Si Hewan Pengerat yang Teraniaya
“Jurnalis dan para reporter itu mengganggu, mereka selalu ingin tau. Jaga jaga jangan sampai mereka merusak.” Kalimat seperti itu sering saya dengar dalam acara dan program televisi, bahkan pandangan tentang jurnalis juga sering digambarkan buruk dalam penayangan film atau series. Sosok jurnalis dianggap sebagai perusak suasana yang mengganggu jalannya acara atau kasus. Dalam film yang mengangkat tema misteri sering kali seorang penyiar berita dianggap sebagai musuh besar atau antagonis penghalang rencana. Stigma seperti ini yang merusak dan mengubah nama jurnalis menjadi jatuh dalam genangan lumpur penuh ketidakpercayaan dan kebohongan.
Mirisnya, hal ini ditelan mentah-mentah oleh masyarakat, mereka tanpa sadar tidak memperdulikan fakta penting, pentingnya sosok sumber informasi ini, masyarakat memilih membodohkan diri dalam dunia Hoax dan manipulasi. Informasi itu Harta. Setitik kebenaran dapat menghancurkan gunung kebohongan. Tapi tetap saja, mereka tidak tau dan tidak mau tau.
Dikatakan tadi bahwa informasi itu bagaikan harta, apalagi jika informasi itu benar dan terkonfirmasi, dapat menyelamatkan nyawa. Tapi, dunia ini sudah busuk, kebenaran bukanlah hal yang penting bahkan sudah menjadi hal yang wajib untuk disembunyikan. Tidak terhitung berapa banyaknya kasus-kasus kekerasan yang dialami pejuang fakta ini, tindak penganiayaan dan ancaman bahkan sampai penghilangan nyawa sudah berpuluh-puluh kali dilaporkan, itu semua adalah kasus yang diketahui. Yang tidak? Lebih baik kita tidak menghitung. Doa paling tulus kuberikan kepada korban.
Pada tahun 2021, tercatat lebih dari 40 kasus dilaporkan terkait kekerasan terhadap jurnalis. 60% diantaranya mengarah terhadap pelaku yang berhubungan dengan politik dan kekuasaan. Dan sepanjang 2022 kemarin tercatat lebih dari 60 kasus, dan dari penelusuran semua kasus tersebut kebanyakan berakhir dengan hukuman atau sanksi yang tidak setimpal dan juga banyak yang hilang bak ditelan bumi. Segala bentuk ancaman tersebut dapat berupa intimidasi, kekerasan, ancaman pembunuhan, penyuapan, pembungkaman, penculikan dan banyak lagi cara kotor dilakukan demi menekan jurnalist melaporkan fakta demi kepentingan pribadi.
Menjadi seorang wartawan dan jurnalis seolah olah memasang tanda dengan lampu neon terang yang tertulis Target Pembunuhan. Mirisnya, kebanyakan kasus yang dialami oleh jurnalis dilakukan oleh oknum yang memiliki kekuasaan dan nama dalam dunia politik, sebenarnya salahnya dimana? Seberapa busukkah dunia perpolitikan ini? Apa yang disembunyikan?.
Maka tak heran, banyak jurnalis yang memilih mengambil peran netral atau jalur aman dalam dunianya, banyak yang memilih menjadi jurnalis yang “dibayar”. Apa pilihannya? Nyawa bisa terancam, ada mulut yang perlu diberi makan, ada nasi yang perlu dimasak, ada anak yang menunggu untuk kita pulang. Kebanyakan masyarakat tidak memiliki pelindung atau privilege yang menjaga mereka terutama seorang jurnalis untuk menjadi bebas. Para jurnalis tertahan dalam belenggu orang atas yang memiliki kekuasaan lebih. Itulah kenyataannya, Kode Etik Jurnalis dan UU Pers hanyalah susunan kata kata dalam dokumen formalitas.
Kita tidak sebebas yang seharusnya. Dunia ini sudah kelam, kebenaran itu ada, bahkan terpampang jelas didepan mata. Tapi bukan kita yang mengatur agar kebenaran itu tersampaikan. Nekat mencari kebenaran layaknya mencoba menjelajahi kawah gunung, tantangan nya nyawa dan harga diri. Entah sampai kapan dan bagaimana kita kedepannya, semua studi riset dan solusi pada akhirnya hanya berujung pada tulisan tinta. Formalitas. Sulit untuk mewujudkanya.Penulis : Hadistya Annisa, Mahasiswi Jurnalistik. Universitas Bengkulu