Tari Toga Siguntur
Ditulis oleh : Fahresa Jufrina, Mahasiswa universitas Andalas, jurusan Sastra Minangkabau
Tari Toga merupakan salah satu jenis tari tradisional yang berasal dari kabupaten Dharmasraya tepatnya pada Nagari Siguntur kecamatan Sitiung. Tari toga sendiri telah ada sejak awal abad ke 13. Tari toga tidak dapat terlepas dari kata siguntur dikarenakan, siguntur sendiri merupakan tempat lahir dan berkembangnya tari Toga tersebut. Banyak cerita yang menyebutkan bahwa tari Toga berawal tercipta dari keinginan untuk menghibur raja yang tengah bersedih karena kehilangan anaknya dan agar tidak menghukum pelaku yang menyebab anaknya meninggal, adapun cerita lain menyebutkan raja bersedih karena anjing kesayangannya mati.
Syair dan bait yang terdapat pada Tari Toga secara tidak langsung meminta agar raja dapat mempertimbangkan kembali keputusan yang telah diambilnya untuk melakukan hukuman mati. Usaha tidak menghianati hasil itulah yang diterima orang-orang siguntur. Para korban yang terbebas dari hukum mati diminta untuk selalu mengabdi pada kerajaan siguntur. Sehingga hal tadilah yang menjadi faktor tari toga ini selalu ditampilkan. Pada mulanya tari Toga merupakan sebuah tari yang hanya dapat tampil dilingkungan istana. Namun seiring berjalannya waktu dan agar tari toga tidak hilang serta tari tersebut dapat mulai berkembang dilingkungan masyarakat Dharmasraya.
Tari toga menjadikan bait dan syair sebagai unsur pertama. Syair dan bait tersebut akan di nyanyikan dengan cara badendang. Selain padendang tari toga juga sangat membutuhkan penari dan pemusik, serta unsur pelengkap seperti raja, dayang-dayang, hulu balang, dan terdakwa. Sehingga tari toga membutuhkan sekitar 32 orang dalam memainkannya dengan beberapa kelompok yaitu: 1 orang raja, 2 orang dayang, 4 orang hulubalang, 12 padendang, 12 penari , dan 1 orang terdakwa. Karena hanya ditampilkan khusus dilingkungan kerajaan. Para pemeran yang memerankan tarian ini juga lah pilihan raya dan berasal dari kerajaan.
Penari tari toga mulanya dipilih berdasarkan umur yang mana usia 40 akan dianggap lebih dewasa dan lebih matang serta para penari yang dipilih haruslah perempuan. Berbeda dengan sekarang para penari yang dipilih ialah perempuan yang lebih muda karena lebih baik dalam penampilan gerak. Dari 12 penari tersebut akan dibagi menjadi 2 kelompok dan akan bergantian pada pertengahan syair dengan durasi tari 25 menit. Pergantian hanya berlaku kepada penari sedangkan para pemain lainnya akan tetap.
Pesan dan tujuan yang tersirat dalam tari ini akan disampaikan oleh para padendang. Sama halnya dengan tari padendang juga akan dibagi menjadi 2 kelompok. Setiap kelompok akan memiliki ketua dengan tugas sebagai penjawab syair dan bait kelompok sebelah. Anggota dari setiap kelompok berperan sebagai suara pendukung agar syair dan bait yang dijawab dapat indah dan lebih bersuara. Para padendang tari toga mulanya ialah laki-laki namun karena adanya keterbatasan sehingga beralihlah kepada para perempuan.
Sebagai pelengkap sekaligus untuk memperindah dari setiap tarian tentulah memerlukan alunan musik. Tari toga biasanya diperindah oleh alat musik momongan, kenong, gong, canang, dan gandang. Pemilihan alat musik disebabkan oleh masyarakat siguntur yang kerap menggunakan alat musik tersebut. Dalam tari toga terdapat keunikan pada musiknya yaitu para pemain musiknya ialah perempuan dengan beranggotakan 3 orang. Raja yang terdapat dalam tari toga biasanya duduk disinggasana dan menikmati tarian yang ditampilkan. Raja memiliki peran sebagai orang yang ingin dihibur sekaligus sebagai perubah keputusan agar tersangka terbebas dari hukuman mati namun bertugas sebagai pengabdi raja.
Hulubalang dan dayang-dayang yang terdapat dalam tari toga bertugas sebagai pelengkap dan menemani raja yang duduk di singgasana. Hulubalang raja juga terbagi menjadi 4 yaitu panglima sakti, panglima kuning, panglima dalam, dan panglima hitam. Terhukum sebagai pelaku utama dan penyebab munculnya tari toga. Keinginan yang besar agar raja mengubah keputusan dilakukan oleh orang-orang istana. Tari toga sering ditampilkan dalam lingkungan istana dengan tujuan menghibur raja yang bersedih kala itu. Dengan seiring zaman dan telah kerap dimainkan penampilan tari toga berganti yang mulanya di istana hingga ditampilkan dimedan nan bapaneh. Karena membutuhkan waktu yang cukup lama penampilan tari toga bisanya ditampilkan pada malam hari. Tari toga sendiri sering ditampilkan pada acara-acara penting seperti:
- Upacara dalam pencarian jodoh anak raja (mamancang galanggang)
- Upacara perkawinan anak raja
- Upacara penobatan penghulu (pucuk adat)
- Upacara turun mandi kepada cikal bakal yang akan menjadi raja berikutnya (pengganti raja)
- Upacara penobatan raja
Saat masa penjajahan tari toga mulai ditampilkan pada siang hari. Bait dan syair yang terdapat dalam tari toga sering digunakan masyarakat pada kegiatan yang bernama batabo yaitu kegiatan turun ke sawah. Kegiatan batabo lah yang menjadi asal mula tari toga ditampilkan siang karena, masyarakat batabo pada siang hari. Setelah masa penjajahan ini mulailah tari toga ditampilkan pada beberapa acara berupa:
- Upacara penobatan raja
- Upacara memperingati hari-hari besar nasional
- Upacara penobatan gelar sangsako kepada Drs. H. Surya Paloh
- Upacara ulang tahun kabupaten Dharmasraya
- Hingga upacara pertemuan raja-raja se Minangkabau.
Seiring dengan perputaran waktu penampilan tari toga juga lebih efisien sesuai dengan acara yang diadakan.
Contoh syair yang digunakan
1. Pada gerakan masuk
Mandikan anak mandi bagusuak
Mandi bagusuak buah palo
Kami nan banyak mintak ampun
Kami mambuka tambo lamo
2. Pada gerakan memohon
Rami pasa hari akaik
Rami dek anak pulau punjuang
Abih hari dek mupakaik
Sabuah tido nan langsuang