Tradisi Masyarakat Minangkabau Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Oleh : Putri Marselina
Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau, Universitas Andalas.
Bulan suci ramadhan jatuh 1444H jatuh pada tanggal 23 Maret 2023 pada tahun ini. Bulan suci ramadhan adalah bulan sucinya umat islam, dimana setiap tahunnya bulan ini akan selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat yang beragama islam. Pada bulan ini adalah ajang untuk seseorang berlomba-lomba mendapatkan atau mencari pahala, karena pada bulan inilah perbuatan/amalan baik yang dilakukan seseorang akan berlipat ganda pahalaa yang diberikan Allah SWT kepada umatnya. Menjelang bulan ramadhan banyak sekali tradisi-tradisi yang dilakukan untuk menyambut datangnya bulan suci ini setiap tahunnya. Segala masyarakat yang berasal dari penjuru dunia ataupun daerah yang ada di Indonesia sangat bersuka cita dalam menyambut datangnya bulan suci yang penuh berkah ini. Dalam berbagai daerah yang ada di Indonesia pasti berbeda-beda dalam tradisi yang dilakukan menjelang bulan Ramadhan ini, salah satu contohnya pada masyarakat Minangkabau. Masyarakat minangkabau adalah suatu kelompok masyarakat yang tinggal di daerah Sumatera Barat Indonesia. Minangkabau dikenal dengan adat-istiadat serta budaya ataupun tradisinya yang begitu kental dan masih terjaga dengan baik bahkan sampai saat sekarang ini. Dalam menyambut bulan suci ramadhan biasanya mereka (masyarakat minangkabau) melakukan tradisi-tradisi yang sudah biasa dilakukan oleh nenek moyang mereka dahulu pada setiap tahunnya. Masyarakat minang melakukan tradisi ini bukan semata-mata hanya untuk menyambut bulan suci ramadhan, tetapi mereka melakukan tradisi ini setiap tahunnya juga berguna untuk mengenalkan kepada anak-cucunya adat-istiadat budaya minangkabau, agar hal tersebut bisa menjadi kebiasaan dan berguna pula agar adat-istiadat yang adat di minangkabau tidak hilang atau pudar sesuai dengan perkembangan zaman di arus era globalisasi ini.
Ada beragam tardisi yang dilakukan/dilaksanakan oleh masyarakat Minang. Tradisi-tradisi tersebut dari dahulu bahkan hingga saat ini masih selalu dilakukan dan terpelihara sehingga bisa dijumpai di daerah-daerah yang ada di Sumatera Barat. Berikut ada beberapa tradisi yang dilakukan masyarakat Minangkabau menjelang ramadhan :
1. Berziarah
Tradisi berziarah ke makam merupakan tradisi yang bisa dikatakan paling sering dilakukan oleh masyarakat minang, bahkan semua umat muslim menjelang ramadhan. Tradisi ini tidak hanya dilakukan jika menyambut bulan ramadhan saja, tetapi berziarah dapat dilakukan setiap harinya. Berziarah dapat menjadi tradisi jelang ramadhan karena dikatakan bahwa berziarah ke makam keluarga, kerabat atau sanak family merupakan kegiatan yang juga dianjurkan oleh agama agar semua umat manusia tidak pernah lupa dan akan selalu mengingat bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara. Berziarah dilakukan untuk mendoaakan keluarga, karib-kerabat, sanak family atau orang yang sudah meninggal agar dosanya selama di dunia terampuni, dilapangkan kuburnya dan mendoakan kebaikan lainnya untuk si mayat. Pada saat berziarah ke makam biasanya akan membawa bunga serta air untuk ditaburkan ke makam dan untuk menutupnya meminta maaf lahir dan batin kepada keluarga yang sudah meninggal dan mmebacakan doa untuk si mayat.
2. Manjalang Mintuo
Mintuo adalah keluarga dari pihak suami atau keluarga dari pihak istri. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh masyarakat minang sebagai seuatu bentuk simbol keakraban kedua belah pihak dari keluarga laki-laki ataupun perempuan yang telah melangsungkan pernikahan. Ketika pasangan suami istri yang sudah menikah hendak melakukan tradisi ini, maka sebelum mereka pergi ke rumah keluarga/mintuo hendaklah mereka harus membawa buah tangan berupa lamang tapai dan selanjutnya meminta maaf lahir dan batin kepada keluarga kedua belah pihak.
3. Malamang
Tradisi malamang dilakukan secara bersama-sama antar suatu keluarga, tujuan tradisi ini dilakukan secara bersama-sama adalah sebagai sarana yang bertujuan untuk mengumpulkan anggota keluarga guna agar mempererat tali silahturahmi antar anggota keluarga. Lamang adalah makanan yang terbuat dari gabungan antara beras ketan putih dan santan yang kemudian dimasukkan ke bambu dan di bakar. Alasan digunakannya bambu ini agar cita rasa dari lemang tersebut akan lebih enak dan gurih, kemudian bambu ini digunakan agar dijadikan simbol saat diselenggarakannya acara peringatan Maulid Nabi. Lamang yang sudah siap ini kemudian ditambahkan tapai untuk memakannya secara bersamaan. Lamang tapai inilah yang akan dibawa ketika melakukan acara atau tradisi Manjalang Mintuo.
4. Doa bersama dan Makan Bajamba.
Tradisi ini dilakukan secara bersama-sama dengan anggota keluarga atau bisa juga dilakukan oleh masyarakat di mesjid. Biasanya makan bajamba ini dilakukan dengan meletakkan dan menyusun nasi serta lauk pauk di atas daun pisang secara memanjang, tetapi bisa juga makan bersama dengan menggunakan piring. Setelah dilakukannya makan bersama maka akan dilanjutkan dengan kegiatan yang diisi oleh ceramah ustad atau ulama terkait penyambutan bulan ramadhan dan dilanjutkan dengan doa bersama serta penutupnya adalah saling bermaaf-maafan baik sesame keluarga ataupun tetangga.
5. Membersihkan Masjid.
Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh warga yang tinggal disekitar masjid dan mereka akan bergotong royong untuk membersihkan masjid sebagai tempat ibadah agar siap dipakai dalam keaadan bersih selama bulan ramdahan dan idul fitri nanti.
5. Balimau
Balimau merupakan tradisi berupa mandi dengan menggunakan jeruk nipis. Dalam melakukan tradisi balimau ini masyarakat minangkabau biasanya melaksanakannya di sungai. Selain jeruk nipis biasanya ketika hendak mandi maka air tersebut dicampurkan dengan irisan jeruk nipis dana aneka ragam bunga seperti bunga kenanga, daun pandan, dan akar tanaman gambelu. Balimau ini dilakukan dengan tujuan untuk mensucikan diri dan siap menyambut bulan suci ramadhan. Kegiatan balimau ini biasanya dilakukan 2/1 hari sebelum bulan ramdahan.
6. Maniliak Bulan
Maniliak Bulan atau dalam bahasa Indonesianya adalah Melihat Bulan. Tradisi atau kegiatan ini akan rutin dilakukan setiap tahunnya. Kegiatan ini dilakukan secara langsung dengan kedua mata tanpa adanya perantara alat apapun. Kegiatan ini dilakukan untuk menentukan waktu yang tepat atau jatuhnya tanggal masuknya bulan suci ramadhan. Kegiatan ini biasanya dilakukan atau dilaksanakan di daerah Ulakan Tapakih, Kabupaten Padang Pariaman. Maniliak bulan ini dilaksanakan pada bulan Syaban.