dengan cara meminta pendendang untuk menyanyikan sebuah lagu, menyampaikan sebuah pantun, dan menyampaikan sebuah pesan kepada tukang hoyak. Pesan yang disampaikan biasanya berupa nasehat, lelucon, bahkan sindiran. Dan sesuai namanya “Bergurau” tidak dimasukkan ke dalam hati dan menganggap itu sebagai hiburan malam untuk melepas penat aktivitas.